MENAPAKTILASI USIA
(KEJUTAN, TIM, & KITA)
“Ibu….diam!” dari belakang tubuhku dipeluk, bel
um sempat
aku menengok ke belakang, mataku tiba-tiba tertutup kain hitam. Aku sangat
mengenal suara orang itu. Perempuan belia yang datang seolah hendak menculikku
di keramaian pusat perbelanjaan ini.
“Ibu, ayo jalan pegang tangan
saya, jangan khawatir!” perempuan itu berbisik. Aku berdiri, tangan ini menggenggam
erat tangannya. Bingung dan khawatir membuat kerja jantungku keras berdetak.
Apa yang diinginkan perempuan belia ini? pikirku.
“Ibu, kuat sekali menggenggam
tanganku, jangan khawatir. Maafkan saya Bu, kami terpaksa melakukan ini. Hanya
sebentar saja, sabar ya Bu!” dalam bisikan yang masih lembut, seolah tahu aku
begitu ketakutan. Rencana apa yang diperbuatnya untukku. Telinga ini hanya
mampu menyampaikan ke otak riuhnya orang berlalu lalang. Otakku mendeskripsikan
orang-orang yang berlalu lalang di pusat perbelanjaan ini memandang kami aneh.
“Kita akan naik lift, sabar ya
Bu, maafkan saya, beberapa menit saja.” Sontak aku berjalan mundur. Aku katakan
padanya aku takut naik lift dengan mata tertutup seperti ini. Ah, biasanya aku
melakukan ini pada siswa-siswaku saat pelatihan dan pengkaderan. Kini, aku yang
diberlakukan seperti ini. Baru menyadari bagaimana rasanya berjalan dengan mata
tertutup.
Kurasakan perempuan belia ini
begitu menjagaku. Dia berusaha menjaga tubuhku dari himpitan orang-orang yang
keluar masuk lift. Kerap dia memelukku agar tubuhku tidak tersentuh oleh
orang-orang yang tak kulihat. Aku merasakan dia tidak sendirian. Dalam mata
tertutup ini, indera pendengaranku terasa begitu peka. Bisikan begitu halus
pada temannya aku bisa dengar. Perempuan belia itu memberi kode untuk menekan
tombol.
“Bu, satu lantai lagi kita tiba.
Ibu kenapa diam saja?” perempuan belia itu kembali membisikkan pertanyaannya
padaku. Kepalaku sedang menduga-duga apa yang akan mereka lakukan berikutnya.
Perempuan belia ini sedang memberikan kejutan untukku. Bersit perasangka buruk
sempat muncul. Akankah dia akan menggoyak kepalaku dengan tepung dan telur? Ah,
kejutan tak berkelas, kekanak-kanakkan dan tidak cerdas. Tapi, kemudian aku
menafikkannya. Tak mungkin mereka membuat kejutan seperti itu. Aku tahu betul
perempuan belia itu, begitu pula rekannya. Hanya saja aku tak mampu menerka
kejutan macam apa yang mereka perbuat untukku.
“Aha, Bu, akhirnya kita sudah
sampai.” Perempuan belia itu tetap menuntunku. Tubuhku dalam dekapannya. Dia
menghitung langkah kami. Aku begitu ingat, sepuluh langkah, kemudian dia
memintaku berhenti. Perempuan belia itu memintaku untuk tetap menatap ke depan
saat kain hitam penutup mataku dilepas.
“Ibu, boleh menengok ketika saya
berhitung dalam hitungan mundur ya!”
ujar perempuan belia itu seraya melepaskan ikatan penutup mataku. Aku
seperti orang buta yang baru selesai operasi netra. Aku merasakan berada di
lantai paling atas. Desiran angin yang menerpa tubuh ini memperkuat dugaan.
Mata ini perlahan membuka, gambar yang mengabur perlahan membentuk bayangan,
semakin lama semakin nampak jelas. Benar, aku di lantai paling atas sebuah
gedung pusat perbelanjaan. Aku tatap, jajaran kendaraan, deretan rumah yang
membentuk seperti miniatur. Perempuan belia itu menghitung mundur, sampai
akhirnya hitungan satu aku membalikkan tubuhku ke belakang.
Dua orang perempuan belia dengan
senyum manisnya mendekatiku. Membawa cake
kecil, di atasnya ada satu lilin. Mereka menembang sebuah lagu yang kerap
kutuliskan liriknya pada saat mereka belajar majas. Tembang milik Andra And The
Backbone ‘Sempurna’.
Kau begitu sempurna, di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku, akan selalu memujamu*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Di setiap langkahku
Ku kan selalu memikirkan dirimu
Tak bisa ku bayangkan
Hidupku tanpa cintamu
janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Aku benar-benar mendapat kejutan
istimewa. Begitu istimewa dari dua perempuan belia yang begitu luar biasa. Aku
tak mampu berkata-kata ketika salah satu perempuan belia yang biasa dipanggil
Kakak menyampaikan sesuatu. “Ibu, maafkan aku karena di saat hari jadimu sama
sekali tak memberi selamat baik lewat sms maupun lewat media sosial. Karena aku
akan memberikan kejutan hari ini. Kami berhasil Bu! Perempuan belia itu
bersorak. Kerongkonganku masih tercekat.
Satu lagi perempuan belia yang
biasa disapa Adik, menghampiriku. Belum berkata-berkata, di bibirnya
tersungging senyuman. Mata indahnya, sontak membuat kaca-kaca di mata membentuk
butiran bening di sudut mata ini. Aku hapus butiran bening dengan sudut jemari.
“Ibu, kami sengaja memasang lilin
yang bertuliskan tiga, tanpa ada angka yang mengikuti di belakang angka tiga
ini. Tahukah Ibu? karena kita hanya bertiga. Ibu, kakak, dan adik. Three Angels,
biasa Ibu menyebutkannya. Lilin kemudian dinyalakan, aku diminta meniupnya. Kemudian
kami hidupkan lagi dan kami bertiga meniupnya.
Emosiku tak terbendung tapi Sang
Adik nampaknya paham. Dia netralisir keadaan dengan mengajak kami shalat Ashar.
Ketika semua sudah berjalan seperti semula, kami pun melanjutkan rencana yang
sudah teragendakan.
Taman Ismail Marzuki adalah
tempat yang akan kami tuju. Aku berencana mendaftarkan dua putriku ini
mengikuti lomba puisi. Salah satu teman mengabarkan kalau ada lomba membaca
puisi dalam rangka ulang tahun Putu Wijaya.
Perjalanan indah kedua bagi kami
setelah pantai itu. Aku ikuti dua perempuan belia itu. Perjalanan kali ini
membuat memori ini kembali ke setiap sudut tahun-tahun lalu. Selalu saja ada
cerita di tiap pertambahan bilangan usia. Kadang dalam bentuk kejutan atau
hanya kumpul-kumpul bersama teman-teman.
Tahun ini, dipertambahan bilangan
usia ini, aku tidak membayangkan bahkan tidak menginginkan orang-orang
mengingatnya. Entahlah, aku begitu ketakutan. Aku berharap tak ada yang
istimewa di tanggal itu. Biarkan hari itu mengalir seperti hari-hari yang lain.
Berdoa semoga orang-orang di sekitarku terlupa bahkan dilupakan.
Bulan ini, di hari itu aku ingin
sang waktu sejenak berhenti bukan untuk menyelesaikan kehidupan. Aku hanya
berharap sang waktu sedikit bertoleransi mengurangi jatah hidupku di dunia ini.
Alam khayaliku pun serentak meminta sang waktu melemparkan jiwa ini ke alam
lampau.
Demi masa… hanya itulah yang
akhirnya mampu menyadarkanku. Waktu bukan tidak ingin bertoleransi padaku.
Bukankah Tuhan sudah menyampaikan? Layakkah aku menyesal? Bahkan menyalahkan
waktu yang begitu patuh pada-Nya.
Demi masa. Sesungguhnya manusia
berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan
kebaikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk
kesabaran. Tuhan sudah begitu jelas menyampaikan. Kembali aku harus garis
bawahi kata kesabaran. Salah satunya adalah harus berdamai dengan sang waktu.
Walaupun tetap berharap semoga hari itu tidak ada kejadian aneh.
Hari itu tiba, aku bernapas lega.
Semua berjalan seperti biasa, tak terjadi apa-apa. Aku isi kegiatan di hari itu
dengan mengawas siswa kelas XII yang sedang ujian sekolah. Sampai akhirnya
salah satu teman mengajar memelukku seraya berkata, “Selamat ya… semoga Allah
mengabulkan doamu!”
Teman-teman yang melihat kemudian
satu persatu menyalami, memberi ucapan dan doa. Harapan dan doa yang sama, mereka
sampaikan. Aku aminkan setiap doa dan harap teman-teman. Waktu, terima kasih
layak tersemat untukmu. Haru yang tak
dapat terdeskripsikan kala untaian doa dan harap terangkai dari orang-orang
yang peduli dan sayang padaku.
Kejutan hari itu meninggalkan
sepenggal kisah di sisa usia. Membawa langkahku menapaki perjalanan usia.
Membuka kisah masa kecilku yang tak diperkenalkan dengan tradisi ulang tahun. Ulang
tahun asing bagiku. Ulang tahun hanya milik teman-temanku. Aku bahkan tak
pernah tahu tanggal lahirku sampai menjejak bangku sekolah dasar.
Terekam jelas saat itu, aku sudah
duduk di kelas lima. Senja menerpa gedung sekolah berlantai dua. Di halamannya
berbaris rapi wajah-wajah polos. Mereka berseragam coklat tua dan coklat muda
lengkap dengan perlengkapan topi dari anyaman bambu, belati kecil yang terselip
diikat pinggang serta gulungan tali putih. Aku, ada dalam barisan itu.
Kakak-kakak kelas mengatakan kami akan dilantik.
Di depan kami Bapak dan Ibu guru
serta kakak-kakak Pembina berjajar. Seperti biasa, sebelum upacara kami
disiapkan agar barisan rapi. Seorang guru perempuan dengan wajah tegas dan
suara nan lantang menyiapkan kami. Upacara berlangsung khidmat. Sampai di
penghujung upacara tanpa dinyana sang Ibu guru berwajah tegas dan bersuara nan
lantang itu tiba-tiba berdiri di podium. Kami dianggap tidak disiplin. Kami
akan dihukum karena ketidaksiplinan kami ketika mengikuti upacara. Sontak, beberapa
nama dipanggil, salah satunya adalah aku.
Rasa takut dan bingung
menyelimuti langkahku. Aku tetap mematung di barisan depan dan tak bergeming ke
depan. Suara nan lantang kembali memanggilku. Teman-teman menepuk bahuku. Saat
itu jantungku seolah ingin lepas. Tubuh mungil ini tergetar melangkah ke depan.
Seingatku tiga orang yang maju. Salah satu yang dipanggil sudah menangis. Aku
hanya menunduk diam, tidak menangis, namun tidak mampu berkata.
Apa kesalahanku? Hanya itu yang
mampu kukatakan dalam hati. Ibu guru berwajah tegas dengan suara nan lantang
itu mendekatiku. Aku semakin tertunduk kaku. Tanganku gemetar ketika beliau
mengulurkan gulungan kertas yang katanya berisi catatan-catatan kesalahan.
Kami, diminta membaca dengan lantang catatan kesalahan itu. Teman-teman yang
berbaris diperintah berhitung. Dalam hitungan ketiga, kami buka gulungan kertas
dan membacanya.
“HARI INI KAMI BERULANG TAHUN,
DOAKAN SEMOGA KAMI MENJADI ANAK YANG BERGUNA BAGI NUSA, BANGSA, DAN AGAMA”
Riuh barisan serentak menyanyikan
“Selamat Ulang Tahun”. Guru-guru menghampiri kami, dimulai dari ibu kepala.
Saat itulah baru aku tahu tanggal lahirku. Kejutan pertama dan begitu
mengesankan. kejutan yang
memperkenalkanku dengan kata ulang tahun.
Walaupun untuk tahun-tahun berikutnya tanggal lahirku berjalan seperti
biasa.
Saat menginjak remaja, tanggal
lahir biasa dirayakan dengan memecahkan telur di atas kepala dan membalurinya
dengan tepung. Aku sempat mendapat perlakuan itu. Namun, kejadian itu tidak
terulang lagi di tahun-tahun berikutnya. Ibuku memarahi tindakan teman-teman.
Aku dilarang melakukan tindakan seperti itu. Mubazir kata ibu. Kalau mau
merayakan ulang tahun mengapa telur dan tepungnya tidak dibuat panganan saja
sehingga bisa kita santap bersama. Patuh kuturuti pesan ibu, dan tak berani aku
melemparkan atau memecahkan telur ke kepala teman. Aku hanya ikut tertawa saja.
Sejak kejadian kertas bergulung
kesalahan itu, aku tahu tanggal lahirku. Namun, aku tak begitu peduli
merayakannya. Ketika usiaku beranjak tujuh belas tahun tak ada perayaan apa
pun, terlewati begitu saja. Kala tiap remaja mengidamkan usia itu dirayakan
dengan istilah “sweet seventeen” aku tidak pernah meminta dan merajuk
dirayakan. Kami sudah terbiasa untuk tidak merayakan tanggal lahir.
Bukan berarti tujuh belas tak
meninggalkan cerita. Saat usiaku beranjak tujuh belas tahun seseorang
memberikan es cream dan coklat. Laki-laki itu adalah teman kecilku. Teman
bermain petak umpet, kelereng, bentengan dan beragam jenis mainan lainnya.
Teman kecil yang mengatakan menyukaiku sejak aku memakai seragam biru. Teman
kecil yang selalu saja kutertawakan jika berkata suka. Teman kecil yang sempat
menemaniku menapaki masa remaja. Teman kecil yang rela bertahun-tahun
menungguiku meraih cita di luar kota. Teman kecil yang akhirnya melangkah
mundur karena merasa tak mampu mengiringi langkah kakiku yang waktu itu berkata
tak ingin terikat.
Perjalanan usiaku berikutnya aku
lampaui di kota Gudeg. Di kota itulah mulai ada tradisi memberikan hadiah. Sahabat
yang selalu ingat dan memberikan hadiah istimewa adalah gadis cantik yang besar
di salah satu kota di Jawa Barat. Sahabat, ingatkah dirimu pertama kalinya kita
menapaki bioskop di kota itu. Film fenomenal yang dibintangi Dian Sastro dan
Nicholas Saputra. Setelah menonton film itu, tiba-tiba kamu memelukku dan
mengucapkan selamat. Aku tidak ingat bahwa itu tanggal lahirku.
Berikutnya kita menonton dan
mungkin itu terakhir kali kamu menemaniku di kota Gudeg. Film 30 hari Mencari
Cinta yang kita tonton. Kami tertawa menyaksikan kekonyolan tiga perempuan
jomblo yang ingin berusaha menemukan tambatan hatinya. Kala itu, setelah
menonton kamu memelukku seraya mengucapkan selamat sekaligus berpamitan kembali
ke kotamu. Kamu berhasil menyelesaikan mimpimu di kota gudeg itu. Saat itu aku
masih terseok dengan data-data.
Kembali, aku tapaki pertambahan
bilangan usia tanpa perayaan. Sampai akhirnya aku kembali ke kota kelahiranku.
Bekerja menjadi seorang pengajar. Sejak bekerja itulah tradisi perayaan mulai
terbentuk. Kejutan dari murid-murid, teman-teman, hadiah-hadiah, dan traktiran.
Walaupun tetap jika di rumah tak pernah ada perayaan.
Beberapa perayaan kuingat,namun
ada beberapa kejutan yang terekam kuat dan menjadi kenangan terindah. Kenangan
yang membingkai sisa usiaku tentu saja. Kejutan kertas bergulung catatan
kesalahan, kejutan dimarahi kepala sekolah dan teman-teman ketika menjadi
panitia ujian. Kejutan murid-muridku yang justru membuat mereka terkejut-kejut
menantiku di rumah. Dan kejutan bulan ini tahun ini, kejutan istimewa dari dua
perempuan belia.
Kejutan yang mengiringi
langkahku, kamu, dan dia ke Taman Ismail Marzuki. Kejutan yang dilakukan justru
tidak di tanggal lahirku. Kejutan yang kalian berikan dua hari setelah tanggal
itu. Kejutan di malam minggu. Ketika sebagian remaja berkencan atau gelisah
merutuki nasibnya yang tidak punya pacar. Kita bertiga justru tidak memikirkan
hal itu.
“Akhirnya Bu, saya bisa ke TIM?”
gumam satu perempuan belia yang biasa disapa Kakak. Aku hanya mengangguk dan
tersenyum. Disela kebahagiaannya Sang Kakak masih sempat menyampaikan bahwa
sesuatu untukku akan menyusul. Andai dua perempuan belia itu tahu isi hati ini.
Tak ada bersit lintasan hadiah dari kalian. Karena kehadiran kalian merupakan
hadiah istimewa untukku. Mengutip lirik salah satu lagu “Anugrah terindah yang
pernah kumiliki”.
Sang Adik berjalan dengan
keceriaannya. Kakak berteriak, meminta Adik menghentikan racun padanya. Aku
hanya mampu menggeleng dan tersenyum. “Bu, tahu gak kenapa dari tadi Ade ketawa
terus?” Aku menjawab dengan gelengan.
Kakak menjelaskan, “gini loh Bu,
tadi di Kopaja kita tuh ditanya sama keneknya. Mau turun mana? Aku dan Adik
serempak menjawab ‘TIM’.”
Adik menambahkan, “Dan, si kenek
tanya lagi Bu. Terus kita kompak jawabnya.”
“Emang keneknya tanya apa?”
tanyaku.
Kakak menjawab, “keneknya tanya
begini Bu. Kalian kakak beradik ya? Serempak kami jawab ya! Dan keneknya
ngomong begini, percaya deh, kompak banget sih. Terus Bapaknya sama kan?”
“Lantas apa jawaban kalian?”
tanyaku lagi.
“Kami hanya berpandangan,
kemudian tertawa geli,” jawab Adik. Kemudian celotehan dari kakak muncul, bahwa
mereka itu dilahirkan dari orang tua yang berbeda. Tapi dipersatukan oleh satu
ibu yang sama,menjadi bersaudara, adik kakak.
“Ibu yang mempertemukan kami
dalam ikatan persaudaraan ini!”
Senja itu, perjalanan kita dan
TIM mengajarkanku banyak hal. Mencintai, persaudaraan, seni, semangat dan
mimpi. Salah satu pelajaran yang kita dapatkan saat itu adalah obrolan dengan
salah satu pedagang klontong. Saat pedagang itu bercerita kami melihat pancaran
kebahagiaan.
“Bapak enggak aneh ya melihat
orang-orang itu? aku tunjukkan dengan kepala sekumpulan laki-laki yang
duduk-duduk di depang gapura TIM. Pedagang itu mengatakan hal itu bukanlah
pemandangan aneh buatnya. Banyak hal yang lebih gila yang pernah dia lihat
selama berdagang di sini. Dia contohkan tingkah laku mahasiswa-mahasiswa IKJ
atau pelaku seni di tempat ini. kita bertiga melihatnya dengan tawa. Pedagang
yang teracuni oleh pelaku seni dan mahasiswa seni.
“Lah, Nona-nona ini mau bukannya
ke Monas? kan ada Iwan Fals?” pedagang bertanya pada kami.
Aku menjawab, “Oh, sekarang ya
Pak? Bukan besok hari Minggu? Ini lagi ada perlu.”
“Uda, percaya enggak kami kakak
beradik?” pertanyaan terlontar dari Kakak. Pedagang itu mengamati dua perempuan
belia, kemudian menggeleng.
“Emang gak mirip ya Bang?
Perhatiin lagi deh Bang. Mereka itu adik kakak, saya ibunya.” Pedagang itu
kembali mengamati kami bertiga. Dia mengatakan kalau aku dan kakak mirip, layak
disebut ibu dan anak. Adik tetap dianggap berbeda. Aku menjelaskan kalau kita
bertiga itu mirip, sama-sama manis.
“Iya lah Pak, aku beda sama
Kakak, karena kita kan lain Bapak.” Kakak mulai membangun cerita fiksi, aku pun
membantu. Kukatakan kalau Adik berayah Minang, sedangkan Kakak ditebak oleh
pedagang lahir berayah Sunda. Kami kembali tertawa. Pedagang itu menanyakan
maksud kedatangan kami bertiga. Kembali lagi dengan cerita fiksi kukatakan
kalau mereka ingin kuliah di IKJ, jadi mereka akan survei lokasi.
Pedagang itu kembali bercerita
tentang TIM, yang disebutnya sebagai satu-satunya taman di pusat kota yang
geliat seninya begitu tinggi. Dia sampaikan pada kami wacana atau pembicaraan
orang-orang di tempat ini berkutat pada seni, kehidupan masyarakat terpinggirkan,
dan bahagia. Tidak ada rusuh masalah duit, mereka bahagia dan hidup dengan seni
yang mereka geluti.
