SENANDUNG LARA PENGHUJUNG TAHUN
Mentari enggan menampakkan dirinya
hari ini. Hal ini justru berbanding terbalik denganku. Hari ini, aku
ingin sekali datang ke tempat itu. Tempat yang selama ini kuhindari.
Ada guratan di hati jika aku melihat tempat itu. Tapi kali ini, kekuatan
apa yang membuatku memutuskan menuju ke tempat itu.
Aku tahu
jika mendatangi tempat itu akan mengoyak luka yang sudah hampir
mengering. Hari ini aku seperti menafikkan luka. Bersit yang ada di
kepalaku mengatakan “saatnya keluar, menunjukkan keberadaanku kini.”
Bersit yang tiba-tiba muncul semakin menguat. Mengajak susunan saraf
motoris melangkah berangkat ke tempat itu. Kuhela sejenak nafas, kuambil
kemeja merah muda. Kukenakan kemeja itu dan memadankannya dengan celana
panjang hitam.
Kemeja merah muda ini kupilih untuk menunjukkan bahwa aku tidak terpuruk. Aku ingin membuktikan aku berani menghadapi mereka.
Sekali
lagi kuhela nafas, mematut diri sebelum berangkat. Aku melangkah dengan
pasti. Menyusuri jalan yang hampir sebulan ini kujauhi. Bukan
bersembunyi, namun sekedar menenangkan rasa. Sejenak menjauh dari tempat
ini untuk menghindari bara di hati ini. Berharap bara ini akan meredup
bahkan menghilang. Ahh, hari ini bara yang belum redup benar tersebut
akan kembali memantik.
Perjalanan menuju tempat itu tidak terlalu
jauh. Kutengadahkan kepala, tampak awan hitam memayungi bumi ini. Alam
seolah mengerti apa yang berkecamuk di relung ini. Sepanjang perjalanan
aku cabuti duri yang berserakan. Duri yang dengan riangnya menancapi
telapak kaki. Langkahku kian mendekati tempat itu. Kini luka itu tidak
hanya di kaki. Ada tusukan-tusukan pedang yang menghunjam seluruh tubuh.
Aku terus melangkah melewati labirin, walau dengan terseok dan
berdarah. Siluet tempat itu semakin nampak di mata.
Sesaat aku
memandangi siluet tempat itu. Kulihat jalinan besi yang menghubungkan
tempatku berpijak dengan tempat itu. Aku akan menyebrang menuju tempat
itu dengan seluruh tubuh yang penuh darah. Sejenak aku terpaku, tanganku
meraih kain. Kuseka darah di tubuh ini, kemudian membebat setiap luka.
Walau terhuyung aku terus melangkah.
Akhirnya aku sampai di
tempat itu. Kupandangi pintu gerbang sederhana dan tanah lapangnya. Ada
sesuatu yang menghambat rongga pernafasanku. Kelu di bibir ini.
Kulafazkan “Bismillahirrahmanirrahim”. Aku utas senyum di bibir.
“Assalamualaikum,
Bu!” sapaan itu begitu menenangkan. Kulihat wajah-wajah pemilik sapaan
itu. Mereka satu persatu menghampiri dan mencium telapak tanganku.
Seperti ada tetesan air es yang menelusup ke dalam setiap organ tubuhku.
Begitu sejuk. Kelu itu sejenak menghilang.
“Wa’alaikumsalam,”
jawabku. Tubuh-tubuh mungil semakin banyak menghampiriku. “Ibu, kemana
aja?” pertanyaan yang hanya mampu kubalas dengan senyuman. Berbagai
tanya dari bibir mereka tak mampu kujawab dengan sempurna.
Aku
kembali berpijak di tempat ini. Mataku mengarah pada satu ruang. Pintu
ruang itu tertutup, menandakan dua kemungkinan. Pertama, ruangan itu
kosong. Kedua, ruangan itu terisi orang-orang yang sedang sibuk dan
tidak ingin diganggu. Aku dekati ruang itu. Nampak, sesosok lelaki
sedang duduk di samping pintu yang tertutup itu.
“Eh, Mbak…
cepetan masuk. Lagi rapat tuh!” suara lelaki yang duduk di samping pintu
itu membuatku terperangah. “Mbak, kok malah bengong. Udah masuk!”
“Oh,
ada rapat ya?” aku hanya mampu berkata seperti itu. Nampaknya aku
datang di waktu yang salah. Namun, aku sudah terlanjur datang ke tempat
ini. Kembali aku tarik nafas panjang, membuka pintu. Wajah-wajah di
dalam ruang itu nampak terperanjat. Hatiku mengumpat, aku tamu yang tak
diundang. Bodohnya diriku. Namun, aku berusaha menetralisir keadaan,
kubungkukkan badanku, mengucapkan salam dengan menyunggingkan senyuman.
Entahlah, apakah mereka tahu, senyum itu palsu.
Selama rapat
hatiku tak terkoneksi dengan pimpinan rapat. Di kepalaku saat itu hanya
terpikirkan, mungkin inilah saat yang tepat. Bisa jadi ini merupakan
jawaban atas doa-doaku. Pilihan yang kujatuhkan di bulan Juli ternyata
belum final. Kala keraguan masih meliputi, Allah menggunakan cara-Nya
agar aku menetapkan pilihan ini.
Pilihan yang harus kujalani
dengan berbagai konsekuensinya. Semoga bukan pilihan yang didasari oleh
emosi belaka. Berharap, Allah menuntunku menetapkan pilihan ini. Aku tak
tahu ceritaku ke depan, hanya merencanakan segalanya dari nol. Semoga
tidak menjadikan penyesalan kelak.
“Ya, kebetulan hari ini Ibu
datang, mungkin ada yang ingin disampaikan?” suara pimpinan rapat
menghentakkan kesadaranku. Aku hanya mengangguk dan melangkah ke depan.
Kali ini kutatap wajah-wajah yang hadir dalam rapat itu. Ada beberapa
wajah yang tidak kuharapkan untuk kulihat. Wajah-wajah itu membuat luka
yang telah kubebat ini seperti tersiram perasan air jeruk. Namun, ada
beberapa wajah yang lain. Begitu dekat, begitu kukenal, dan begitu
tulus. Mereka semua menundukkan kepalanya.
Ada gemuruh di dada,
begitu bertalu. Aku berharap wajah-wajah tulus itu mendongakkan
kepalanya. Aku berharap mereka memandangku, sekadar memberi kekuatan.
Keberanian justru tidak muncul di diriku. Aku tidak berani menatap
wajah-wajah tulus mereka. Aku pun tak mampu menatap wajah-wajah lain
yang telah menghunuskan pedang tepat di hati ini. Aku hanya menikmati
ruang segi empat yang sebentar lagi akan kutinggalkan. Kunikmati sejenak
jendela, pintu, jajaran meja dan kursi. Pandanganku tertumpu pada
sepasang meja dan kursi di pojok belakang.
Meja dan kursi yang
pernah menemani hari-hariku di tempat ini. Meja yang disesaki oleh
buku-buku, tumpukan soal-soal, dan berbagai administrasi pekerjaanku.
Meja itu, kini begitu bersih. Folder ungu itu kosong, tak terisi.
Kehadiranku rupanya sudah dianggap tak ada. Aku memang sudah tak layak
berada di sini.
Kembali kusapu seluruh ruangan ini, sudah tak ada
kata yang mampu terucap. Begitu perih, sehingga kerongkonganku
tercekat, lidah pun kelu. Aku hanya mampu berkata maaf, selamat tinggal,
dan sukses untuk tempat ini. Aku berusaha agar mata ini tidak berair.
Namun, semua sia-sia. Aku luruh dalam derai air dari dua mata ini.
Aku
mencoba menata rasa, menyalami satu persatu. Namun, kembali mata ini
berlinang membasahi pipi saat aku dipertemukan dengan beberapa
wajah-wajah tulus. Saat tangan para sahabat terkait erat dalam jabat dan
peluk. Tangisku pun buncah. Merekalah yang pernah memberiku kekuatan di
saat aku lelah. Memberiku bahagia, menghibur saat aku berduka. Para
sahabat yang menemani hariku mengukir makhluk-makhluk bernyawa yang kami
sebut ‘peserta didik’.
Hampir tujuh tahun, bukan waktu yang
pendek bagiku untuk berproses. Perjalanan dari 2007 hingga 2013 kurasa
cukup untuk membangun mimpi menjadi nyata. Namun, asa itu ternyata tidak
tepat kubangun di tempat ini. Aku seperti membangun istana pasir di
pinggir pantai. Kapan pun sang ombak bisa melimbur bangunan istana yang
kubuat. Tidak hanya berantakan atau menyisakan puing tapi rata, kembali
menjadi hamparan pasir.
Saat terakhir aku menjatuhkan pilihan ini
kucoba nikmati hembusan udara di tempat ini. Setiap sisi bangunan yang
sempat begitu akrab menemaniku berproses. Sapaan mereka yang setiap
tahun silih berganti datang dan pergi. Wajah-wajah lugu terbungkus dalam
berbagai pembawaan dan karakteristik, mungkin tak dapat kusentuh lagi.
Aku
melangkah keluar dari pintu ruang ini. Ada sedikit rongga yang
membuatku dapat bernafas. Walau jujur, tak mampu menutupi luka yang
telah kucoba bebat. Salah satu wajah-wajah lugu menghampiriku.
Mengenggam erat telapak tanganku.
“Ibu, mau kemana?” aku tak mampu
berkata-kata. Kupaksakan untuk tersenyum walau justru semakin membuat
luka ini melebar. Beberapa di antara mereka menghampiriku. Aku tak
berani menatap mereka.
Aku hanya mampu berkata, “Semua harus rajin
belajar, tetap semangat!” Aku mencoba mengais-ngais kekuatan yang
kupunya agar tidak menangis.
“Ibu, mau pindah ya? Ibu kenapa
pindah?” Pertanyaan yang sudah tak mampu kujawab. Aku berusaha berjalan.
Mereka mengikutiku dengan tubian pertanyaan yang sama. Mereka berusaha
menahanku. Salah satu siswa merengkuhku, memeluk tubuhku. Dia menangis.
“Ibu
jangan pindah! Jangan tinggalin aku!” Aku tak mampu berucap. Satu
persatu dari mereka mulai menangis. Aku dekap mereka, lirih berkata,
“Kalian harus tetap semangat belajar.”
Aku berusaha melepaskan diri
dari kerumunan mereka. Berjalan, dengan mata yang sembab. Berjalan
dengan menyisakan lara. Aku tak mampu menatap wajah mereka. Wajah-wajah
lugu itu kutinggalkan dengan segudang tanya yang tak mereka temukan
jawabnya. Hatiku hanya mampu berkata, “Selamat tinggal anak-anakku. Kita
hanya berpisah raga. Setidaknya ada guratan yang kutinggalkan di diri
kalian. Sedikitnya aku telah mengukir sesuatu pada kalian.”
Di
penghujung tahun 2013 mungkin ujung kisahku di tempat ini. Banyak
kenangan, dan entahlah apakah ini akan jadi kenangan indah atau kisah
kelabu perjalananku. Hanya sedikit yang menyesakkan. Aku tidak mau pergi
dengan cara seperti ini. Pergi dengan membawa guratan luka, kepingan
mimpi yang tak mampu kubawa bahkan kugenggam. Pergi dengan meninggalkan
rasa yang tak sepantasnya kubawa dan membentuk satu kata ‘TRAUMA’.
Akhir
tahun 2013 mungkin menjadi titik balik bagiku untuk melangkahkan kaki,
memantapkan langkah. Mimpiku mungkin bukan di sini. Mimpiku mungkin di
tempat lain. Aku yakin tidak mudah membangun kembali sesuatu yang pernah
dimiliki. Aku tahu sulit membangun kembali dari nol. Mungkin butuh
perjuangan berlipat ganda. Namun, aku harus yakin ada Allah yang
menemani setiap langkahku. Jadi untuk apa takut membuat keputusan besar
ini?
Aku anggap ini saat tersulit dalam perjalanan hidupku.
Terperosok atau bahkan aku terjun bebas ke jurang yang begitu dalam.
Awal tahun depan, aku harus mempersiapkan diri, melangkah satu demi
satu. Naik dari jurang untuk kembali ke atas. Bisa jadi aku akan
tergelincir, tapi itulah kehidupan. Mimpi itu masih ada. Aku akan cari,
ambil satu persatu untuk kubentuk kembali puing-puing asa. Aku akan
tetap bersenandung walau dalam lara. Aku teringat slogan yang kudapat
saat kuliah. Slogan yang kudapatkan dari salah satu organisasi ekstra
kampus tempat aku pernah bernaung. “Yakin Usaha Sampai” Insya Allah.
Bismillahirrahmanirrahim….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar