Senin, 17 Maret 2014

fiksi nonfiksi sepenggal kisah di sisa usia



MENAPAKTILASI USIA (KEJUTAN, TIM, & KITA)



“Ibu….diam!”  dari belakang tubuhku dipeluk, bel
um sempat aku menengok ke belakang, mataku tiba-tiba tertutup kain hitam. Aku sangat mengenal suara orang itu. Perempuan belia yang datang seolah hendak menculikku di keramaian pusat perbelanjaan ini.


 

“Ibu, ayo jalan pegang tangan saya, jangan khawatir!” perempuan itu berbisik. Aku berdiri, tangan ini menggenggam erat tangannya. Bingung dan khawatir membuat kerja jantungku keras berdetak. Apa yang diinginkan perempuan belia ini? pikirku. 

“Ibu, kuat sekali menggenggam tanganku, jangan khawatir. Maafkan saya Bu, kami terpaksa melakukan ini. Hanya sebentar saja, sabar ya Bu!” dalam bisikan yang masih lembut, seolah tahu aku begitu ketakutan. Rencana apa yang diperbuatnya untukku. Telinga ini hanya mampu menyampaikan ke otak riuhnya orang berlalu lalang. Otakku mendeskripsikan orang-orang yang berlalu lalang di pusat perbelanjaan ini memandang kami aneh. 

“Kita akan naik lift, sabar ya Bu, maafkan saya, beberapa menit saja.” Sontak aku berjalan mundur. Aku katakan padanya aku takut naik lift dengan mata tertutup seperti ini. Ah, biasanya aku melakukan ini pada siswa-siswaku saat pelatihan dan pengkaderan. Kini, aku yang diberlakukan seperti ini. Baru menyadari bagaimana rasanya berjalan dengan mata tertutup. 

Kurasakan perempuan belia ini begitu menjagaku. Dia berusaha menjaga tubuhku dari himpitan orang-orang yang keluar masuk lift. Kerap dia memelukku agar tubuhku tidak tersentuh oleh orang-orang yang tak kulihat. Aku merasakan dia tidak sendirian. Dalam mata tertutup ini, indera pendengaranku terasa begitu peka. Bisikan begitu halus pada temannya aku bisa dengar. Perempuan belia itu memberi kode untuk menekan tombol. 

“Bu, satu lantai lagi kita tiba. Ibu kenapa diam saja?” perempuan belia itu kembali membisikkan pertanyaannya padaku. Kepalaku sedang menduga-duga apa yang akan mereka lakukan berikutnya. Perempuan belia ini sedang memberikan kejutan untukku. Bersit perasangka buruk sempat muncul. Akankah dia akan menggoyak kepalaku dengan tepung dan telur? Ah, kejutan tak berkelas, kekanak-kanakkan dan tidak cerdas. Tapi, kemudian aku menafikkannya. Tak mungkin mereka membuat kejutan seperti itu. Aku tahu betul perempuan belia itu, begitu pula rekannya. Hanya saja aku tak mampu menerka kejutan macam apa yang mereka perbuat untukku.


Aha, Bu, akhirnya kita sudah sampai.” Perempuan belia itu tetap menuntunku. Tubuhku dalam dekapannya. Dia menghitung langkah kami. Aku begitu ingat, sepuluh langkah, kemudian dia memintaku berhenti. Perempuan belia itu memintaku untuk tetap menatap ke depan saat kain hitam penutup mataku dilepas.

“Ibu, boleh menengok ketika saya berhitung dalam hitungan mundur ya!”  ujar perempuan belia itu seraya melepaskan ikatan penutup mataku. Aku seperti orang buta yang baru selesai operasi netra. Aku merasakan berada di lantai paling atas. Desiran angin yang menerpa tubuh ini memperkuat dugaan. Mata ini perlahan membuka, gambar yang mengabur perlahan membentuk bayangan, semakin lama semakin nampak jelas. Benar, aku di lantai paling atas sebuah gedung pusat perbelanjaan. Aku tatap, jajaran kendaraan, deretan rumah yang membentuk seperti miniatur. Perempuan belia itu menghitung mundur, sampai akhirnya hitungan satu aku membalikkan tubuhku ke belakang.