Kami seperti mahasiswa baru yang
sedang mengalami masa orientasi. Mendengarkan cerita dengan saksama, kadangkala
diselingi anggukan. Pedagang itu juga memberikan pesan kepada dua perempuan
belia putriku. Mereka boleh mengembangkan kreativitas seni, menjadi gila karena
seni, namun tetap menjadi mereka yang seperti ini, menjadi muslimah, perempuan
solehah, ujarnya.
Pedagang itu menambahkan tidak
heran kalau orang-orang di sini awet muda.
Dia menunjuk salah satu seniman yang duduk-duduk di gapura. Rambutnya
sudah memutih, tapi penampilan dan wajahnya tetap muda. Kami mengangguk entah
menyetujui atau meragukan ucapan pedagang itu.
TIM, senja ini mengajarkan kami
tentang seni, kebahagiaan, kebersahajaan, dan mungkin konsep awet muda. Di
tempat ini pula kita (aku, kamu, dan dia) berdiskusi tentang konsep cantik.
Dimulai dari Adik yang berangan-angan berkulit putih.
“De, dengerin kakak ya… kalau ada
laki-laki yang melihatmu dan menatap matamu, bodoh kalau dia tidak tergoda
untuk memilikimu. Kamu punya mata yang indah.” Adik nampak malu-malu tersipu.
Aku menyetujui ucapan Kakak. Kukatakan Adik itu kalau ke luar negeri banyak
yang mau menikahinya.
“Ibu, sejak kecil enggak pernah
menyesal punya kulit coklat mungkin cenderung gelap. Cantik itu jadi diri
sendiri De!” Masalah kulit coklat atau
sawo matang cenderung gelap akhirnya membuat kami berdiskusi tentang konsep cantik.
Memunculkan kesamaan pandangan bahwa cantik itu subjektif mungkin relatif.
Iklan atau mungkin media massa yang membuat orang membentuk opini bersama
tentang cantik.
Sampai pada kesimpulan diskusi
kami, bahwa kami bertiga memang tidak cantik. Kita adalah tiga gadis manis.
Adik yang manis dan semakin menarik dengan mata indah, keriangan, kelincahan,
dan pastinya cerdas. Adik bagi aku dan Kakak adalah istimewa, multitalenta kami
menyebutnya. Kakak, yang manis dengan alisnya yang indah, ketenangan,
kekritisannya, dan tentu juga cerdas. Kakak yang dijuluki oleh salah satu
temanku, sebagai titisan perempuan belia 100 tahun silam. Perempuan belia yang
asupan bacaannya banyak. Sastra dan filsafat adalah salah satu bacaan yang
biasa. Aku setuju dengan pendapatmu
teman.
Malam merayapi TIM, kami pun bergegas
kembali. Namun, kepulangan kami tidak mengakhiri kisah kita. Malam ini kejutan
istimewa diakhiri di sebuah kamar yang tidak besar. Perempuan belia yang kami
sapa Kakak memutuskan menginap. Kembali kami mashyuk berbagi kisah. Malam itu,
perempuan belia itu mengajakku menapaki masa-masa aku berproses di kota Gudeg.
Kubongkar semua catatan dan buku-buku yang pernah kubaca. Dengan kalap
perempuan belia itu mengambil enam buku.
Sepenggal kisah dalam
menapaktilasi perjalanan usiaku ini, mungkin tak bisa terangkai semua. Hanya
saja jelang kami lelap, dua perempuan belia itu menyadarkanku untuk kembali
berani bermimpi. Mereka menyulut semangatku. Usia semestinya tak menghalangiku
untuk bercita-cita. Aku yang sempat takut memilin mimpi, kini mencoba mengambil
benang-benang harapan. Memilin, merajut, untuk langkah ke depan. Malam, itu
kita mematri mimpi, mimpi besar kita adalah memberi pengaruh kepada yang lain.
Seperti kutipan firman Tuhan yang kukutip di kisah awal, “Demi masa.
Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman
dan mengerjakan kebaikan serta saling
menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
(Kicauan, mungkin tak terpahami,
karena aku pun sedang merenung utk memahami tulisan ini)
