Rabu, 25 Desember 2013

                                                  AKU, KAMU, & LELAKI FILOSOFIS
            Seminggu yang lalu kamu dtg dengan kegamangan terhadap lelaki filosofis itu. Setiap pesan singkatmu menghiasi layar monitor ponsel ini senyum terangkai di bibirku. Jawaban singkat diiringi ledekan selalu menyertai pesan singkat darimu.
            Lelaki filosofis, kami biasa menyebutnya. Entahlah, mengapa dengan mudah kami menyematkan sesuatu yang mungkin terasa begitu agung disematkan pada sosoknya yang masih begitu hijau. Lelaki itu biasa saja. Fisiknya biasa saja, bicaranya biasa saja. Tapi karena biasanya yang membuat kamu begitu memperhatikannya.
            Teringat, seminggu yang lalu kamu datang dengan binar yang berbeda. Seolah mengatakan betapa luar biasanya lelaki yang menurutku masih biasa. Kisah terangkai dariku dan darimu. Membicarakan tentangnya.
            Kamu coba membandingkannya dengan sosok lelaki lain yang luar biasa menurutmu. Namun, kali ini tetap kukatakan dia berbeda dengan lelaki-lelaki yang kamu sebutkan. Entah mengapa pula bibir ini meluncurkan sebuah frasa ‘lelaki filosof’.
            Waktu semakin menggelincir larut, pembicaraan kami pun semakin tak berarah. Aku dan kamu berbincang tentang kegelisahan kita. Berbincang tentang islam, perbedaan, keluarga, mimpi-mimpi kami, kebahagiaan, kesedihan, karya-karya sastra, bahkan hukum dan politik. Di setiap cerita kami selalu saja kamu munculkan sosoknya.  Aku hanya bisa tersenyum. Kepalaku dipenuhi oleh beragam tanya. “Kamu menyukainya atau mengaguminya?”
            Tanya itu tak kulontarkan, hanya sedikit menyimpulkan dari bahasa tubuh dan ekspresinya saja. Kamu juga masih terlalu hijau.  Aku tidak akan melarang rasa yang ada di hatimu. Aku percaya kamu bisa memanajemen hati sehingga rasa yang kau munculkan tak membabi buta.
            Sampai tepat jam sepuluh malam. Kamu harus undur pulang. Ayahmu sudah datang menjemput. Kuantar kamu seperti biasa. Dalam perjalanan kami masih membahas dia, lelaki filosofis itu.
            Setelah kamu pergi, aku pikirkan setiap tanya dan gundahmu. Sayang, kerap tanya dan gundahmu itu hanya mengawang-awang. Aku merasa belum mampu menjawabnya. Aku takut menerjemahkan sesuatu di luar batas kemampuanku.
            Aku sempat memutuskan bertanya pada seseorang. Dia sahabat dunia maya. Terkesan bila menyebutnya sahabat karena dia belum tentu menerima tali persahabatan ini. Setiap aku lihat di sudut kanan layar monitorku ada bulatan kecil berwarna hijau. Di sampingnya tertera namanya, aku merasa ini waktu yang tepat untuk bertanya. Begitu aku siap memainkan jemari pada huruf-huruf yang tertera di keyboard, ketakutan selalu hadir.
            Aku teringat ucapan salah satu temannya. Dia tidak suka perempuan agresif. Kepala dan rasa saat itu sejenak bertolak belakang. Kepalaku berkata aku tidak melakukan apa-apa. Aku tidak merayu atau melakukan apa pun dengan tujuan menggoda. Aku hanya butuh jawaban atas tanyamu yang belum mampu kujawab. Hanya saja rasa berkata lain. Ada ketakutan akan dianggap cari perhatian, alasan agar bisa berbincang dengannya. Bahkan ketakutanku yang terakut adalah jika tanya yang terlontar hanyalah pertanyaan bodoh.
            Setiap akan bertanya dalam hitungan menit aku akan mengurungkan. Hal itu terus berjalan manakala kulihat disudut layar monitorku ada warna hijau dan terpampang namanya. Aku hanya berani melirik dan tak berani memulai. Walau itu hanya sekedar menyapa saja.
            Hari ini, ketika aku sedang membuang segala sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu. Aku temukan selembar kertas berisi rangkaian huruf yang tak rapi. Di sudut kiri tertulis Al Ghasiyah : 21-22. Keberanin untuk bertanya itu muncul.
            Aku tak menduga responnya begitu baik. Dia memberi jawab yang tak pernah kuduga. Begitu jelas dan detail. Aku akhirnya memberanikan untuk bertanya atau berbagi kisah tentang kegelisahan aku dan kamu. Di sela kesibukannya dia mau membaca dan memberi saran. Dia pun memutuskan untuk siap berbagi kisah dan menjawab tanya atau gundah aku dan kamu.
            Aku ingin berteriak di telingamu saat ini. “Hei, aku juga punya teman lelaki filosof!”  Kesadaranku sejenak muncul. Aku putuskan menulisnya di blog ini. Kamu bercerita tentang lelaki filosof, dan kini aku pun bercerita tentang lelaki filosof juga.
            Lelaki filosof yang berkutat dalam background yang sama. “Tahukah kamu?  Ternyata lelaki filosog yang kamu kenal dengan yang kukenal memiliki kesamaan. Latar pendidikan mereka sama. Aku putuskan untuk mengenalkannya padamu. Kamu begitu bersemangat begitu mendengar akan kupertemukan dengannya.
            Aku dan kamu mengurai rencana akhir tahun. Aku, kamu, dan lelaki filosof versimu akan berdiskusi. Di alam terbuka, ditemani gemintang yang bertaburan di hamparan langit malam. Di temani daratan yang menjulang. Ditemani desah angin dan suhu yang dingin.
            Aku, kamu dan lelaki filosof versiku juga akan bertemu untuk berdiskusi. Berjanji bertemu di penghujung tahun. Maka, ketika kamu bertemu dengannya, keluarkan tanya itu, gundahmu. Mungkin dia tak mampu menjawab dengan sempurna. Seperti perkataannya yang saat ini kukutip :
semua orang punya keterbatasan ilmu, hanya pribadi maksum seperti nabi yang ilmu-nya seperti lautan. Karena ilmu tersebut didapat dari zat yang maha luas rahmat dan Kasih-Nya. Oleh karenanya, jawab saja setiap pertanyaan jika sekiranya mengetahui jawabannya. Jika belum tahu, bisa diminta sabar dulu utk mencari literatur terkait persoalan.

            Aku dan kamu punya kisah yang sama terhadap satu sosok yang kita sematkan sebagai lelaki filosofis. Perbedaannya, ketika kamu bercerita tentangnya, ada binar dan ekspresi yang menggambarkan suasana hatimu. Sedangkan aku, mungkin belum berani memakai rasa. Kepalaku berkata kalau aku kagum terhadapnya.
            Aku, kamu, dan lelaki filosofis. Kita berempat dipertemukan dalam ruang dan waktu yang sebenarnya berbeda. Aku dipertemukan dengan lelaki filosofis dalam dimensi maya. Tak bisa saling menyentuh, tapi ditautkan dalam sapa dan rangkai kata. Kamu dengan lelaki filosofis yang lain dipertemukan dalam dimensi sejarah.
            Kali ini aku dan kamu punya cerita di penghujung tahun. Cerita tentang lelaki filosofis. Aku dan kamu tidak dapat memprediksi apa yang terjadi kelak dengan lelaki-lelaki filosofis versi kita. Biar waktu yang menjawabnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar