AKU, KAMU, & LELAKI FILOSOFIS
Seminggu yang lalu kamu
dtg dengan kegamangan terhadap lelaki filosofis itu. Setiap pesan
singkatmu menghiasi layar monitor ponsel ini senyum terangkai di
bibirku. Jawaban singkat diiringi ledekan selalu menyertai pesan singkat
darimu.
Lelaki filosofis, kami biasa menyebutnya.
Entahlah, mengapa dengan mudah kami menyematkan sesuatu yang mungkin
terasa begitu agung disematkan pada sosoknya yang masih begitu hijau.
Lelaki itu biasa saja. Fisiknya biasa saja, bicaranya biasa saja. Tapi
karena biasanya yang membuat kamu begitu memperhatikannya.
Teringat, seminggu yang lalu kamu datang dengan binar yang berbeda.
Seolah mengatakan betapa luar biasanya lelaki yang menurutku masih
biasa. Kisah terangkai dariku dan darimu. Membicarakan tentangnya.
Kamu coba membandingkannya dengan sosok lelaki lain yang luar biasa
menurutmu. Namun, kali ini tetap kukatakan dia berbeda dengan
lelaki-lelaki yang kamu sebutkan. Entah mengapa pula bibir ini
meluncurkan sebuah frasa ‘lelaki filosof’.
Waktu semakin
menggelincir larut, pembicaraan kami pun semakin tak berarah. Aku dan
kamu berbincang tentang kegelisahan kita. Berbincang tentang islam,
perbedaan, keluarga, mimpi-mimpi kami, kebahagiaan, kesedihan,
karya-karya sastra, bahkan hukum dan politik. Di setiap cerita kami
selalu saja kamu munculkan sosoknya. Aku hanya bisa tersenyum. Kepalaku
dipenuhi oleh beragam tanya. “Kamu menyukainya atau mengaguminya?”
Tanya itu tak kulontarkan, hanya sedikit menyimpulkan dari bahasa tubuh
dan ekspresinya saja. Kamu juga masih terlalu hijau. Aku tidak akan
melarang rasa yang ada di hatimu. Aku percaya kamu bisa memanajemen hati
sehingga rasa yang kau munculkan tak membabi buta.
Sampai tepat jam sepuluh malam. Kamu harus undur pulang. Ayahmu sudah
datang menjemput. Kuantar kamu seperti biasa. Dalam perjalanan kami
masih membahas dia, lelaki filosofis itu.
Setelah kamu
pergi, aku pikirkan setiap tanya dan gundahmu. Sayang, kerap tanya dan
gundahmu itu hanya mengawang-awang. Aku merasa belum mampu menjawabnya.
Aku takut menerjemahkan sesuatu di luar batas kemampuanku.
Aku sempat memutuskan bertanya pada seseorang. Dia sahabat dunia maya.
Terkesan bila menyebutnya sahabat karena dia belum tentu menerima tali
persahabatan ini. Setiap aku lihat di sudut kanan layar monitorku ada
bulatan kecil berwarna hijau. Di sampingnya tertera namanya, aku merasa
ini waktu yang tepat untuk bertanya. Begitu aku siap memainkan jemari
pada huruf-huruf yang tertera di keyboard, ketakutan selalu hadir.
Aku teringat ucapan salah satu temannya. Dia tidak suka perempuan
agresif. Kepala dan rasa saat itu sejenak bertolak belakang. Kepalaku
berkata aku tidak melakukan apa-apa. Aku tidak merayu atau melakukan apa
pun dengan tujuan menggoda. Aku hanya butuh jawaban atas tanyamu yang
belum mampu kujawab. Hanya saja rasa berkata lain. Ada ketakutan akan
dianggap cari perhatian, alasan agar bisa berbincang dengannya. Bahkan
ketakutanku yang terakut adalah jika tanya yang terlontar hanyalah
pertanyaan bodoh.
Setiap akan bertanya dalam hitungan
menit aku akan mengurungkan. Hal itu terus berjalan manakala kulihat
disudut layar monitorku ada warna hijau dan terpampang namanya. Aku
hanya berani melirik dan tak berani memulai. Walau itu hanya sekedar
menyapa saja.
Hari ini, ketika aku sedang membuang segala
sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu. Aku temukan selembar kertas
berisi rangkaian huruf yang tak rapi. Di sudut kiri tertulis Al Ghasiyah
: 21-22. Keberanin untuk bertanya itu muncul.
Aku tak
menduga responnya begitu baik. Dia memberi jawab yang tak pernah kuduga.
Begitu jelas dan detail. Aku akhirnya memberanikan untuk bertanya atau
berbagi kisah tentang kegelisahan aku dan kamu. Di sela kesibukannya dia
mau membaca dan memberi saran. Dia pun memutuskan untuk siap berbagi
kisah dan menjawab tanya atau gundah aku dan kamu.
Aku
ingin berteriak di telingamu saat ini. “Hei, aku juga punya teman lelaki
filosof!” Kesadaranku sejenak muncul. Aku putuskan menulisnya di blog
ini. Kamu bercerita tentang lelaki filosof, dan kini aku pun bercerita
tentang lelaki filosof juga.
Lelaki filosof yang berkutat
dalam background yang sama. “Tahukah kamu? Ternyata lelaki filosog
yang kamu kenal dengan yang kukenal memiliki kesamaan. Latar pendidikan
mereka sama. Aku putuskan untuk mengenalkannya padamu. Kamu begitu
bersemangat begitu mendengar akan kupertemukan dengannya.
Aku dan kamu mengurai rencana akhir tahun. Aku, kamu, dan lelaki
filosof versimu akan berdiskusi. Di alam terbuka, ditemani gemintang
yang bertaburan di hamparan langit malam. Di temani daratan yang
menjulang. Ditemani desah angin dan suhu yang dingin.
Aku, kamu dan lelaki filosof versiku juga akan bertemu untuk berdiskusi.
Berjanji bertemu di penghujung tahun. Maka, ketika kamu bertemu
dengannya, keluarkan tanya itu, gundahmu. Mungkin dia tak mampu menjawab
dengan sempurna. Seperti perkataannya yang saat ini kukutip :
semua
orang punya keterbatasan ilmu, hanya pribadi maksum seperti nabi yang
ilmu-nya seperti lautan. Karena ilmu tersebut didapat dari zat yang maha
luas rahmat dan Kasih-Nya. Oleh karenanya, jawab saja setiap pertanyaan
jika sekiranya mengetahui jawabannya. Jika belum tahu, bisa diminta
sabar dulu utk mencari literatur terkait persoalan.
Aku dan kamu punya kisah yang sama terhadap satu sosok yang kita
sematkan sebagai lelaki filosofis. Perbedaannya, ketika kamu bercerita
tentangnya, ada binar dan ekspresi yang menggambarkan suasana hatimu.
Sedangkan aku, mungkin belum berani memakai rasa. Kepalaku berkata kalau
aku kagum terhadapnya.
Aku, kamu, dan lelaki filosofis.
Kita berempat dipertemukan dalam ruang dan waktu yang sebenarnya
berbeda. Aku dipertemukan dengan lelaki filosofis dalam dimensi maya.
Tak bisa saling menyentuh, tapi ditautkan dalam sapa dan rangkai kata.
Kamu dengan lelaki filosofis yang lain dipertemukan dalam dimensi
sejarah.
Kali ini aku dan kamu punya cerita di penghujung
tahun. Cerita tentang lelaki filosofis. Aku dan kamu tidak dapat
memprediksi apa yang terjadi kelak dengan lelaki-lelaki filosofis versi
kita. Biar waktu yang menjawabnya.
+tersenyumlah.gif)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar