JEJAK SILAM
Sungguh,
kali ini aku tak bisa marah. Mereka terus mencecarku dengan beribu tanya yang
hanya kujawab dengan senyum. Terus mengalir, silih berganti, dan selalu saja
aku hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum. Sikapku itu semakin membuat mereka
penasaran. Bahkan salah satu dari mereka akhirnya meraih daguku. Sedikit memaksa
memalingkan wajahku agar menatapnya. Aku palingkan wajah ini dengan tetap
memberinya senyuman.
Satu
persatu dari mereka akhirnya mengalihkan pembicaraan. Antara letih atau kesal
dengan sikapku, entahlah. Aku juga tak mengerti mengapa hari ini aku begitu
menikmati cecaran tanya dari mereka. Mungkin di waktu yang berbeda, cecaran
tanya itu bisa diinterpretasikan sebagai sindiran, hinaan, ejekan, bahkan
cercaan. Bisa jadi aku akan murka. Namun, hari ini semua kunikmati cecaran
tanya mereka. Salah satu teman yang mendengarnya saja merasa kupingnya panas.
“Mbak, kok bisa sih elu gak marah
denger ocehan orang-orang itu?” pertanyaan yang terlontar dari temanku.
Pertanyaan yang aku pun tak mampu menjawabnya. Hanya saja aku merasa hari ini begitu
membahagiakan, sungguh-sungguh membahagiakan.
“Gue juga enggak tahu, mungkin kalau
pertanyaan itu mereka sampaikan kemarin atau esok, lain lagi ceritanya,”
jawabku. Temanku memandang dengan wajah
yang sulit diterjemahkan. Perpaduan antara kesal dan heran.
“Mbak, kalau gue yang diperlakukan
begitu. Gue akan jawab terima kasih atas perhatiannya. Saya bisa mengurus
masalah saya sendiri. Terus gue pergi ninggalin mereka dengan tampang terjutek,”
Aku pun tak mengerti, sudut hati
sebenarnya menggedor memohon agar mereka menghentikan cecaran itu. Namun, aku
tak mampu menyampaikannya. Hanya anggukan dan senyuman yang mampu kuberikan.
Aku tidak ingin kehilangan momen yang
membahagiakan ini. Rasanya ingin terus menggenggam bahagia ini walau satu hari
saja. Biarlah mereka berusaha merusaknya. Aku akan tetap mempertahankannya
walau hanya satu hari. Hari ini, bahagia ini tetap ingin terengkuh, tak peduli
apa kata mereka.
Kebahagiaan yang datang dari jejak
silam. Jejak yang mungkin hampir terhapus karena iringan masa. Jejak itu nampak
begitu nyata dan jelas menghadirkan sosoknya. Mata itu begitu kukenal, tidak
bulat dan tidak juga kecil. Mata dengan kedua sudut yang tidak berdekatan. Alisnya
menggaris tipis kontras dengan alis tebalku. Hidungnya biasa saja tak bangir
atau lancip kontras dengan hidungku yang agak tinggi. Bibir tipis dengan
sedikit rona merah alami kontras dengan bibirku yang tebal. Telinganya begitu
khas, umumnya orang menyebut bentuk telinga ini dengan istilah caplang. Rambutnya ikal, tipis, terpotong
pendek. Kulitnya kuning kontras dengan kulitku yang sawo matang. Tubuhnya
menjulang begitu kontras dengan tubuh mungilku. Semuanya tergambar utuh sama
seperti pertama aku bertemu dengannya walaupun ada sedikit perubahan pada
tubuhnya. Dulu tubuhnya kurus menjulang, kini, tubuh itu padat berisi menjulang.
Sosok itu kini begitu dekat. Duduk
tepat menyanding. Kami bersisian. Wajahnya tepat di hadapanku. Senyum tipis
menghias bibirnya tidak pernah berubah. Kali ini aku melihat kembali bibirnya
mengembang mengutas senyum. Tatapannya tidak berubah, tetap jenaka sedikit
nakal. Tatapan seperti itu yang selalu membuatku luluh dan memaafkan setiap
khilafnya. Tatapan yang meluluhkan setiap kemarahanku padanya. Tatapan itulah
yang meninggalkan jejak begitu kuat hingga sekarang aku pun belum mampu
menghapus jejaknya. Tatapan yang kerap menggelitik relung rinduku.
Sosok itu hadir dengan keceriaan yang
sama. Memoriku mengais repihan kebersamaan kami. Kebersamaan yang meninggalkan
jejak yang disebut dengan kenangan. Seperti membuka buku harian yang berdebu
karena hampir tak pernah lagi dibuka dan diisi. Satu persatu kilasan itu
terbuka mengais lembar kisah di Februari 2001 sampai Februari 2003. Genap dua tahun
kebersamaan itu terangkai. Kebersamaan yang diiringi dengan keceriaan, gelak,
canda, perdebatan, dan tentu saja tatapan itu. Keceriaan yang selalu dihadirkan
olehnya. Keceriaan yang akhirnya tak kutemui lagi di awal Februari 2003.
Berganti dengan tatapan mata sendu, merunduk, dan berkabut.
sebelas tahun kemudian, di awal tahun
2014 sosoknya menemuiku. Sesaat dan begitu tiba-tiba. Hadir dengan keceriaan
semula, tatapan semula. Hanya saja kali ini tak banyak bicara. Matanya tak
pernah berhenti menatap. Bibirnya pun selalu mengutas senyum. Kehadiran yang
membuat raga ini terpaku. Bibir yang terkatup, lidah pun kelu tak bersuara.
Desah nafas saja yang berkecamuk membentur-benturkan segala yang ada dalam
memori dan rasa yang ada dalam kalbu. Aku tidak mampu mendeskripsi lewat
istilah emosi dan rasa.
Sosoknya menumbuhkan kembali renjana.
Melumpuhkan imun kesadaranku untuk menghapus tiap jejak rasa yang
ditinggalkannya. Kesadaranku hilang, aku terbang dalam bahagia yang tak
tersampaikan raga. Jiwaku melayang, ragaku terpaku. Logikaku tak bekerja dan
tak menanyakan. Seolah terkunci dalam gembok rasa.
Hadirnya kemudian pergi seiring azan
kumandang subuh. Mataku terbuka, mencari sosoknya. Tak kutemukan sosoknya hanya
ada sesuatu yang tengiang. Begitu jelas untaian kalimat yang keluar dari
bibirnya. Perkataan yang terekam dari suaranya yang jernih.
“Rasaku tetap sama dan tak
berubah. Terima kasih, untuk tetap
menjaga rasa itu.”
Perkataan darinya yang sebenarnya
ingin kubalas dengan berondongan pertanyaan yang akhirnya tak mampu
kusampaikan. Dia sudah lenyap, pergi, meninggalkan jejak silam. Jejak yang
sekuat tenaga kuhapus dan perlahan jejak itu mulai tersamar. Namun, hadirnya
kali ini mempertegas jejak yang hampir samar itu.
Kehadirannya yang sesaat dan
tiba-tiba meninggalkan jejak kebahagiaan. “Aneh,” pikirku. Harusnya aku
menangis bukan tersenyum seperti ini. Semestinya aku marah, terluka karena dia
meninggalkanku. Pergi dengan yang lain. Tapi, apa yang terjadi? Justru aku
menghadirkan sosoknya dalam lelap malamku. Mengusik, ketenangan hati yang
begitu lama kurenda. Aku tidak pernah bisa marah terhadapnya walaupun jejak
silam pernah ditancapkan dalam hatiku. Jejak luka yang ditinggalkan itu belum
hilang. Jejak silam yang anehnya tidak membuatku sakit. Jejak silam justru yang
menjadi imun.
Logika, kemana dia bekerja? Aku
mencarimu! Membutuhkanmu mengurai semuanya. Tapi logika itu benar-benar
terkunci rasa. Kini, aku hanya merasa bahagia. Sangat bahagia, sehingga hujan
sepanjang hari seolah nada yang mengiringi tapak kaki ini menari.
Setelah kumandang subuh, kesadaranku
seolah hilang. Aku memang terbangun, mengisi rutinitas pagi seperti biasanya.
Mandi, sholat subuh, mempersiapkan diri, kemudian berangkat kerja. Seperti
biasa pula, aku berangkat saat mentari masih malu-malu menampakkan dirinya.
Hanya saja hari ini kurasa begitu istimewa.
Mentari justru enggan tampak, enggan
memberikan kehangatannya. Gelapnya cakrawala bersahabat dengan rinai-rinainya
belum puas berhenti. Padahal sudah semalaman menemani lelap setiap insan dalam
balutan selimut tebal. Rinainya meresap ke bumi mengantarkan hawa dingin.
Hawa dingin yang tak menggentarkanku
untuk berangkat bekerja. Jejak silam yang semalam hadir benar-benar menjadi
imun. Menguatkanku untuk mau bercengkerama dengan dinginnya cuaca. Meringankan
kakiku, berkecipak di genangan air. Hujan pagi ini kurasa begitu indah.
Payung yang kugunakan memang belum
mampu melindungi dari guyuran air yang tumpah dari langit. Beberapa bagian
tubuhku kuyup. Tetap saja perjalanan kali ini kurasa begitu nikmat. Kemacetan yang
begitu panjang akibat luapan sungai. Makian, supir minibus, teriakan kondektur
dan suara hujan seolah menjadi irama yang terasa indah. Aku begitu menghayati
hari ini dengan bahagia. Logikaku benar-benar terkunci tertutup rasa.
Perjalanan ke tempat kerjaku hari ini
memang panjang. Hampir satu jam aku duduk di kursi minibus yang berjalan
tersendat. Karena tak sabar, supir memutuskan putar balik. Kuperkirakan perjalanan
akan bertambah panjang karena minibus tak berhenti tepat di tempat kerja. Aku
harus berjalan sekitar setengah kilometer lagi. Hujan semakin deras.
Aku berjalan ditemani hujan deras, di
sepanjang perjalanan air menggenang dengan tinggi sekitar 30 cm tak
terhindarkan. Tapi, dengan rasa yang sama ‘kebahagiaan’. Hari ini aku
bercengkerama dengan derasnya hujan, kakiku berkecipak diantara genangan air,
kerap pula melompat. Aku seperti menari bersama air. Dingin tak terasa.
Tiba di tempat kerja, yang kudapatkan
cecaran tanya dari mereka. Setiap perkataan ataupun lontaran tanya dari mereka
seolah memberikan sedikit kehangatan. Cecaran yang sempat memantik api di hati.
Namun, kembali logika terkunci tertutup rasa. Kehadiran jejak silam justru
membuatku menikmati cecaran mereka.
Ah, renjana itu mungkin terlalu kuat.
Sehingga aku tak mempedulikan kata mereka. Aku ingin merengkuh bahagia lewat
hadirnya yang nampak nyata namun semu. Jejak silam yang kini menjadi senjata
melawan gempuran itu.
“Elo, emang gila Mbak!” terlontar
dari temanku. Mendengar ucapannya, aku mengangguk. Menyetujui ucapannya.
Membiarkan kegilaan hari ini dalam bentuk bahagia. Teman andai kau tahu, aku
juga tak mengerti dengan rasa hari ini. Aku tidak sedang jatuh cinta.
Kehadirannya pun tak nyata, namun hadirnya membangkitkan rasa yang begitu
indah. Melebihi jatuh cinta. Begitu
bahagia. Kebahagiaaan yang melemparkanku pada jejak silam.
“Mbak, kayaknya elu kangen deh sama
dia.” Temanku berusaha menganalisis rasaku. Entah analisis dengan logika atau
hanya berdasarkan perasaan saja.
“Bisa jadi, entah aku atau dia.”
Jawabku diiringi dengan senyum. Jejak silam itu memaksaku merunuti kembali
lembar kisah yang tersimpan. Salah satu ruang yang sempat tertutup terkuak. Aku
melihat kembali dan masuk ke dimensi lalu.
Jejak silam menuntun awal kisah.
