Minggu, 26 Januari 2014

Cerpen



JEJAK SILAM

            Sungguh, kali ini aku tak bisa marah. Mereka terus mencecarku dengan beribu tanya yang hanya kujawab dengan senyum. Terus mengalir, silih berganti, dan selalu saja aku hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum. Sikapku itu semakin membuat mereka penasaran. Bahkan salah satu dari mereka akhirnya meraih daguku. Sedikit memaksa memalingkan wajahku agar menatapnya. Aku palingkan wajah ini dengan tetap memberinya senyuman.

            Satu persatu dari mereka akhirnya mengalihkan pembicaraan. Antara letih atau kesal dengan sikapku, entahlah. Aku juga tak mengerti mengapa hari ini aku begitu menikmati cecaran tanya dari mereka. Mungkin di waktu yang berbeda, cecaran tanya itu bisa diinterpretasikan sebagai sindiran, hinaan, ejekan, bahkan cercaan. Bisa jadi aku akan murka. Namun, hari ini semua kunikmati cecaran tanya mereka. Salah satu teman yang mendengarnya saja merasa kupingnya panas.

“Mbak, kok bisa sih elu gak marah denger ocehan orang-orang itu?” pertanyaan yang terlontar dari temanku. Pertanyaan yang aku pun tak mampu menjawabnya. Hanya saja aku merasa hari ini begitu membahagiakan, sungguh-sungguh membahagiakan.

“Gue juga enggak tahu, mungkin kalau pertanyaan itu mereka sampaikan kemarin atau esok, lain lagi ceritanya,” jawabku.  Temanku memandang dengan wajah yang sulit diterjemahkan. Perpaduan antara kesal dan heran.

“Mbak, kalau gue yang diperlakukan begitu. Gue akan jawab terima kasih atas perhatiannya. Saya bisa mengurus masalah saya sendiri. Terus gue pergi ninggalin mereka dengan tampang terjutek,”

Aku pun tak mengerti, sudut hati sebenarnya menggedor memohon agar mereka menghentikan cecaran itu. Namun, aku tak mampu menyampaikannya. Hanya anggukan dan senyuman yang mampu kuberikan.

Aku tidak ingin kehilangan momen yang membahagiakan ini. Rasanya ingin terus menggenggam bahagia ini walau satu hari saja. Biarlah mereka berusaha merusaknya. Aku akan tetap mempertahankannya walau hanya satu hari. Hari ini, bahagia ini tetap ingin terengkuh, tak peduli apa kata mereka.

Kebahagiaan yang datang dari jejak silam. Jejak yang mungkin hampir terhapus karena iringan masa. Jejak itu nampak begitu nyata dan jelas menghadirkan sosoknya. Mata itu begitu kukenal, tidak bulat dan tidak juga kecil. Mata dengan kedua sudut yang tidak berdekatan. Alisnya menggaris tipis kontras dengan alis tebalku. Hidungnya biasa saja tak bangir atau lancip kontras dengan hidungku yang agak tinggi. Bibir tipis dengan sedikit rona merah alami kontras dengan bibirku yang tebal. Telinganya begitu khas, umumnya orang menyebut bentuk telinga ini dengan istilah caplang. Rambutnya ikal, tipis, terpotong pendek. Kulitnya kuning kontras dengan kulitku yang sawo matang. Tubuhnya menjulang begitu kontras dengan tubuh mungilku. Semuanya tergambar utuh sama seperti pertama aku bertemu dengannya walaupun ada sedikit perubahan pada tubuhnya. Dulu tubuhnya kurus menjulang, kini, tubuh itu padat berisi menjulang.

Sosok itu kini begitu dekat. Duduk tepat menyanding. Kami bersisian. Wajahnya tepat di hadapanku. Senyum tipis menghias bibirnya tidak pernah berubah. Kali ini aku melihat kembali bibirnya mengembang mengutas senyum. Tatapannya tidak berubah, tetap jenaka sedikit nakal. Tatapan seperti itu yang selalu membuatku luluh dan memaafkan setiap khilafnya. Tatapan yang meluluhkan setiap kemarahanku padanya. Tatapan itulah yang meninggalkan jejak begitu kuat hingga sekarang aku pun belum mampu menghapus jejaknya. Tatapan yang kerap menggelitik relung rinduku.

Sosok itu hadir dengan keceriaan yang sama. Memoriku mengais repihan kebersamaan kami. Kebersamaan yang meninggalkan jejak yang disebut dengan kenangan. Seperti membuka buku harian yang berdebu karena hampir tak pernah lagi dibuka dan diisi. Satu persatu kilasan itu terbuka mengais lembar kisah di Februari 2001 sampai Februari 2003. Genap dua tahun kebersamaan itu terangkai. Kebersamaan yang diiringi dengan keceriaan, gelak, canda, perdebatan, dan tentu saja tatapan itu. Keceriaan yang selalu dihadirkan olehnya. Keceriaan yang akhirnya tak kutemui lagi di awal Februari 2003. Berganti dengan tatapan mata sendu, merunduk, dan berkabut.

sebelas tahun kemudian, di awal tahun 2014 sosoknya menemuiku. Sesaat dan begitu tiba-tiba. Hadir dengan keceriaan semula, tatapan semula. Hanya saja kali ini tak banyak bicara. Matanya tak pernah berhenti menatap. Bibirnya pun selalu mengutas senyum. Kehadiran yang membuat raga ini terpaku. Bibir yang terkatup, lidah pun kelu tak bersuara. Desah nafas saja yang berkecamuk membentur-benturkan segala yang ada dalam memori dan rasa yang ada dalam kalbu. Aku tidak mampu mendeskripsi lewat istilah emosi dan rasa.

Sosoknya menumbuhkan kembali renjana. Melumpuhkan imun kesadaranku untuk menghapus tiap jejak rasa yang ditinggalkannya. Kesadaranku hilang, aku terbang dalam bahagia yang tak tersampaikan raga. Jiwaku melayang, ragaku terpaku. Logikaku tak bekerja dan tak menanyakan. Seolah terkunci dalam gembok rasa.

Hadirnya kemudian pergi seiring azan kumandang subuh. Mataku terbuka, mencari sosoknya. Tak kutemukan sosoknya hanya ada sesuatu yang tengiang. Begitu jelas untaian kalimat yang keluar dari bibirnya. Perkataan yang terekam dari suaranya yang jernih.

“Rasaku tetap sama dan tak berubah.  Terima kasih, untuk tetap menjaga rasa itu.”

Perkataan darinya yang sebenarnya ingin kubalas dengan berondongan pertanyaan yang akhirnya tak mampu kusampaikan. Dia sudah lenyap, pergi, meninggalkan jejak silam. Jejak yang sekuat tenaga kuhapus dan perlahan jejak itu mulai tersamar. Namun, hadirnya kali ini mempertegas jejak yang hampir samar itu.

Kehadirannya yang sesaat dan tiba-tiba meninggalkan jejak kebahagiaan. “Aneh,” pikirku. Harusnya aku menangis bukan tersenyum seperti ini. Semestinya aku marah, terluka karena dia meninggalkanku. Pergi dengan yang lain. Tapi, apa yang terjadi? Justru aku menghadirkan sosoknya dalam lelap malamku. Mengusik, ketenangan hati yang begitu lama kurenda. Aku tidak pernah bisa marah terhadapnya walaupun jejak silam pernah ditancapkan dalam hatiku. Jejak luka yang ditinggalkan itu belum hilang. Jejak silam yang anehnya tidak membuatku sakit. Jejak silam justru yang menjadi imun.

Logika, kemana dia bekerja? Aku mencarimu! Membutuhkanmu mengurai semuanya. Tapi logika itu benar-benar terkunci rasa. Kini, aku hanya merasa bahagia. Sangat bahagia, sehingga hujan sepanjang hari seolah nada yang mengiringi tapak kaki ini menari.

Setelah kumandang subuh, kesadaranku seolah hilang. Aku memang terbangun, mengisi rutinitas pagi seperti biasanya. Mandi, sholat subuh, mempersiapkan diri, kemudian berangkat kerja. Seperti biasa pula, aku berangkat saat mentari masih malu-malu menampakkan dirinya. Hanya saja hari ini kurasa begitu istimewa.

Mentari justru enggan tampak, enggan memberikan kehangatannya. Gelapnya cakrawala bersahabat dengan rinai-rinainya belum puas berhenti. Padahal sudah semalaman menemani lelap setiap insan dalam balutan selimut tebal. Rinainya meresap ke bumi mengantarkan hawa dingin.

Hawa dingin yang tak menggentarkanku untuk berangkat bekerja. Jejak silam yang semalam hadir benar-benar menjadi imun. Menguatkanku untuk mau bercengkerama dengan dinginnya cuaca. Meringankan kakiku, berkecipak di genangan air. Hujan pagi ini kurasa begitu indah.

Payung yang kugunakan memang belum mampu melindungi dari guyuran air yang tumpah dari langit. Beberapa bagian tubuhku kuyup. Tetap saja perjalanan kali ini kurasa begitu nikmat. Kemacetan yang begitu panjang akibat luapan sungai. Makian, supir minibus, teriakan kondektur dan suara hujan seolah menjadi irama yang terasa indah. Aku begitu menghayati hari ini dengan bahagia. Logikaku benar-benar terkunci tertutup rasa.

Perjalanan ke tempat kerjaku hari ini memang panjang. Hampir satu jam aku duduk di kursi minibus yang berjalan tersendat. Karena tak sabar, supir memutuskan putar balik. Kuperkirakan perjalanan akan bertambah panjang karena minibus tak berhenti tepat di tempat kerja. Aku harus berjalan sekitar setengah kilometer lagi. Hujan semakin deras.

Aku berjalan ditemani hujan deras, di sepanjang perjalanan air menggenang dengan tinggi sekitar 30 cm tak terhindarkan. Tapi, dengan rasa yang sama ‘kebahagiaan’. Hari ini aku bercengkerama dengan derasnya hujan, kakiku berkecipak diantara genangan air, kerap pula melompat. Aku seperti menari bersama air. Dingin tak terasa.

Tiba di tempat kerja, yang kudapatkan cecaran tanya dari mereka. Setiap perkataan ataupun lontaran tanya dari mereka seolah memberikan sedikit kehangatan. Cecaran yang sempat memantik api di hati. Namun, kembali logika terkunci tertutup rasa. Kehadiran jejak silam justru membuatku menikmati cecaran mereka.

Ah, renjana itu mungkin terlalu kuat. Sehingga aku tak mempedulikan kata mereka. Aku ingin merengkuh bahagia lewat hadirnya yang nampak nyata namun semu. Jejak silam yang kini menjadi senjata melawan gempuran itu.

“Elo, emang gila Mbak!” terlontar dari temanku. Mendengar ucapannya, aku mengangguk. Menyetujui ucapannya. Membiarkan kegilaan hari ini dalam bentuk bahagia. Teman andai kau tahu, aku juga tak mengerti dengan rasa hari ini. Aku tidak sedang jatuh cinta. Kehadirannya pun tak nyata, namun hadirnya membangkitkan rasa yang begitu indah. Melebihi  jatuh cinta. Begitu bahagia. Kebahagiaaan yang melemparkanku pada jejak silam.

“Mbak, kayaknya elu kangen deh sama dia.” Temanku berusaha menganalisis rasaku. Entah analisis dengan logika atau hanya berdasarkan perasaan saja.

“Bisa jadi, entah aku atau dia.” Jawabku diiringi dengan senyum. Jejak silam itu memaksaku merunuti kembali lembar kisah yang tersimpan. Salah satu ruang yang sempat tertutup terkuak. Aku melihat kembali dan masuk ke dimensi lalu.

Jejak silam menuntun awal kisah. Tergambar sosok perempuan mungil di depan kompor minyak. Dia sedang membuat panganan kecil. kembang goyang nama panganan itu.  Perempuan itu terlihat  begitu menikmati pekerjaannya walau tidak cekatan. Wajahnya yang coklat tampak berminyak dengan keringat. Tidak ada yang menarik pada dirinya.

Tanpa disadarinya sosok menjulang berdiri di depan pintu dapur. Seolah menikmati pekerjaan  perempuan mungil itu. Setelah lelah berdiri, sosok itu mendekat dan duduk tepat di sebelahnya. Perempuan mungil itu tetap asik dengan pekerjaan, tak menyadari ada sosok yang menyandingnya.

“Lagi buat apa?” suara lembut itu mengagetkan perempuan mungil. Seraya menoleh ke arah suara itu. Sontak perempuan mungil itu menunjukkan wajah tak ramah. Selalu begitu jika sosok itu datang.

“Pertanyaan aneh, udah jelas ngerti, pake tanya!” jawab perempuan mungil dengan ketus. Sosok itu bukannya menjauh mendapat perlakuan yang tak menyenangkan itu. Ia justru semakin banyak berbicara. Celotehan yang sama sekali tak dianggap oleh perempuan mungil.

Tangannya mulai membantu pekerjaan perempuan mungil. Sosok itu mengiringi pekerjaan perempuan mungil dengan cerita dengan tangan yang tetap sigap membantu. Perempuan mungil tetap tak mengindahkan sosok itu. Tak terasa sudah hampir selesai. Perempuan mungil itu nampak menahan senyum. Namun, pertahanannya jebol juga, akhirnya terkikik mendengar beberapa bagian cerita lucu dari sosok itu.

“Ah, akhirnya kamu tertawa juga. Setelah sekuat tenaga kamu menahannya. Yess!” ujar sosok itu. Perempuan mungil hanya menolehnya sepintas, kemudian membereskan perkakas. Sosok itu memegang panganan yang telah jadi.

“Kue apa ini! Kembang goyangnya enggak cantik. Banyak yang gosong. Pasti rasanya pahit.” Sosok itu nampak serius mengamati panganan kecil. Sontak perempuan mungil itu terlihat kembali geram.

“Bodo, lagian siapa elu komentarin pekerjaan gue. Pergi sana!” tangan perempuan mungil mendorong bahu lelaki yang duduk menyandingnya. Sosok itu tidak pergi, panganan di tangannya dimasukkan ke mulutnya. Dia memakannya, matanya bekerjap.

“hmm, kok enak sih nih kembang goyangnya? Manis dan renyah. Berarti prediksiku salah.” Sambil terus mengunyah, sosok itu pergi meninggalkan perempuan mungil. Ia menuju ruang tamu.

Ada kerjap bahagia dari mata perempuan mungil itu. Kemudian ia menyelesaikan pekerjaannya. Setelah pekerjaannya selesai perempuan mungil itu justru masuk ke kamarnya. Sosok itu tetap tak dipedulikan. Ia lewati ruang tamu seolah di ruangan itu tak ada siapa-siapa.

Perempuan mungil itu aku. Sosok itu memang kerap bertandang ke rumahku. Bukan untuk menemuiku maka bukan kewajibanku untuk menemaninya. Dia sahabat pamanku. Mereka bersahabat sejak remaja. Kehadirannya di rumahku sudah tak asing lagi.

Diantara sahabat pamanku, hanya dia yang tak pernah berbincang denganku. Sejak aku kecil, kami tak pernah berbicara begitu banyak. Kalau dia datang hanya menyapa dengan kata ‘hai’ kemudian masuk ke kamar paman. Kalimat terpanjang pada saat paman tak ditemukan. Dia akan bertanya, “Kemana Masmu?”.

Sempat setahun dia tak nampak, seiring kepergian paman yang bekerja di Kalimantan. Sahabat-sahabat paman tetap datang walau intensitasnya tak sesering saat paman di rumah. Hanya dia yang tak ada kabar, seperti ditelan bumi.

Setahun kemudian, aku pun harus meninggalkan orang tua untuk kuliah di Yogyakarta. Baru satu tahun kuliah, paman mengirimkan surat padaku kalau dia akan kembali ke Jakarta. Sosok itu kembali muncul seiring kedatangan paman. Namun, tetap saja dia menjadi sosok yang terlupakan bahkan tak ada.

Setelah kuliahku menginjak semester lima, dia hadir dengan gaya yang berbeda. Tidak seperti sahabat paman yang kukenal di masa kecilku. Kehadirannya tidak lagi sekadar menyapa dengan kata “hai”. Dia datang dengan begitu banyak cerita. Tanpa canggung dia menemani aku di dapur.

Kedatangannya memang tak mengherankan. Justru yang mengherankan celotehan dan tawanya yang diperuntukkan untukku. Aku bingung dan tak tahu bagaimana menghadapinya. Aku begitu tidak siap. Maka hanya jawaban ketus dan bahasa tubuh yang tak bersahabat yang mampu kutampilkan.

Sejak hari itu, kehadirannya seolah bukan lagi untuk paman. Dia hadir menemani libur semesterku di Jakarta. Setiap hari, setelah bekerja dia pasti datang ke rumah. Sampai aku hapal kebiasaan dan jam kehadirannya. Tepat pukul tiga dia selalu menelpon, pukul lima, dia sudah di rumah, pukul delapan malam dia pulang ke rumahnya. Sabtu malam minggu jadwal menginap. Selalu begitu, dan selalu saja orang yang ditemuinya sepulang kerja aku.

Rutinitas yang seolah menjadi candu. Jika satu hari dia tak menelpon pada pukul tiga, atau datang tepat pukul lima maka resah menggayutiku. Rutinitas yang akhirnya harus kutinggalkan karena aku harus kembali ke Yogyakarta untuk belajar.

Komunikasi kami pun menjadi terputus dalam rentang enam bulan ke depan. Ada sesuatu yang seolah menyesak pada saat itu. Aku meninggalkan Jakarta dengan meninggalkan rasa yang tak mampu diterjemahkan. Berpisah dengannya membuatku ingin menangis, enam bulan terasa begitu lama. Namun, ada bersit bahagia jika aku mengingat mata jenakanya. Sejak saat itu hati ini sudah terisi oleh pemilik mata jenaka itu. Sosoknya seolah menjadi doping, membuatku menyusuri hari di Yogyakarta dengan kebahagiaan. Aku belajar dengan semangat dan bahagia.

Entah sugesti atau bukan, nilai-nilai yang tertera di KHS ku melonjak. Tidak drastis, tapi cukup membuat orang tuaku senang. IPK 3,00 kini selalu menghiasi KHS di setiap semesternya. Sejak saat itu sosoknya menghiasi perjalananku. Dua tahun, kebersamaan, dan diakhiri dengan sesuatu yang menyesakkan. Kami harus berpisah.

Perpisahan yang kami juga tak tahu sebabnya. Perpisahan yang tak diiringi dengan pertengkaran atau kemarahan. Perpisahan yang dibalut tanpa kata. Perpisahan yang hanya membuat mata kami berkabut dalam keheningan malam. Perpisahan yang memang menyakitkan namun tak membuatku membencinya.

Berpisah dengannya justru meninggalkan jejak yang begitu kuat. Perlu waktu yang panjang untuk menghapus jejak itu. Kini, setelah lebih dari satu dasawarsa jejak silam itu seolah tetap tak mau terhapus. Justru hadir kembali dan anehnya bukan rasa sakit namun kebahagiaan yang dihadirkan.

Seperti yang pernah kutuliskan dalam buku harianku saat perpisahan itu terjadi.

“Aku tidak menyesal pernah mengenalmu. Bersamamu adalah bahagia. Walaupun kisah kita telah berakhir kujadikan kebersamaan kita kenangan indah. Tidak peduli apakah pernah ada percikan kisah yang membuatku sempat bersedih, pastinya ini akan selalu menjadi kenangan indah.”




Tidak ada komentar:

Posting Komentar