Dua orang perempuan belia dengan senyum manisnya mendekatiku. Membawa cake kecil, di atasnya ada satu lilin. Mereka menembang sebuah lagu yang kerap kutuliskan liriknya pada saat mereka belajar majas. Tembang milik Andra And The Backbone ‘Sempurna’.

Kau begitu sempurna, di mataku kau begitu indah 
Kau membuat diriku, akan selalu memujamu
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Di setiap langkahku
Ku kan selalu memikirkan dirimu
Tak bisa ku bayangkan
Hidupku tanpa cintamu


janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa



Aku benar-benar mendapat kejutan istimewa. Begitu istimewa dari dua perempuan belia yang begitu luar biasa. Aku tak mampu berkata-kata ketika salah satu perempuan belia yang biasa dipanggil Kakak menyampaikan sesuatu. “Ibu, maafkan aku karena di saat hari jadimu sama sekali tak memberi selamat baik lewat sms maupun lewat media sosial. Karena aku akan memberikan kejutan hari ini. Kami berhasil Bu! Perempuan belia itu bersorak. Kerongkonganku masih tercekat. 

Satu lagi perempuan belia yang biasa disapa Adik, menghampiriku. Belum berkata-berkata, di bibirnya tersungging senyuman. Mata indahnya, sontak membuat kaca-kaca di mata membentuk butiran bening di sudut mata ini. Aku hapus butiran bening dengan sudut jemari.
“Ibu, kami sengaja memasang lilin yang bertuliskan tiga, tanpa ada angka yang mengikuti di belakang angka tiga ini. Tahukah Ibu? karena kita hanya bertiga. Ibu, kakak, dan adik. Three Angels, biasa Ibu menyebutkannya. Lilin kemudian dinyalakan, aku diminta meniupnya. Kemudian kami hidupkan lagi dan kami bertiga meniupnya.

Emosiku tak terbendung tapi Sang Adik nampaknya paham. Dia netralisir keadaan dengan mengajak kami shalat Ashar. Ketika semua sudah berjalan seperti semula, kami pun melanjutkan rencana yang sudah teragendakan.  

Taman Ismail Marzuki adalah tempat yang akan kami tuju. Aku berencana mendaftarkan dua putriku ini mengikuti lomba puisi. Salah satu teman mengabarkan kalau ada lomba membaca puisi dalam rangka ulang tahun Putu Wijaya. 

Perjalanan indah kedua bagi kami setelah pantai itu. Aku ikuti dua perempuan belia itu. Perjalanan kali ini membuat memori ini kembali ke setiap sudut tahun-tahun lalu. Selalu saja ada cerita di tiap pertambahan bilangan usia. Kadang dalam bentuk kejutan atau hanya kumpul-kumpul bersama teman-teman.
Tahun ini, dipertambahan bilangan usia ini, aku tidak membayangkan bahkan tidak menginginkan orang-orang mengingatnya. Entahlah, aku begitu ketakutan. Aku berharap tak ada yang istimewa di tanggal itu. Biarkan hari itu mengalir seperti hari-hari yang lain. Berdoa semoga orang-orang di sekitarku terlupa bahkan dilupakan. 

Bulan ini, di hari itu aku ingin sang waktu sejenak berhenti bukan untuk menyelesaikan kehidupan. Aku hanya berharap sang waktu sedikit bertoleransi mengurangi jatah hidupku di dunia ini. Alam khayaliku pun serentak meminta sang waktu melemparkan jiwa ini ke alam lampau. 

Demi masa… hanya itulah yang akhirnya mampu menyadarkanku. Waktu bukan tidak ingin bertoleransi padaku. Bukankah Tuhan sudah menyampaikan? Layakkah aku menyesal? Bahkan menyalahkan waktu yang begitu patuh pada-Nya. 

Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. Tuhan sudah begitu jelas menyampaikan. Kembali aku harus garis bawahi kata kesabaran. Salah satunya adalah harus berdamai dengan sang waktu. Walaupun tetap berharap semoga hari itu tidak ada kejadian aneh.
Hari itu tiba, aku bernapas lega. Semua berjalan seperti biasa, tak terjadi apa-apa. Aku isi kegiatan di hari itu dengan mengawas siswa kelas XII yang sedang ujian sekolah. Sampai akhirnya salah satu teman mengajar memelukku seraya berkata, “Selamat ya… semoga Allah mengabulkan doamu!” 

Teman-teman yang melihat kemudian satu persatu menyalami, memberi ucapan dan doa. Harapan dan doa yang sama, mereka sampaikan. Aku aminkan setiap doa dan harap teman-teman. Waktu, terima kasih layak tersemat untukmu.   Haru yang tak dapat terdeskripsikan kala untaian doa dan harap terangkai dari  orang-orang  yang peduli dan sayang padaku.

Kejutan hari itu meninggalkan sepenggal kisah di sisa usia. Membawa langkahku menapaki perjalanan usia. Membuka kisah masa kecilku yang tak diperkenalkan dengan tradisi ulang tahun. Ulang tahun asing bagiku. Ulang tahun hanya milik teman-temanku. Aku bahkan tak pernah tahu tanggal lahirku sampai menjejak bangku sekolah dasar. 

Terekam jelas saat itu, aku sudah duduk di kelas lima. Senja menerpa gedung sekolah berlantai dua. Di halamannya berbaris rapi wajah-wajah polos. Mereka berseragam coklat tua dan coklat muda lengkap dengan perlengkapan topi dari anyaman bambu, belati kecil yang terselip diikat pinggang serta gulungan tali putih. Aku, ada dalam barisan itu. Kakak-kakak kelas mengatakan kami akan dilantik. 

Di depan kami Bapak dan Ibu guru serta kakak-kakak Pembina berjajar. Seperti biasa, sebelum upacara kami disiapkan agar barisan rapi. Seorang guru perempuan dengan wajah tegas dan suara nan lantang menyiapkan kami. Upacara berlangsung khidmat. Sampai di penghujung upacara tanpa dinyana sang Ibu guru berwajah tegas dan bersuara nan lantang itu tiba-tiba berdiri di podium. Kami dianggap tidak disiplin. Kami akan dihukum karena ketidaksiplinan kami ketika mengikuti upacara. Sontak, beberapa nama dipanggil, salah satunya adalah aku. 

Rasa takut dan bingung menyelimuti langkahku. Aku tetap mematung di barisan depan dan tak bergeming ke depan. Suara nan lantang kembali memanggilku. Teman-teman menepuk bahuku. Saat itu jantungku seolah ingin lepas. Tubuh mungil ini tergetar melangkah ke depan. Seingatku tiga orang yang maju. Salah satu yang dipanggil sudah menangis. Aku hanya menunduk diam, tidak menangis, namun tidak mampu berkata. 

Apa kesalahanku? Hanya itu yang mampu kukatakan dalam hati. Ibu guru berwajah tegas dengan suara nan lantang itu mendekatiku. Aku semakin tertunduk kaku. Tanganku gemetar ketika beliau mengulurkan gulungan kertas yang katanya berisi catatan-catatan kesalahan. Kami, diminta membaca dengan lantang catatan kesalahan itu. Teman-teman yang berbaris diperintah berhitung. Dalam hitungan ketiga, kami buka gulungan kertas dan membacanya. 

“HARI INI KAMI BERULANG TAHUN, DOAKAN SEMOGA KAMI MENJADI ANAK YANG BERGUNA BAGI NUSA, BANGSA, DAN AGAMA”

Riuh barisan serentak menyanyikan “Selamat Ulang Tahun”. Guru-guru menghampiri kami, dimulai dari ibu kepala. Saat itulah baru aku tahu tanggal lahirku. Kejutan pertama dan begitu mengesankan. kejutan  yang memperkenalkanku dengan kata ulang tahun.  Walaupun untuk tahun-tahun berikutnya tanggal lahirku berjalan seperti biasa. 

Saat menginjak remaja, tanggal lahir biasa dirayakan dengan memecahkan telur di atas kepala dan membalurinya dengan tepung. Aku sempat mendapat perlakuan itu. Namun, kejadian itu tidak terulang lagi di tahun-tahun berikutnya. Ibuku memarahi tindakan teman-teman. Aku dilarang melakukan tindakan seperti itu. Mubazir kata ibu. Kalau mau merayakan ulang tahun mengapa telur dan tepungnya tidak dibuat panganan saja sehingga bisa kita santap bersama. Patuh kuturuti pesan ibu, dan tak berani aku melemparkan atau memecahkan telur ke kepala teman. Aku hanya ikut tertawa saja.

Sejak kejadian kertas bergulung kesalahan itu, aku tahu tanggal lahirku. Namun, aku tak begitu peduli merayakannya. Ketika usiaku beranjak tujuh belas tahun tak ada perayaan apa pun, terlewati begitu saja. Kala tiap remaja mengidamkan usia itu dirayakan dengan istilah “sweet seventeen” aku tidak pernah meminta dan merajuk dirayakan. Kami sudah terbiasa untuk tidak merayakan tanggal lahir. 

Bukan berarti tujuh belas tak meninggalkan cerita. Saat usiaku beranjak tujuh belas tahun seseorang memberikan es cream dan coklat. Laki-laki itu adalah teman kecilku. Teman bermain petak umpet, kelereng, bentengan dan beragam jenis mainan lainnya. Teman kecil yang mengatakan menyukaiku sejak aku memakai seragam biru. Teman kecil yang selalu saja kutertawakan jika berkata suka. Teman kecil yang sempat menemaniku menapaki masa remaja. Teman kecil yang rela bertahun-tahun menungguiku meraih cita di luar kota. Teman kecil yang akhirnya melangkah mundur karena merasa tak mampu mengiringi langkah kakiku yang waktu itu berkata tak ingin terikat.

Perjalanan usiaku berikutnya aku lampaui di kota Gudeg. Di kota itulah mulai ada tradisi memberikan hadiah. Sahabat yang selalu ingat dan memberikan hadiah istimewa adalah gadis cantik yang besar di salah satu kota di Jawa Barat. Sahabat, ingatkah dirimu pertama kalinya kita menapaki bioskop di kota itu. Film fenomenal yang dibintangi Dian Sastro dan Nicholas Saputra. Setelah menonton film itu, tiba-tiba kamu memelukku dan mengucapkan selamat. Aku tidak ingat bahwa itu tanggal lahirku. 

Berikutnya kita menonton dan mungkin itu terakhir kali kamu menemaniku di kota Gudeg. Film 30 hari Mencari Cinta yang kita tonton. Kami tertawa menyaksikan kekonyolan tiga perempuan jomblo yang ingin berusaha menemukan tambatan hatinya. Kala itu, setelah menonton kamu memelukku seraya mengucapkan selamat sekaligus berpamitan kembali ke kotamu. Kamu berhasil menyelesaikan mimpimu di kota gudeg itu. Saat itu aku masih terseok dengan data-data.

Kembali, aku tapaki pertambahan bilangan usia tanpa perayaan. Sampai akhirnya aku kembali ke kota kelahiranku. Bekerja menjadi seorang pengajar. Sejak bekerja itulah tradisi perayaan mulai terbentuk. Kejutan dari murid-murid, teman-teman, hadiah-hadiah, dan traktiran. Walaupun tetap jika di rumah tak pernah ada perayaan.

Beberapa perayaan kuingat,namun ada beberapa kejutan yang terekam kuat dan menjadi kenangan terindah. Kenangan yang membingkai sisa usiaku tentu saja. Kejutan kertas bergulung catatan kesalahan, kejutan dimarahi kepala sekolah dan teman-teman ketika menjadi panitia ujian. Kejutan murid-muridku yang justru membuat mereka terkejut-kejut menantiku di rumah. Dan kejutan bulan ini tahun ini, kejutan istimewa dari dua perempuan belia. 

Kejutan yang mengiringi langkahku, kamu, dan dia ke Taman Ismail Marzuki. Kejutan yang dilakukan justru tidak di tanggal lahirku. Kejutan yang kalian berikan dua hari setelah tanggal itu. Kejutan di malam minggu. Ketika sebagian remaja berkencan atau gelisah merutuki nasibnya yang tidak punya pacar. Kita bertiga justru tidak memikirkan hal itu. 

“Akhirnya Bu, saya bisa ke TIM?” gumam satu perempuan belia yang biasa disapa Kakak. Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Disela kebahagiaannya Sang Kakak masih sempat menyampaikan bahwa sesuatu untukku akan menyusul. Andai dua perempuan belia itu tahu isi hati ini. Tak ada bersit lintasan hadiah dari kalian. Karena kehadiran kalian merupakan hadiah istimewa untukku. Mengutip lirik salah satu lagu “Anugrah terindah yang pernah kumiliki”. 

Sang Adik berjalan dengan keceriaannya. Kakak berteriak, meminta Adik menghentikan racun padanya. Aku hanya mampu menggeleng dan tersenyum. “Bu, tahu gak kenapa dari tadi Ade ketawa terus?” Aku menjawab dengan gelengan.
Kakak menjelaskan, “gini loh Bu, tadi di Kopaja kita tuh ditanya sama keneknya. Mau turun mana? Aku dan Adik serempak menjawab ‘TIM’.”
Adik menambahkan, “Dan, si kenek tanya lagi Bu. Terus kita kompak jawabnya.”
“Emang keneknya tanya apa?” tanyaku.
Kakak menjawab, “keneknya tanya begini Bu. Kalian kakak beradik ya? Serempak kami jawab ya! Dan keneknya ngomong begini, percaya deh, kompak banget sih. Terus Bapaknya sama kan?”
“Lantas apa jawaban kalian?” tanyaku lagi.
“Kami hanya berpandangan, kemudian tertawa geli,” jawab Adik. Kemudian celotehan dari kakak muncul, bahwa mereka itu dilahirkan dari orang tua yang berbeda. Tapi dipersatukan oleh satu ibu yang sama,menjadi bersaudara, adik kakak. 
“Ibu yang mempertemukan kami dalam ikatan persaudaraan ini!”

Senja itu, perjalanan kita dan TIM mengajarkanku banyak hal. Mencintai, persaudaraan, seni, semangat dan mimpi. Salah satu pelajaran yang kita dapatkan saat itu adalah obrolan dengan salah satu pedagang klontong. Saat pedagang itu bercerita kami melihat pancaran kebahagiaan.

“Bapak enggak aneh ya melihat orang-orang itu? aku tunjukkan dengan kepala sekumpulan laki-laki yang duduk-duduk di depang gapura TIM. Pedagang itu mengatakan hal itu bukanlah pemandangan aneh buatnya. Banyak hal yang lebih gila yang pernah dia lihat selama berdagang di sini. Dia contohkan tingkah laku mahasiswa-mahasiswa IKJ atau pelaku seni di tempat ini. kita bertiga melihatnya dengan tawa. Pedagang yang teracuni oleh pelaku seni dan mahasiswa seni.

“Lah, Nona-nona ini mau bukannya ke Monas? kan ada Iwan Fals?” pedagang bertanya pada kami.
Aku menjawab, “Oh, sekarang ya Pak? Bukan besok hari Minggu? Ini lagi ada perlu.”
“Uda, percaya enggak kami kakak beradik?” pertanyaan terlontar dari Kakak. Pedagang itu mengamati dua perempuan belia, kemudian menggeleng.
“Emang gak mirip ya Bang? Perhatiin lagi deh Bang. Mereka itu adik kakak, saya ibunya.” Pedagang itu kembali mengamati kami bertiga. Dia mengatakan kalau aku dan kakak mirip, layak disebut ibu dan anak. Adik tetap dianggap berbeda. Aku menjelaskan kalau kita bertiga itu mirip, sama-sama manis. 

“Iya lah Pak, aku beda sama Kakak, karena kita kan lain Bapak.” Kakak mulai membangun cerita fiksi, aku pun membantu. Kukatakan kalau Adik berayah Minang, sedangkan Kakak ditebak oleh pedagang lahir berayah Sunda. Kami kembali tertawa. Pedagang itu menanyakan maksud kedatangan kami bertiga. Kembali lagi dengan cerita fiksi kukatakan kalau mereka ingin kuliah di IKJ, jadi mereka akan survei lokasi.
Pedagang itu kembali bercerita tentang TIM, yang disebutnya sebagai satu-satunya taman di pusat kota yang geliat seninya begitu tinggi. Dia sampaikan pada kami wacana atau pembicaraan orang-orang di tempat ini berkutat pada seni, kehidupan masyarakat terpinggirkan, dan bahagia. Tidak ada rusuh masalah duit, mereka bahagia dan hidup dengan seni yang mereka geluti. 

Kami seperti mahasiswa baru yang sedang mengalami masa orientasi. Mendengarkan cerita dengan saksama, kadangkala diselingi anggukan. Pedagang itu juga memberikan pesan kepada dua perempuan belia putriku. Mereka boleh mengembangkan kreativitas seni, menjadi gila karena seni, namun tetap menjadi mereka yang seperti ini, menjadi muslimah, perempuan solehah, ujarnya. 

Pedagang itu menambahkan tidak heran kalau orang-orang di sini awet muda.  Dia menunjuk salah satu seniman yang duduk-duduk di gapura. Rambutnya sudah memutih, tapi penampilan dan wajahnya tetap muda. Kami mengangguk entah menyetujui atau meragukan ucapan pedagang itu.
TIM, senja ini mengajarkan kami tentang seni, kebahagiaan, kebersahajaan, dan mungkin konsep awet muda. Di tempat ini pula kita (aku, kamu, dan dia) berdiskusi tentang konsep cantik. Dimulai dari Adik yang berangan-angan berkulit putih. 

“De, dengerin kakak ya… kalau ada laki-laki yang melihatmu dan menatap matamu, bodoh kalau dia tidak tergoda untuk memilikimu. Kamu punya mata yang indah.” Adik nampak malu-malu tersipu. Aku menyetujui ucapan Kakak. Kukatakan Adik itu kalau ke luar negeri banyak yang mau menikahinya.
“Ibu, sejak kecil enggak pernah menyesal punya kulit coklat mungkin cenderung gelap. Cantik itu jadi diri sendiri De!”  Masalah kulit coklat atau sawo matang cenderung gelap akhirnya membuat kami berdiskusi tentang konsep cantik. Memunculkan kesamaan pandangan bahwa cantik itu subjektif mungkin relatif. Iklan atau mungkin media massa yang membuat orang membentuk opini bersama tentang cantik.

Sampai pada kesimpulan diskusi kami, bahwa kami bertiga memang tidak cantik. Kita adalah tiga gadis manis. Adik yang manis dan semakin menarik dengan mata indah, keriangan, kelincahan, dan pastinya cerdas. Adik bagi aku dan Kakak adalah istimewa, multitalenta kami menyebutnya. Kakak, yang manis dengan alisnya yang indah, ketenangan, kekritisannya, dan tentu juga cerdas. Kakak yang dijuluki oleh salah satu temanku, sebagai titisan perempuan belia 100 tahun silam. Perempuan belia yang asupan bacaannya banyak. Sastra dan filsafat adalah salah satu bacaan yang biasa.  Aku setuju dengan pendapatmu teman.

Malam merayapi TIM, kami pun bergegas kembali. Namun, kepulangan kami tidak mengakhiri kisah kita. Malam ini kejutan istimewa diakhiri di sebuah kamar yang tidak besar. Perempuan belia yang kami sapa Kakak memutuskan menginap. Kembali kami mashyuk berbagi kisah. Malam itu, perempuan belia itu mengajakku menapaki masa-masa aku berproses di kota Gudeg. Kubongkar semua catatan dan buku-buku yang pernah kubaca. Dengan kalap perempuan belia itu mengambil enam buku. 

Sepenggal kisah dalam menapaktilasi perjalanan usiaku ini, mungkin tak bisa terangkai semua. Hanya saja jelang kami lelap, dua perempuan belia itu menyadarkanku untuk kembali berani bermimpi. Mereka menyulut semangatku. Usia semestinya tak menghalangiku untuk bercita-cita. Aku yang sempat takut memilin mimpi, kini mencoba mengambil benang-benang harapan. Memilin, merajut, untuk langkah ke depan. Malam, itu kita mematri mimpi, mimpi besar kita adalah memberi pengaruh kepada yang lain. Seperti kutipan firman Tuhan yang kukutip di kisah awal, “Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” 

(Kicauan, mungkin tak terpahami, karena aku pun sedang merenung utk memahami tulisan ini)