Tergambar sosok perempuan mungil di depan kompor minyak. Dia sedang membuat
panganan kecil. kembang goyang nama panganan itu. Perempuan itu terlihat begitu menikmati pekerjaannya walau tidak
cekatan. Wajahnya yang coklat tampak berminyak dengan keringat. Tidak ada yang
menarik pada dirinya.
Tanpa disadarinya sosok menjulang
berdiri di depan pintu dapur. Seolah menikmati pekerjaan perempuan mungil itu. Setelah lelah berdiri,
sosok itu mendekat dan duduk tepat di sebelahnya. Perempuan mungil itu tetap asik
dengan pekerjaan, tak menyadari ada sosok yang menyandingnya.
“Lagi buat apa?” suara lembut itu
mengagetkan perempuan mungil. Seraya menoleh ke arah suara itu. Sontak
perempuan mungil itu menunjukkan wajah tak ramah. Selalu begitu jika sosok itu
datang.
“Pertanyaan aneh, udah jelas ngerti,
pake tanya!” jawab perempuan mungil dengan ketus. Sosok itu bukannya menjauh
mendapat perlakuan yang tak menyenangkan itu. Ia justru semakin banyak
berbicara. Celotehan yang sama sekali tak dianggap oleh perempuan mungil.
Tangannya mulai membantu pekerjaan
perempuan mungil. Sosok itu mengiringi pekerjaan perempuan mungil dengan cerita
dengan tangan yang tetap sigap membantu. Perempuan mungil tetap tak
mengindahkan sosok itu. Tak terasa sudah hampir selesai. Perempuan mungil itu
nampak menahan senyum. Namun, pertahanannya jebol juga, akhirnya terkikik
mendengar beberapa bagian cerita lucu dari sosok itu.
“Ah, akhirnya kamu tertawa juga.
Setelah sekuat tenaga kamu menahannya. Yess!” ujar sosok itu. Perempuan mungil
hanya menolehnya sepintas, kemudian membereskan perkakas. Sosok itu memegang
panganan yang telah jadi.
“Kue apa ini! Kembang goyangnya
enggak cantik. Banyak yang gosong. Pasti rasanya pahit.” Sosok itu nampak
serius mengamati panganan kecil. Sontak perempuan mungil itu terlihat kembali
geram.
“Bodo, lagian siapa elu komentarin
pekerjaan gue. Pergi sana!” tangan perempuan mungil mendorong bahu lelaki yang duduk
menyandingnya. Sosok itu tidak pergi, panganan di tangannya dimasukkan ke
mulutnya. Dia memakannya, matanya bekerjap.
“hmm, kok enak sih nih kembang
goyangnya? Manis dan renyah. Berarti prediksiku salah.” Sambil terus mengunyah,
sosok itu pergi meninggalkan perempuan mungil. Ia menuju ruang tamu.
Ada kerjap bahagia dari mata
perempuan mungil itu. Kemudian ia menyelesaikan pekerjaannya. Setelah
pekerjaannya selesai perempuan mungil itu justru masuk ke kamarnya. Sosok itu
tetap tak dipedulikan. Ia lewati ruang tamu seolah di ruangan itu tak ada
siapa-siapa.
Perempuan mungil itu aku. Sosok itu
memang kerap bertandang ke rumahku. Bukan untuk menemuiku maka bukan
kewajibanku untuk menemaninya. Dia sahabat pamanku. Mereka bersahabat sejak
remaja. Kehadirannya di rumahku sudah tak asing lagi.
Diantara sahabat pamanku, hanya dia
yang tak pernah berbincang denganku. Sejak aku kecil, kami tak pernah berbicara
begitu banyak. Kalau dia datang hanya menyapa dengan kata ‘hai’ kemudian masuk
ke kamar paman. Kalimat terpanjang pada saat paman tak ditemukan. Dia akan
bertanya, “Kemana Masmu?”.
Sempat setahun dia tak nampak,
seiring kepergian paman yang bekerja di Kalimantan. Sahabat-sahabat paman tetap
datang walau intensitasnya tak sesering saat paman di rumah. Hanya dia yang tak
ada kabar, seperti ditelan bumi.
Setahun kemudian, aku pun harus
meninggalkan orang tua untuk kuliah di Yogyakarta. Baru satu tahun kuliah,
paman mengirimkan surat padaku kalau dia akan kembali ke Jakarta. Sosok itu
kembali muncul seiring kedatangan paman. Namun, tetap saja dia menjadi sosok
yang terlupakan bahkan tak ada.
Setelah kuliahku menginjak semester
lima, dia hadir dengan gaya yang berbeda. Tidak seperti sahabat paman yang
kukenal di masa kecilku. Kehadirannya tidak lagi sekadar menyapa dengan kata
“hai”. Dia datang dengan begitu banyak cerita. Tanpa canggung dia menemani aku
di dapur.
Kedatangannya memang tak
mengherankan. Justru yang mengherankan celotehan dan tawanya yang diperuntukkan
untukku. Aku bingung dan tak tahu bagaimana menghadapinya. Aku begitu tidak
siap. Maka hanya jawaban ketus dan bahasa tubuh yang tak bersahabat yang mampu
kutampilkan.
Sejak hari itu, kehadirannya seolah
bukan lagi untuk paman. Dia hadir menemani libur semesterku di Jakarta. Setiap
hari, setelah bekerja dia pasti datang ke rumah. Sampai aku hapal kebiasaan dan
jam kehadirannya. Tepat pukul tiga dia selalu menelpon, pukul lima, dia sudah
di rumah, pukul delapan malam dia pulang ke rumahnya. Sabtu malam minggu jadwal
menginap. Selalu begitu, dan selalu saja orang yang ditemuinya sepulang kerja
aku.
Rutinitas yang seolah menjadi candu.
Jika satu hari dia tak menelpon pada pukul tiga, atau datang tepat pukul lima
maka resah menggayutiku. Rutinitas yang akhirnya harus kutinggalkan karena aku
harus kembali ke Yogyakarta untuk belajar.
Komunikasi kami pun menjadi terputus
dalam rentang enam bulan ke depan. Ada sesuatu yang seolah menyesak pada saat
itu. Aku meninggalkan Jakarta dengan meninggalkan rasa yang tak mampu
diterjemahkan. Berpisah dengannya membuatku ingin menangis, enam bulan terasa
begitu lama. Namun, ada bersit bahagia jika aku mengingat mata jenakanya. Sejak
saat itu hati ini sudah terisi oleh pemilik mata jenaka itu. Sosoknya seolah
menjadi doping, membuatku menyusuri hari di Yogyakarta dengan kebahagiaan. Aku
belajar dengan semangat dan bahagia.
Entah sugesti atau bukan, nilai-nilai
yang tertera di KHS ku melonjak. Tidak drastis, tapi cukup membuat orang tuaku
senang. IPK 3,00 kini selalu menghiasi KHS di setiap semesternya. Sejak saat
itu sosoknya menghiasi perjalananku. Dua tahun, kebersamaan, dan diakhiri
dengan sesuatu yang menyesakkan. Kami harus berpisah.
Perpisahan yang kami juga tak tahu
sebabnya. Perpisahan yang tak diiringi dengan pertengkaran atau kemarahan.
Perpisahan yang dibalut tanpa kata. Perpisahan yang hanya membuat mata kami
berkabut dalam keheningan malam. Perpisahan yang memang menyakitkan namun tak
membuatku membencinya.
Berpisah dengannya justru
meninggalkan jejak yang begitu kuat. Perlu waktu yang panjang untuk menghapus
jejak itu. Kini, setelah lebih dari satu dasawarsa jejak silam itu seolah tetap
tak mau terhapus. Justru hadir kembali dan anehnya bukan rasa sakit namun
kebahagiaan yang dihadirkan.
Seperti yang pernah kutuliskan dalam
buku harianku saat perpisahan itu terjadi.
“Aku tidak menyesal pernah
mengenalmu. Bersamamu adalah bahagia. Walaupun kisah kita telah berakhir
kujadikan kebersamaan kita kenangan indah. Tidak peduli apakah pernah ada
percikan kisah yang membuatku sempat bersedih, pastinya ini akan selalu menjadi
kenangan indah.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar