Mimpiku sejak kecil
bersekolah setinggi mungkin. Tidak hanya terhenti di sekolah menengah atas.
Cita-cita terbesarku adalah menjadi guru. Tak peduli apa kata orang tentang
guru, bagiku cukup menjadi guru, itu saja. Kembali ke masa kanak-kanak, saat
itu ketika orang-orang bertanya aku ingin jadi apa jika dewasa kelak, maka
dengan keyakinan kukatakan “Aku mau jadi guru!”
Anehnya
reaksi yang kudapatkan adalah komentar yang menurutku negatif. Dulu aku tidak
pernah mengerti mengapa orang-orang bersikap seperti itu. Sekarang baru aku
paham mengapa mereka bereaksi seperti itu.
“Mau
jadi guru? ya ampun kenapa gak jadi dokter, sekretaris, direktur, kerja di
bank, arsitek, atau yang lain deh, asal jangan guru!” komentar Mak Ujang. Lain
lagi komentar Pak Narto, “Gaji guru kan kecil Rin, mbok yang lain aja. Udah
gajinya kecil terus kamu bisa ditempatin di daerah transmigrasi, pelosok.”
Semakin
tak kupahami maksud mereka semakin besar keinginanku menjadi guru. Namun,
semakin besar aku dibentrokan pada realitas kehidupan. Kemiskinan sepertinya
melarang tergapainya cita-cita. Bisa sekolah sampai tingkat menengah atas saja
merupakan hal yang patut disyukuri.
“Owalah, Nduk kamu bisa sekolah aja udah
bagus. Kok masih punya keinginan yang aneh-aneh.” Saat ibuku berkata seperti
itu, rasanya separuh cita yang kubangun menghilang. Aku dihadapkan pada
kenyataan, dan harus tahu diri. Perkataan itu disampaikan ibu saat aku duduk di
bangku SMP kelas tiga. Kala aku meminta persetujuan ibu untuk masuk ke SMA
favorit. Sontak ibu tidak menyetujuinya, menurut ibu kalau aku melanjutkan ke
SMA harus kuliah. Sedangkan jika aku melanjutkan ke sekolah kejuruan pasti aku
memiliki keterampilan sehingga peluang bekerja setelah lulus sangat besar.
Aku
dihadapkan pada pilihan melanjutkan sekolah tapi tidak aku sukai atau berhenti
sampai di sini. Pilihan yang ibu berikan padaku. Sulit tapi dari situlah ibu
memperlihatkan makna hidup. Pilihan, hidup adalah sebuah pilihan. Akhirnya
dengan berat hati kuputuskan melanjutkan ke SMK, daripada tidak bersekolah.
Cita-citaku untuk kuliah menguap bahkan hampir menghilang.
Di
kepalaku tidak ada lagi nama-nama universitas, yang ada justru daftar perusahaan
yang siap menampung bekerja setelah lulus nanti. Pintu untuk melanjutkan ke
jenjang yang lebih tinggi seolah tertutup. Tapi, semangatku tidak bisa dipadamkan
begitu saja. Ketika masih ada celah maka aku memberanikan diri untuk
mengintipnya. Sekadar mengintip namun tidak berani memasukinya .Keterampilanku
pun terolah selama berproses di sekolah menengah kejuruan.
Semangat
untuk melanjutkan ke perguruan tinggi kembali membuncah ketika guru BP
mengatakan bahwa siswa SMK juga bisa kuliah. Setiap melewati ruang BP selalu
saja kulirik ruang itu. Berharap guruku melihat dan memanggil. Berharap
kesempatan untuk bertanya bagaimana caranya agar bisa menjadi guru. Tapi
kembali aku harus sadar diri. Kakiku terhenti hanya sampai di depan ruang BP,
kemudian melangkah mundur. Terngiang ucapan ibuku. Teringat masih ada tiga
orang adikku yang masih bersekolah dan butuh biaya juga.
Tuhan
tidak tuli, tidak bisu, dan tidak buta. Aku setuju sekali dengan ungkapan itu.
Setiap mimpi pasti akan menjadi nyata jika kita berani untuk terus
menghidupkannya. Mimpi berbeda dengan khayalan. Mimpi itu nyata, bisa
diwujudkan jika kita mau berusaha dan tidak memadamkannya. Sedangkan khayalan
itu semu, dia terlihat indah sehingga kita tidak pernah mau bangun bahkan akan
marah jika kita disadarkan. Mimpi itu adalah berani bangun, melakukan tindakan,
bergerak, dan mau berpindah, sehingga akhirnya dia bisa menjadi nyata. Khayalan
itu duduk termangu, terdiam, terpesona pada gambaran semu, dan tetap berdiri di
tempat yang sama. Itu terjadi pada diriku.
Mimpi
itu bisa kuwujudkan. Allah memberikan jalan-Nya. Pintu itu tidak lagi tertutup
bahkan aku bisa memasuki pintu itu. Reformasi 1998 bagi bangsa Indonesia
menjadi catatan sejarah runtuhnya sebuah rezim setelah 32 tahun berkuasa.
Bagiku tahun 1998 juga menjadi catatan sejarah hidupku. Aku bisa melanjutkan
pendidikan ke perguruan tinggi. Berbekal sedikit informasi dari guru BP, aku
ikut Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru.
Berbekal
uang sekolah yang kusimpan selama dua tahun, kuberanikan diri membeli formulir
UMPTN[1].
Sejak kelas dua aku memang tidak pernah membayar SPP. Jadi uang yang diberikan
orang tuaku bisa ditabung. Selama dua tahun aku mendapatkan beasiswa. Semua
kebutuhan pendidikanku gratis. Bukan hanya SPP, buku pelajaran, seragam,
keperluan praktik semua tidak dibebankan pada orang tuaku. Orang tuaku pun
sudah mengetahuinya, namun Bapak tetap merasa bertanggung jawab. Jika memang
ada uang lebih maka Bapak memberikan jatah SPP padaku. Kini bekal itulah yang
akhirnya mampu mengantarkanku menempuh pendidikan sampai perguruan tinggi.
“Rin,
sekarang ibu mau tanya kamu mau pilih perguruan tinggi negeri yang favorit atau
yang penting kuliah di negeri?” tanya Bu Widya, guru BP.
“Saya
tidak tahu Bu, yang penting saya bisa jadi guru dan kuliah di perguruan tinggi
negeri. Ibu kan pernah mengatakan kalau kuliah di perguruan tinggi negeri
peluang mendapatkan beasiswanya besar. Ibu tahu kan kondisi keluarga saya?”
jawabku.
“Okey,
sekarang kamu minatnya di mana? Pelajaran apa yang kamu kuasai? Masalahnya Rin,
saingan kamu bukan hanya anak SMK tapi juga anak SMA negeri dan swasta. Bukan
cuma di Jakarta sainganmu tapi seluruh Indonesia.”
“Saya
mau jadi guru Bu. Katanya kalau mau jadi guru ya kuliah di IKIP. Jadi saya mau
ngambil IKIP aja. Saya suka pelajaran Bahasa Inggris dan Alhamdulillah
nilai-nilai bahasa Inggris saya bagus Bu. Ya, saya paham saingannya banyak.
Terus IKIP mana yang harus saya pilih Bu?”
“Sekali
lagi Ibu tanya, yang penting diterima di negeri kan?”
“Ya,
Bu!”
“Dengan
kemampuanmu, dan saingan yang agak berat kamu ambil luar Jawa aja. Rin.berani
gak ambil di Papua atau Kalimantan?”
“Wah,
enggak ah Bu, saya takut. Bapak nyuruh ke Yogya aja sih Bu. Kata Bapak biar gak
terlalu mikirin biaya hidup.”
“Oh,
begitu.Bagaimana kalau ambil Unsoed di Purwokerto. Sepertinya kamu bisa tembus
ke sana. Nah, ini kan ada dua pilihan Rin, satu lagi kamu ambil mana?”
“Saya
mau ambil IKIP Jakarta dan IKIP Yogya aja deh Bu.”
“Ya,
sudah. Sepertinya kamu mampu kok Rin. Tapi di Yogya udah gak IKIP Rin. Tuh
liat, di daftarnya gak ada. Tapi memang wacananya IKIP mau berubah jadi
universitas sih. Jadi tetep manteb milih Jakarta dan Yogya nih? Ya sudah Ibu
doakan kamu berhasil. Belajar, berdoa, tawakal.”
“Iya
Bu, Bismillah.” Aku pun pamit pulang.
Kucium tangan guruku. Dengan bekal informasi dari Bu Widya maka aku memilih dua
perguruan tinggi negeri di Jakarta dan Yogyakarta.
Saat
yang dinanti tiba. Pagi itu aku dengan Maya teman satu sekolah berniat ke
Senayan untuk melihat pengumuman kelulusan. Namun, entah mengapa di tengah
perjalanan Maya membatalkan rencana itu. Akhirnya kami membeli satu surat kabar
yang memuat pengumuman kelulusan masuk perguruan tinggi negeri.
“Gue
yakin enggak diterima deh Rin, jadi males ke Senayan.” Ujar Maya.
“Ye,
kita kan niatnya mau ngelaba, nyari gebetan mahasiswa-mahasiswa yang keren,
pinter, and cakep May, gak jadi dong kita cuci mata?”
Sebenarnya
bukan hanya Maya yang pesimis dengan hasil seleksi tersebut. Aku juga tidak
percaya diri. Jadi aku tidak terlalu memaksa Maya untuk ke Senayan. Kami
membeli surat kabar “Suara Karya” dengan bersegera membawanya ke rumahku.
Selama perjalanan menuju rumah, kami tidak berani membuka halaman pengumuman
tersebut. Kami mungkin merasa khawatir. Jantungku berdebar tak karuan. Semakin
mendekat ke rumah debaran itu semakin menguat. Aku dan Maya yang membuka
halaman demi halaman pengumuman. Kakakku turut membantu. Mata kami menyapu satu
persatu angka-angka dan huruf-huruf yang mencetak nama-nama peserta ujian yang
lulus. Dengan harap-harap cemas kami teliti satu persatu deretan angka dan
huruf itu.
“Rin,
nama elu ada!” teriak kakakku, Mas Aji. “Elo diterima di UI.” Serentak aku dan
Maya menghampiri kakakku.
“Gak
mungkin Mas gue diterima di UI. Gue kan gak daftar di UI. Berarti bukan gue
itu.” Apa yang kukatakan beralasan. Kulihat Maya sudah tidak bersemangat.
Dihempaskan tubuhnya ke kursi. Aku pun mengikutinya. Kusandarkan tubuh ini di
kursi juga. Mas Aji mengambil pulpen dan penggaris. Dia nampak begitu
bersemangat.
“Rin,
mana kartu ujian elo? Gue mau liat nomor ujian elo.”
Kuberikan
kartu ujian kepada Mas Aji. Kulihat dia mencocokkan nomorku dengan angka-angka
yang tertera di surat kabar itu. Kemudian dia menggarisnya.
“Bener,
ini elo Rin.ini nama elo. Nomornya juga sama. Sini kalau gak percaya liat
sendiri!” Mas Aji melambaikan tangannya memanggilku. Aku pun mendekati meja.
Mas Aji mengacak-acak rambutku. Dengan debaran yang semakin menguat aku melihat
pengumuman itu. Aku terlonjak, tak percaya, sekali lagi kucocokkan nomor
ujianku dengan nomor yang tertera di surat kabar itu. Kucocokkan nama yang ada
di kartu ujian dengan nama yang tertera di surat kabar itu. COCOK, tertera
nomor ujianku 298-21-20124, namaku Tripamada Kushrini, dan kode jurusan
universitas 458846. Benar, aku diterima di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia,
di Yogyakarta.
“Alhamdulillah, May, gue diterima.”
Dengan suara bergetar aku berkata pada Maya. Mataku yang semula berkaca-kaca
mulai mengeluarkan bulir-bulir air. Kebahagiaan membuncah. Kupeluk Maya, segera
kuraih surat kabar ini. Ingin berlari menyampaikan pada Bapak, tapi beliau
sedang bekerja. Aku berlari mencari ibuku yang sedang berdagang. Ibuku
menangis, dengan mengucap Alhamdulillah,
diraihnya tubuhku dipelukannya. Mas Aji dan Maya yang mengikuti dari belakang
tersenyum. Hari itu tepat di hari Jumat, 31 Juli 1998 aku tuliskan besar-besar
dalam buku harianku sebagai hari yang bersejarah. Menjadi salah satu momen
bersejarah dalam hidup, kutorehkan sebagai pencapaian awal asaku menggapai
cita-cita.
Yogyakarta,
akhirnya aku datang, ucapku dalam hati. Tempat yang tak pernah kubayangkan.
Ditemani bapak aku mendaftar ulang. Kulihat kampus yang kelak akan menempaku
menjadi sosok yang kuinginkan ‘GURU’. Kini aku berdiri di depan gedung yang
besar. Biasa disebut auditorium. Di auditorium itu bertengger spanduk berukuran
besar menjulang tinggi menyambut kami. Di depan pintu masuk auditorium itu
berjajar meja bertuliskan fakultas dan jurusan. Para panitia penerimaan mahasiswa
baru itu nampak sibuk menuliskan dan memberikan seperangkat buku pedoman
penerimaan mahasiswa baru. Aku setengah tidak percaya, kucubit lengan, pipi
kutampar pelan, memastikan apakah aku sedang tidur atau tidak. Aku akan menjadi
mahasiswa. Senyum mengembang dari bibirku.
Perjalanan
hidupku akan dimulai dari sini, dari
Yogyakarta. Di kampus inilah aku ditempa .Di kampus inilah aku pernah
kecewa, menjadi orang kalah bahkan pecundang. Di kampus ini pula aku belajar
bangkit .Di kampus inilah aku berjuang mewujudkan mimpi kecilku. Di kampus
inilah aku menjemput hidayah. Akhirnya di kampus inlah aku berhasil menjadi
sarjana. Di kampus inilah aku membuat kedua orang tuaku bangga. Terngiang
ucapan bapak,”Walaupun Bapak dan Ibumu enggak sekolah, orang bodoh, tapi Bapak
mau kalian semua jangan jadi orang bodoh. Kalian harus sekolah. Cukup kamilah
yang bodoh, cukup kamilah yang miskin .Kalian harus lebih baik dari kami!”
Perjuangan
dimulai di kota ini. Kota yang dikenal dengan sebutan ‘Kota Pelajar’. Dari
sinilah titik nol perjuanganku merajut cita. Berpisah dengan orang tua. Belajar
menjadi manusia dewasa yang mandiri. Perjuangan yang tak mudah, dan di Yogyalah
aku mendapatkan kejutan-kejutan. Kadangkala beberapa kejutan itu seperti bom
yang meledak, meninggalkan jejak repihan-repihan cerita yang kini tercatat
sebagai sejarah hidupku.
(Dikutip
dari Novel Repihan Kisah, Satu Mozaik, sub judul : Merajut Cita di Yogyakarta)
[1]Singkatan
dari Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Sempat beberapa kali mengalami
pergantian istilah. Sebelumnya bernama Sipenmaru, kemudian UMPTN, SPMB, dan
sekarang bernama SNMPTN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar