AKU, KAMU, & LELAKI FILOSOFIS
Seminggu yang lalu kamu
dtg dengan kegamangan terhadap lelaki filosofis itu. Setiap pesan
singkatmu menghiasi layar monitor ponsel ini senyum terangkai di
bibirku. Jawaban singkat diiringi ledekan selalu menyertai pesan singkat
darimu.
Lelaki filosofis, kami biasa menyebutnya.
Entahlah, mengapa dengan mudah kami menyematkan sesuatu yang mungkin
terasa begitu agung disematkan pada sosoknya yang masih begitu hijau.
Lelaki itu biasa saja. Fisiknya biasa saja, bicaranya biasa saja. Tapi
karena biasanya yang membuat kamu begitu memperhatikannya.
Teringat, seminggu yang lalu kamu datang dengan binar yang berbeda.
Seolah mengatakan betapa luar biasanya lelaki yang menurutku masih
biasa. Kisah terangkai dariku dan darimu. Membicarakan tentangnya.
Kamu coba membandingkannya dengan sosok lelaki lain yang luar biasa
menurutmu. Namun, kali ini tetap kukatakan dia berbeda dengan
lelaki-lelaki yang kamu sebutkan. Entah mengapa pula bibir ini
meluncurkan sebuah frasa ‘lelaki filosof’.
Waktu semakin
menggelincir larut, pembicaraan kami pun semakin tak berarah. Aku dan
kamu berbincang tentang kegelisahan kita. Berbincang tentang islam,
perbedaan, keluarga, mimpi-mimpi kami, kebahagiaan, kesedihan,
karya-karya sastra, bahkan hukum dan politik. Di setiap cerita kami
selalu saja kamu munculkan sosoknya. Aku hanya bisa tersenyum. Kepalaku
dipenuhi oleh beragam tanya. “Kamu menyukainya atau mengaguminya?”
Tanya itu tak kulontarkan, hanya sedikit menyimpulkan dari bahasa tubuh
dan ekspresinya saja. Kamu juga masih terlalu hijau. Aku tidak akan
melarang rasa yang ada di hatimu. Aku percaya kamu bisa memanajemen hati
sehingga rasa yang kau munculkan tak membabi buta.
Sampai tepat jam sepuluh malam. Kamu harus undur pulang. Ayahmu sudah
datang menjemput. Kuantar kamu seperti biasa. Dalam perjalanan kami
masih membahas dia, lelaki filosofis itu.
Setelah kamu
pergi, aku pikirkan setiap tanya dan gundahmu. Sayang, kerap tanya dan
gundahmu itu hanya mengawang-awang. Aku merasa belum mampu menjawabnya.
Aku takut menerjemahkan sesuatu di luar batas kemampuanku.
Aku sempat memutuskan bertanya pada seseorang. Dia sahabat dunia maya.
Terkesan bila menyebutnya sahabat karena dia belum tentu menerima tali
persahabatan ini. Setiap aku lihat di sudut kanan layar monitorku ada
bulatan kecil berwarna hijau. Di sampingnya tertera namanya, aku merasa
ini waktu yang tepat untuk bertanya. Begitu aku siap memainkan jemari
pada huruf-huruf yang tertera di keyboard, ketakutan selalu hadir.
Aku teringat ucapan salah satu temannya. Dia tidak suka perempuan
agresif. Kepala dan rasa saat itu sejenak bertolak belakang. Kepalaku
berkata aku tidak melakukan apa-apa. Aku tidak merayu atau melakukan apa
pun dengan tujuan menggoda. Aku hanya butuh jawaban atas tanyamu yang
belum mampu kujawab. Hanya saja rasa berkata lain. Ada ketakutan akan
dianggap cari perhatian, alasan agar bisa berbincang dengannya. Bahkan
ketakutanku yang terakut adalah jika tanya yang terlontar hanyalah
pertanyaan bodoh.
Setiap akan bertanya dalam hitungan
menit aku akan mengurungkan. Hal itu terus berjalan manakala kulihat
disudut layar monitorku ada warna hijau dan terpampang namanya. Aku
hanya berani melirik dan tak berani memulai. Walau itu hanya sekedar
menyapa saja.
Hari ini, ketika aku sedang membuang segala
sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu. Aku temukan selembar kertas
berisi rangkaian huruf yang tak rapi. Di sudut kiri tertulis Al Ghasiyah
: 21-22. Keberanin untuk bertanya itu muncul.
Aku tak
menduga responnya begitu baik. Dia memberi jawab yang tak pernah kuduga.
Begitu jelas dan detail. Aku akhirnya memberanikan untuk bertanya atau
berbagi kisah tentang kegelisahan aku dan kamu. Di sela kesibukannya dia
mau membaca dan memberi saran. Dia pun memutuskan untuk siap berbagi
kisah dan menjawab tanya atau gundah aku dan kamu.
Aku
ingin berteriak di telingamu saat ini. “Hei, aku juga punya teman lelaki
filosof!” Kesadaranku sejenak muncul. Aku putuskan menulisnya di blog
ini. Kamu bercerita tentang lelaki filosof, dan kini aku pun bercerita
tentang lelaki filosof juga.
Lelaki filosof yang berkutat
dalam background yang sama. “Tahukah kamu? Ternyata lelaki filosog
yang kamu kenal dengan yang kukenal memiliki kesamaan. Latar pendidikan
mereka sama. Aku putuskan untuk mengenalkannya padamu. Kamu begitu
bersemangat begitu mendengar akan kupertemukan dengannya.
Aku dan kamu mengurai rencana akhir tahun. Aku, kamu, dan lelaki
filosof versimu akan berdiskusi. Di alam terbuka, ditemani gemintang
yang bertaburan di hamparan langit malam. Di temani daratan yang
menjulang. Ditemani desah angin dan suhu yang dingin.
Aku, kamu dan lelaki filosof versiku juga akan bertemu untuk berdiskusi.
Berjanji bertemu di penghujung tahun. Maka, ketika kamu bertemu
dengannya, keluarkan tanya itu, gundahmu. Mungkin dia tak mampu menjawab
dengan sempurna. Seperti perkataannya yang saat ini kukutip :
semua
orang punya keterbatasan ilmu, hanya pribadi maksum seperti nabi yang
ilmu-nya seperti lautan. Karena ilmu tersebut didapat dari zat yang maha
luas rahmat dan Kasih-Nya. Oleh karenanya, jawab saja setiap pertanyaan
jika sekiranya mengetahui jawabannya. Jika belum tahu, bisa diminta
sabar dulu utk mencari literatur terkait persoalan.
Aku dan kamu punya kisah yang sama terhadap satu sosok yang kita
sematkan sebagai lelaki filosofis. Perbedaannya, ketika kamu bercerita
tentangnya, ada binar dan ekspresi yang menggambarkan suasana hatimu.
Sedangkan aku, mungkin belum berani memakai rasa. Kepalaku berkata kalau
aku kagum terhadapnya.
Aku, kamu, dan lelaki filosofis.
Kita berempat dipertemukan dalam ruang dan waktu yang sebenarnya
berbeda. Aku dipertemukan dengan lelaki filosofis dalam dimensi maya.
Tak bisa saling menyentuh, tapi ditautkan dalam sapa dan rangkai kata.
Kamu dengan lelaki filosofis yang lain dipertemukan dalam dimensi
sejarah.
Kali ini aku dan kamu punya cerita di penghujung
tahun. Cerita tentang lelaki filosofis. Aku dan kamu tidak dapat
memprediksi apa yang terjadi kelak dengan lelaki-lelaki filosofis versi
kita. Biar waktu yang menjawabnya.
Rabu, 25 Desember 2013
SENANDUNG LARA PENGHUJUNG TAHUN
Mentari enggan menampakkan dirinya hari ini. Hal ini justru berbanding terbalik denganku. Hari ini, aku ingin sekali datang ke tempat itu. Tempat yang selama ini kuhindari. Ada guratan di hati jika aku melihat tempat itu. Tapi kali ini, kekuatan apa yang membuatku memutuskan menuju ke tempat itu.
Aku tahu jika mendatangi tempat itu akan mengoyak luka yang sudah hampir mengering. Hari ini aku seperti menafikkan luka. Bersit yang ada di kepalaku mengatakan “saatnya keluar, menunjukkan keberadaanku kini.” Bersit yang tiba-tiba muncul semakin menguat. Mengajak susunan saraf motoris melangkah berangkat ke tempat itu. Kuhela sejenak nafas, kuambil kemeja merah muda. Kukenakan kemeja itu dan memadankannya dengan celana panjang hitam.
Kemeja merah muda ini kupilih untuk menunjukkan bahwa aku tidak terpuruk. Aku ingin membuktikan aku berani menghadapi mereka.
Sekali lagi kuhela nafas, mematut diri sebelum berangkat. Aku melangkah dengan pasti. Menyusuri jalan yang hampir sebulan ini kujauhi. Bukan bersembunyi, namun sekedar menenangkan rasa. Sejenak menjauh dari tempat ini untuk menghindari bara di hati ini. Berharap bara ini akan meredup bahkan menghilang. Ahh, hari ini bara yang belum redup benar tersebut akan kembali memantik.
Perjalanan menuju tempat itu tidak terlalu jauh. Kutengadahkan kepala, tampak awan hitam memayungi bumi ini. Alam seolah mengerti apa yang berkecamuk di relung ini. Sepanjang perjalanan aku cabuti duri yang berserakan. Duri yang dengan riangnya menancapi telapak kaki. Langkahku kian mendekati tempat itu. Kini luka itu tidak hanya di kaki. Ada tusukan-tusukan pedang yang menghunjam seluruh tubuh. Aku terus melangkah melewati labirin, walau dengan terseok dan berdarah. Siluet tempat itu semakin nampak di mata.
Sesaat aku memandangi siluet tempat itu. Kulihat jalinan besi yang menghubungkan tempatku berpijak dengan tempat itu. Aku akan menyebrang menuju tempat itu dengan seluruh tubuh yang penuh darah. Sejenak aku terpaku, tanganku meraih kain. Kuseka darah di tubuh ini, kemudian membebat setiap luka. Walau terhuyung aku terus melangkah.
Akhirnya aku sampai di tempat itu. Kupandangi pintu gerbang sederhana dan tanah lapangnya. Ada sesuatu yang menghambat rongga pernafasanku. Kelu di bibir ini. Kulafazkan “Bismillahirrahmanirrahim”. Aku utas senyum di bibir.
“Assalamualaikum, Bu!” sapaan itu begitu menenangkan. Kulihat wajah-wajah pemilik sapaan itu. Mereka satu persatu menghampiri dan mencium telapak tanganku. Seperti ada tetesan air es yang menelusup ke dalam setiap organ tubuhku. Begitu sejuk. Kelu itu sejenak menghilang.
“Wa’alaikumsalam,” jawabku. Tubuh-tubuh mungil semakin banyak menghampiriku. “Ibu, kemana aja?” pertanyaan yang hanya mampu kubalas dengan senyuman. Berbagai tanya dari bibir mereka tak mampu kujawab dengan sempurna.
Aku kembali berpijak di tempat ini. Mataku mengarah pada satu ruang. Pintu ruang itu tertutup, menandakan dua kemungkinan. Pertama, ruangan itu kosong. Kedua, ruangan itu terisi orang-orang yang sedang sibuk dan tidak ingin diganggu. Aku dekati ruang itu. Nampak, sesosok lelaki sedang duduk di samping pintu yang tertutup itu.
“Eh, Mbak… cepetan masuk. Lagi rapat tuh!” suara lelaki yang duduk di samping pintu itu membuatku terperangah. “Mbak, kok malah bengong. Udah masuk!”
“Oh, ada rapat ya?” aku hanya mampu berkata seperti itu. Nampaknya aku datang di waktu yang salah. Namun, aku sudah terlanjur datang ke tempat ini. Kembali aku tarik nafas panjang, membuka pintu. Wajah-wajah di dalam ruang itu nampak terperanjat. Hatiku mengumpat, aku tamu yang tak diundang. Bodohnya diriku. Namun, aku berusaha menetralisir keadaan, kubungkukkan badanku, mengucapkan salam dengan menyunggingkan senyuman. Entahlah, apakah mereka tahu, senyum itu palsu.
Selama rapat hatiku tak terkoneksi dengan pimpinan rapat. Di kepalaku saat itu hanya terpikirkan, mungkin inilah saat yang tepat. Bisa jadi ini merupakan jawaban atas doa-doaku. Pilihan yang kujatuhkan di bulan Juli ternyata belum final. Kala keraguan masih meliputi, Allah menggunakan cara-Nya agar aku menetapkan pilihan ini.
Pilihan yang harus kujalani dengan berbagai konsekuensinya. Semoga bukan pilihan yang didasari oleh emosi belaka. Berharap, Allah menuntunku menetapkan pilihan ini. Aku tak tahu ceritaku ke depan, hanya merencanakan segalanya dari nol. Semoga tidak menjadikan penyesalan kelak.
“Ya, kebetulan hari ini Ibu datang, mungkin ada yang ingin disampaikan?” suara pimpinan rapat menghentakkan kesadaranku. Aku hanya mengangguk dan melangkah ke depan. Kali ini kutatap wajah-wajah yang hadir dalam rapat itu. Ada beberapa wajah yang tidak kuharapkan untuk kulihat. Wajah-wajah itu membuat luka yang telah kubebat ini seperti tersiram perasan air jeruk. Namun, ada beberapa wajah yang lain. Begitu dekat, begitu kukenal, dan begitu tulus. Mereka semua menundukkan kepalanya.
Ada gemuruh di dada, begitu bertalu. Aku berharap wajah-wajah tulus itu mendongakkan kepalanya. Aku berharap mereka memandangku, sekadar memberi kekuatan. Keberanian justru tidak muncul di diriku. Aku tidak berani menatap wajah-wajah tulus mereka. Aku pun tak mampu menatap wajah-wajah lain yang telah menghunuskan pedang tepat di hati ini. Aku hanya menikmati ruang segi empat yang sebentar lagi akan kutinggalkan. Kunikmati sejenak jendela, pintu, jajaran meja dan kursi. Pandanganku tertumpu pada sepasang meja dan kursi di pojok belakang.
Meja dan kursi yang pernah menemani hari-hariku di tempat ini. Meja yang disesaki oleh buku-buku, tumpukan soal-soal, dan berbagai administrasi pekerjaanku. Meja itu, kini begitu bersih. Folder ungu itu kosong, tak terisi. Kehadiranku rupanya sudah dianggap tak ada. Aku memang sudah tak layak berada di sini.
Kembali kusapu seluruh ruangan ini, sudah tak ada kata yang mampu terucap. Begitu perih, sehingga kerongkonganku tercekat, lidah pun kelu. Aku hanya mampu berkata maaf, selamat tinggal, dan sukses untuk tempat ini. Aku berusaha agar mata ini tidak berair. Namun, semua sia-sia. Aku luruh dalam derai air dari dua mata ini.
Aku mencoba menata rasa, menyalami satu persatu. Namun, kembali mata ini berlinang membasahi pipi saat aku dipertemukan dengan beberapa wajah-wajah tulus. Saat tangan para sahabat terkait erat dalam jabat dan peluk. Tangisku pun buncah. Merekalah yang pernah memberiku kekuatan di saat aku lelah. Memberiku bahagia, menghibur saat aku berduka. Para sahabat yang menemani hariku mengukir makhluk-makhluk bernyawa yang kami sebut ‘peserta didik’.
Hampir tujuh tahun, bukan waktu yang pendek bagiku untuk berproses. Perjalanan dari 2007 hingga 2013 kurasa cukup untuk membangun mimpi menjadi nyata. Namun, asa itu ternyata tidak tepat kubangun di tempat ini. Aku seperti membangun istana pasir di pinggir pantai. Kapan pun sang ombak bisa melimbur bangunan istana yang kubuat. Tidak hanya berantakan atau menyisakan puing tapi rata, kembali menjadi hamparan pasir.
Saat terakhir aku menjatuhkan pilihan ini kucoba nikmati hembusan udara di tempat ini. Setiap sisi bangunan yang sempat begitu akrab menemaniku berproses. Sapaan mereka yang setiap tahun silih berganti datang dan pergi. Wajah-wajah lugu terbungkus dalam berbagai pembawaan dan karakteristik, mungkin tak dapat kusentuh lagi.
Aku melangkah keluar dari pintu ruang ini. Ada sedikit rongga yang membuatku dapat bernafas. Walau jujur, tak mampu menutupi luka yang telah kucoba bebat. Salah satu wajah-wajah lugu menghampiriku. Mengenggam erat telapak tanganku.
“Ibu, mau kemana?” aku tak mampu berkata-kata. Kupaksakan untuk tersenyum walau justru semakin membuat luka ini melebar. Beberapa di antara mereka menghampiriku. Aku tak berani menatap mereka.
Aku hanya mampu berkata, “Semua harus rajin belajar, tetap semangat!” Aku mencoba mengais-ngais kekuatan yang kupunya agar tidak menangis.
“Ibu, mau pindah ya? Ibu kenapa pindah?” Pertanyaan yang sudah tak mampu kujawab. Aku berusaha berjalan. Mereka mengikutiku dengan tubian pertanyaan yang sama. Mereka berusaha menahanku. Salah satu siswa merengkuhku, memeluk tubuhku. Dia menangis.
“Ibu jangan pindah! Jangan tinggalin aku!” Aku tak mampu berucap. Satu persatu dari mereka mulai menangis. Aku dekap mereka, lirih berkata, “Kalian harus tetap semangat belajar.”
Aku berusaha melepaskan diri dari kerumunan mereka. Berjalan, dengan mata yang sembab. Berjalan dengan menyisakan lara. Aku tak mampu menatap wajah mereka. Wajah-wajah lugu itu kutinggalkan dengan segudang tanya yang tak mereka temukan jawabnya. Hatiku hanya mampu berkata, “Selamat tinggal anak-anakku. Kita hanya berpisah raga. Setidaknya ada guratan yang kutinggalkan di diri kalian. Sedikitnya aku telah mengukir sesuatu pada kalian.”
Di penghujung tahun 2013 mungkin ujung kisahku di tempat ini. Banyak kenangan, dan entahlah apakah ini akan jadi kenangan indah atau kisah kelabu perjalananku. Hanya sedikit yang menyesakkan. Aku tidak mau pergi dengan cara seperti ini. Pergi dengan membawa guratan luka, kepingan mimpi yang tak mampu kubawa bahkan kugenggam. Pergi dengan meninggalkan rasa yang tak sepantasnya kubawa dan membentuk satu kata ‘TRAUMA’.
Akhir tahun 2013 mungkin menjadi titik balik bagiku untuk melangkahkan kaki, memantapkan langkah. Mimpiku mungkin bukan di sini. Mimpiku mungkin di tempat lain. Aku yakin tidak mudah membangun kembali sesuatu yang pernah dimiliki. Aku tahu sulit membangun kembali dari nol. Mungkin butuh perjuangan berlipat ganda. Namun, aku harus yakin ada Allah yang menemani setiap langkahku. Jadi untuk apa takut membuat keputusan besar ini?
Aku anggap ini saat tersulit dalam perjalanan hidupku. Terperosok atau bahkan aku terjun bebas ke jurang yang begitu dalam. Awal tahun depan, aku harus mempersiapkan diri, melangkah satu demi satu. Naik dari jurang untuk kembali ke atas. Bisa jadi aku akan tergelincir, tapi itulah kehidupan. Mimpi itu masih ada. Aku akan cari, ambil satu persatu untuk kubentuk kembali puing-puing asa. Aku akan tetap bersenandung walau dalam lara. Aku teringat slogan yang kudapat saat kuliah. Slogan yang kudapatkan dari salah satu organisasi ekstra kampus tempat aku pernah bernaung. “Yakin Usaha Sampai” Insya Allah. Bismillahirrahmanirrahim….
Mentari enggan menampakkan dirinya hari ini. Hal ini justru berbanding terbalik denganku. Hari ini, aku ingin sekali datang ke tempat itu. Tempat yang selama ini kuhindari. Ada guratan di hati jika aku melihat tempat itu. Tapi kali ini, kekuatan apa yang membuatku memutuskan menuju ke tempat itu.
Aku tahu jika mendatangi tempat itu akan mengoyak luka yang sudah hampir mengering. Hari ini aku seperti menafikkan luka. Bersit yang ada di kepalaku mengatakan “saatnya keluar, menunjukkan keberadaanku kini.” Bersit yang tiba-tiba muncul semakin menguat. Mengajak susunan saraf motoris melangkah berangkat ke tempat itu. Kuhela sejenak nafas, kuambil kemeja merah muda. Kukenakan kemeja itu dan memadankannya dengan celana panjang hitam.
Kemeja merah muda ini kupilih untuk menunjukkan bahwa aku tidak terpuruk. Aku ingin membuktikan aku berani menghadapi mereka.
Sekali lagi kuhela nafas, mematut diri sebelum berangkat. Aku melangkah dengan pasti. Menyusuri jalan yang hampir sebulan ini kujauhi. Bukan bersembunyi, namun sekedar menenangkan rasa. Sejenak menjauh dari tempat ini untuk menghindari bara di hati ini. Berharap bara ini akan meredup bahkan menghilang. Ahh, hari ini bara yang belum redup benar tersebut akan kembali memantik.
Perjalanan menuju tempat itu tidak terlalu jauh. Kutengadahkan kepala, tampak awan hitam memayungi bumi ini. Alam seolah mengerti apa yang berkecamuk di relung ini. Sepanjang perjalanan aku cabuti duri yang berserakan. Duri yang dengan riangnya menancapi telapak kaki. Langkahku kian mendekati tempat itu. Kini luka itu tidak hanya di kaki. Ada tusukan-tusukan pedang yang menghunjam seluruh tubuh. Aku terus melangkah melewati labirin, walau dengan terseok dan berdarah. Siluet tempat itu semakin nampak di mata.
Sesaat aku memandangi siluet tempat itu. Kulihat jalinan besi yang menghubungkan tempatku berpijak dengan tempat itu. Aku akan menyebrang menuju tempat itu dengan seluruh tubuh yang penuh darah. Sejenak aku terpaku, tanganku meraih kain. Kuseka darah di tubuh ini, kemudian membebat setiap luka. Walau terhuyung aku terus melangkah.
Akhirnya aku sampai di tempat itu. Kupandangi pintu gerbang sederhana dan tanah lapangnya. Ada sesuatu yang menghambat rongga pernafasanku. Kelu di bibir ini. Kulafazkan “Bismillahirrahmanirrahim”. Aku utas senyum di bibir.
“Assalamualaikum, Bu!” sapaan itu begitu menenangkan. Kulihat wajah-wajah pemilik sapaan itu. Mereka satu persatu menghampiri dan mencium telapak tanganku. Seperti ada tetesan air es yang menelusup ke dalam setiap organ tubuhku. Begitu sejuk. Kelu itu sejenak menghilang.
“Wa’alaikumsalam,” jawabku. Tubuh-tubuh mungil semakin banyak menghampiriku. “Ibu, kemana aja?” pertanyaan yang hanya mampu kubalas dengan senyuman. Berbagai tanya dari bibir mereka tak mampu kujawab dengan sempurna.
Aku kembali berpijak di tempat ini. Mataku mengarah pada satu ruang. Pintu ruang itu tertutup, menandakan dua kemungkinan. Pertama, ruangan itu kosong. Kedua, ruangan itu terisi orang-orang yang sedang sibuk dan tidak ingin diganggu. Aku dekati ruang itu. Nampak, sesosok lelaki sedang duduk di samping pintu yang tertutup itu.
“Eh, Mbak… cepetan masuk. Lagi rapat tuh!” suara lelaki yang duduk di samping pintu itu membuatku terperangah. “Mbak, kok malah bengong. Udah masuk!”
“Oh, ada rapat ya?” aku hanya mampu berkata seperti itu. Nampaknya aku datang di waktu yang salah. Namun, aku sudah terlanjur datang ke tempat ini. Kembali aku tarik nafas panjang, membuka pintu. Wajah-wajah di dalam ruang itu nampak terperanjat. Hatiku mengumpat, aku tamu yang tak diundang. Bodohnya diriku. Namun, aku berusaha menetralisir keadaan, kubungkukkan badanku, mengucapkan salam dengan menyunggingkan senyuman. Entahlah, apakah mereka tahu, senyum itu palsu.
Selama rapat hatiku tak terkoneksi dengan pimpinan rapat. Di kepalaku saat itu hanya terpikirkan, mungkin inilah saat yang tepat. Bisa jadi ini merupakan jawaban atas doa-doaku. Pilihan yang kujatuhkan di bulan Juli ternyata belum final. Kala keraguan masih meliputi, Allah menggunakan cara-Nya agar aku menetapkan pilihan ini.
Pilihan yang harus kujalani dengan berbagai konsekuensinya. Semoga bukan pilihan yang didasari oleh emosi belaka. Berharap, Allah menuntunku menetapkan pilihan ini. Aku tak tahu ceritaku ke depan, hanya merencanakan segalanya dari nol. Semoga tidak menjadikan penyesalan kelak.
“Ya, kebetulan hari ini Ibu datang, mungkin ada yang ingin disampaikan?” suara pimpinan rapat menghentakkan kesadaranku. Aku hanya mengangguk dan melangkah ke depan. Kali ini kutatap wajah-wajah yang hadir dalam rapat itu. Ada beberapa wajah yang tidak kuharapkan untuk kulihat. Wajah-wajah itu membuat luka yang telah kubebat ini seperti tersiram perasan air jeruk. Namun, ada beberapa wajah yang lain. Begitu dekat, begitu kukenal, dan begitu tulus. Mereka semua menundukkan kepalanya.
Ada gemuruh di dada, begitu bertalu. Aku berharap wajah-wajah tulus itu mendongakkan kepalanya. Aku berharap mereka memandangku, sekadar memberi kekuatan. Keberanian justru tidak muncul di diriku. Aku tidak berani menatap wajah-wajah tulus mereka. Aku pun tak mampu menatap wajah-wajah lain yang telah menghunuskan pedang tepat di hati ini. Aku hanya menikmati ruang segi empat yang sebentar lagi akan kutinggalkan. Kunikmati sejenak jendela, pintu, jajaran meja dan kursi. Pandanganku tertumpu pada sepasang meja dan kursi di pojok belakang.
Meja dan kursi yang pernah menemani hari-hariku di tempat ini. Meja yang disesaki oleh buku-buku, tumpukan soal-soal, dan berbagai administrasi pekerjaanku. Meja itu, kini begitu bersih. Folder ungu itu kosong, tak terisi. Kehadiranku rupanya sudah dianggap tak ada. Aku memang sudah tak layak berada di sini.
Kembali kusapu seluruh ruangan ini, sudah tak ada kata yang mampu terucap. Begitu perih, sehingga kerongkonganku tercekat, lidah pun kelu. Aku hanya mampu berkata maaf, selamat tinggal, dan sukses untuk tempat ini. Aku berusaha agar mata ini tidak berair. Namun, semua sia-sia. Aku luruh dalam derai air dari dua mata ini.
Aku mencoba menata rasa, menyalami satu persatu. Namun, kembali mata ini berlinang membasahi pipi saat aku dipertemukan dengan beberapa wajah-wajah tulus. Saat tangan para sahabat terkait erat dalam jabat dan peluk. Tangisku pun buncah. Merekalah yang pernah memberiku kekuatan di saat aku lelah. Memberiku bahagia, menghibur saat aku berduka. Para sahabat yang menemani hariku mengukir makhluk-makhluk bernyawa yang kami sebut ‘peserta didik’.
Hampir tujuh tahun, bukan waktu yang pendek bagiku untuk berproses. Perjalanan dari 2007 hingga 2013 kurasa cukup untuk membangun mimpi menjadi nyata. Namun, asa itu ternyata tidak tepat kubangun di tempat ini. Aku seperti membangun istana pasir di pinggir pantai. Kapan pun sang ombak bisa melimbur bangunan istana yang kubuat. Tidak hanya berantakan atau menyisakan puing tapi rata, kembali menjadi hamparan pasir.
Saat terakhir aku menjatuhkan pilihan ini kucoba nikmati hembusan udara di tempat ini. Setiap sisi bangunan yang sempat begitu akrab menemaniku berproses. Sapaan mereka yang setiap tahun silih berganti datang dan pergi. Wajah-wajah lugu terbungkus dalam berbagai pembawaan dan karakteristik, mungkin tak dapat kusentuh lagi.
Aku melangkah keluar dari pintu ruang ini. Ada sedikit rongga yang membuatku dapat bernafas. Walau jujur, tak mampu menutupi luka yang telah kucoba bebat. Salah satu wajah-wajah lugu menghampiriku. Mengenggam erat telapak tanganku.
“Ibu, mau kemana?” aku tak mampu berkata-kata. Kupaksakan untuk tersenyum walau justru semakin membuat luka ini melebar. Beberapa di antara mereka menghampiriku. Aku tak berani menatap mereka.
Aku hanya mampu berkata, “Semua harus rajin belajar, tetap semangat!” Aku mencoba mengais-ngais kekuatan yang kupunya agar tidak menangis.
“Ibu, mau pindah ya? Ibu kenapa pindah?” Pertanyaan yang sudah tak mampu kujawab. Aku berusaha berjalan. Mereka mengikutiku dengan tubian pertanyaan yang sama. Mereka berusaha menahanku. Salah satu siswa merengkuhku, memeluk tubuhku. Dia menangis.
“Ibu jangan pindah! Jangan tinggalin aku!” Aku tak mampu berucap. Satu persatu dari mereka mulai menangis. Aku dekap mereka, lirih berkata, “Kalian harus tetap semangat belajar.”
Aku berusaha melepaskan diri dari kerumunan mereka. Berjalan, dengan mata yang sembab. Berjalan dengan menyisakan lara. Aku tak mampu menatap wajah mereka. Wajah-wajah lugu itu kutinggalkan dengan segudang tanya yang tak mereka temukan jawabnya. Hatiku hanya mampu berkata, “Selamat tinggal anak-anakku. Kita hanya berpisah raga. Setidaknya ada guratan yang kutinggalkan di diri kalian. Sedikitnya aku telah mengukir sesuatu pada kalian.”
Di penghujung tahun 2013 mungkin ujung kisahku di tempat ini. Banyak kenangan, dan entahlah apakah ini akan jadi kenangan indah atau kisah kelabu perjalananku. Hanya sedikit yang menyesakkan. Aku tidak mau pergi dengan cara seperti ini. Pergi dengan membawa guratan luka, kepingan mimpi yang tak mampu kubawa bahkan kugenggam. Pergi dengan meninggalkan rasa yang tak sepantasnya kubawa dan membentuk satu kata ‘TRAUMA’.
Akhir tahun 2013 mungkin menjadi titik balik bagiku untuk melangkahkan kaki, memantapkan langkah. Mimpiku mungkin bukan di sini. Mimpiku mungkin di tempat lain. Aku yakin tidak mudah membangun kembali sesuatu yang pernah dimiliki. Aku tahu sulit membangun kembali dari nol. Mungkin butuh perjuangan berlipat ganda. Namun, aku harus yakin ada Allah yang menemani setiap langkahku. Jadi untuk apa takut membuat keputusan besar ini?
Aku anggap ini saat tersulit dalam perjalanan hidupku. Terperosok atau bahkan aku terjun bebas ke jurang yang begitu dalam. Awal tahun depan, aku harus mempersiapkan diri, melangkah satu demi satu. Naik dari jurang untuk kembali ke atas. Bisa jadi aku akan tergelincir, tapi itulah kehidupan. Mimpi itu masih ada. Aku akan cari, ambil satu persatu untuk kubentuk kembali puing-puing asa. Aku akan tetap bersenandung walau dalam lara. Aku teringat slogan yang kudapat saat kuliah. Slogan yang kudapatkan dari salah satu organisasi ekstra kampus tempat aku pernah bernaung. “Yakin Usaha Sampai” Insya Allah. Bismillahirrahmanirrahim….
Jumat, 29 November 2013
Merajut Cita
Mimpiku sejak kecil
bersekolah setinggi mungkin. Tidak hanya terhenti di sekolah menengah atas.
Cita-cita terbesarku adalah menjadi guru. Tak peduli apa kata orang tentang
guru, bagiku cukup menjadi guru, itu saja. Kembali ke masa kanak-kanak, saat
itu ketika orang-orang bertanya aku ingin jadi apa jika dewasa kelak, maka
dengan keyakinan kukatakan “Aku mau jadi guru!”
Anehnya
reaksi yang kudapatkan adalah komentar yang menurutku negatif. Dulu aku tidak
pernah mengerti mengapa orang-orang bersikap seperti itu. Sekarang baru aku
paham mengapa mereka bereaksi seperti itu.
“Mau
jadi guru? ya ampun kenapa gak jadi dokter, sekretaris, direktur, kerja di
bank, arsitek, atau yang lain deh, asal jangan guru!” komentar Mak Ujang. Lain
lagi komentar Pak Narto, “Gaji guru kan kecil Rin, mbok yang lain aja. Udah
gajinya kecil terus kamu bisa ditempatin di daerah transmigrasi, pelosok.”
Semakin
tak kupahami maksud mereka semakin besar keinginanku menjadi guru. Namun,
semakin besar aku dibentrokan pada realitas kehidupan. Kemiskinan sepertinya
melarang tergapainya cita-cita. Bisa sekolah sampai tingkat menengah atas saja
merupakan hal yang patut disyukuri.
“Owalah, Nduk kamu bisa sekolah aja udah
bagus. Kok masih punya keinginan yang aneh-aneh.” Saat ibuku berkata seperti
itu, rasanya separuh cita yang kubangun menghilang. Aku dihadapkan pada
kenyataan, dan harus tahu diri. Perkataan itu disampaikan ibu saat aku duduk di
bangku SMP kelas tiga. Kala aku meminta persetujuan ibu untuk masuk ke SMA
favorit. Sontak ibu tidak menyetujuinya, menurut ibu kalau aku melanjutkan ke
SMA harus kuliah. Sedangkan jika aku melanjutkan ke sekolah kejuruan pasti aku
memiliki keterampilan sehingga peluang bekerja setelah lulus sangat besar.
Aku
dihadapkan pada pilihan melanjutkan sekolah tapi tidak aku sukai atau berhenti
sampai di sini. Pilihan yang ibu berikan padaku. Sulit tapi dari situlah ibu
memperlihatkan makna hidup. Pilihan, hidup adalah sebuah pilihan. Akhirnya
dengan berat hati kuputuskan melanjutkan ke SMK, daripada tidak bersekolah.
Cita-citaku untuk kuliah menguap bahkan hampir menghilang.
Di
kepalaku tidak ada lagi nama-nama universitas, yang ada justru daftar perusahaan
yang siap menampung bekerja setelah lulus nanti. Pintu untuk melanjutkan ke
jenjang yang lebih tinggi seolah tertutup. Tapi, semangatku tidak bisa dipadamkan
begitu saja. Ketika masih ada celah maka aku memberanikan diri untuk
mengintipnya. Sekadar mengintip namun tidak berani memasukinya .Keterampilanku
pun terolah selama berproses di sekolah menengah kejuruan.
Semangat
untuk melanjutkan ke perguruan tinggi kembali membuncah ketika guru BP
mengatakan bahwa siswa SMK juga bisa kuliah. Setiap melewati ruang BP selalu
saja kulirik ruang itu. Berharap guruku melihat dan memanggil. Berharap
kesempatan untuk bertanya bagaimana caranya agar bisa menjadi guru. Tapi
kembali aku harus sadar diri. Kakiku terhenti hanya sampai di depan ruang BP,
kemudian melangkah mundur. Terngiang ucapan ibuku. Teringat masih ada tiga
orang adikku yang masih bersekolah dan butuh biaya juga.
Tuhan
tidak tuli, tidak bisu, dan tidak buta. Aku setuju sekali dengan ungkapan itu.
Setiap mimpi pasti akan menjadi nyata jika kita berani untuk terus
menghidupkannya. Mimpi berbeda dengan khayalan. Mimpi itu nyata, bisa
diwujudkan jika kita mau berusaha dan tidak memadamkannya. Sedangkan khayalan
itu semu, dia terlihat indah sehingga kita tidak pernah mau bangun bahkan akan
marah jika kita disadarkan. Mimpi itu adalah berani bangun, melakukan tindakan,
bergerak, dan mau berpindah, sehingga akhirnya dia bisa menjadi nyata. Khayalan
itu duduk termangu, terdiam, terpesona pada gambaran semu, dan tetap berdiri di
tempat yang sama. Itu terjadi pada diriku.
Mimpi
itu bisa kuwujudkan. Allah memberikan jalan-Nya. Pintu itu tidak lagi tertutup
bahkan aku bisa memasuki pintu itu. Reformasi 1998 bagi bangsa Indonesia
menjadi catatan sejarah runtuhnya sebuah rezim setelah 32 tahun berkuasa.
Bagiku tahun 1998 juga menjadi catatan sejarah hidupku. Aku bisa melanjutkan
pendidikan ke perguruan tinggi. Berbekal sedikit informasi dari guru BP, aku
ikut Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru.
Berbekal
uang sekolah yang kusimpan selama dua tahun, kuberanikan diri membeli formulir
UMPTN[1].
Sejak kelas dua aku memang tidak pernah membayar SPP. Jadi uang yang diberikan
orang tuaku bisa ditabung. Selama dua tahun aku mendapatkan beasiswa. Semua
kebutuhan pendidikanku gratis. Bukan hanya SPP, buku pelajaran, seragam,
keperluan praktik semua tidak dibebankan pada orang tuaku. Orang tuaku pun
sudah mengetahuinya, namun Bapak tetap merasa bertanggung jawab. Jika memang
ada uang lebih maka Bapak memberikan jatah SPP padaku. Kini bekal itulah yang
akhirnya mampu mengantarkanku menempuh pendidikan sampai perguruan tinggi.
“Rin,
sekarang ibu mau tanya kamu mau pilih perguruan tinggi negeri yang favorit atau
yang penting kuliah di negeri?” tanya Bu Widya, guru BP.
“Saya
tidak tahu Bu, yang penting saya bisa jadi guru dan kuliah di perguruan tinggi
negeri. Ibu kan pernah mengatakan kalau kuliah di perguruan tinggi negeri
peluang mendapatkan beasiswanya besar. Ibu tahu kan kondisi keluarga saya?”
jawabku.
“Okey,
sekarang kamu minatnya di mana? Pelajaran apa yang kamu kuasai? Masalahnya Rin,
saingan kamu bukan hanya anak SMK tapi juga anak SMA negeri dan swasta. Bukan
cuma di Jakarta sainganmu tapi seluruh Indonesia.”
“Saya
mau jadi guru Bu. Katanya kalau mau jadi guru ya kuliah di IKIP. Jadi saya mau
ngambil IKIP aja. Saya suka pelajaran Bahasa Inggris dan Alhamdulillah
nilai-nilai bahasa Inggris saya bagus Bu. Ya, saya paham saingannya banyak.
Terus IKIP mana yang harus saya pilih Bu?”
“Sekali
lagi Ibu tanya, yang penting diterima di negeri kan?”
“Ya,
Bu!”
“Dengan
kemampuanmu, dan saingan yang agak berat kamu ambil luar Jawa aja. Rin.berani
gak ambil di Papua atau Kalimantan?”
“Wah,
enggak ah Bu, saya takut. Bapak nyuruh ke Yogya aja sih Bu. Kata Bapak biar gak
terlalu mikirin biaya hidup.”
“Oh,
begitu.Bagaimana kalau ambil Unsoed di Purwokerto. Sepertinya kamu bisa tembus
ke sana. Nah, ini kan ada dua pilihan Rin, satu lagi kamu ambil mana?”
“Saya
mau ambil IKIP Jakarta dan IKIP Yogya aja deh Bu.”
“Ya,
sudah. Sepertinya kamu mampu kok Rin. Tapi di Yogya udah gak IKIP Rin. Tuh
liat, di daftarnya gak ada. Tapi memang wacananya IKIP mau berubah jadi
universitas sih. Jadi tetep manteb milih Jakarta dan Yogya nih? Ya sudah Ibu
doakan kamu berhasil. Belajar, berdoa, tawakal.”
“Iya
Bu, Bismillah.” Aku pun pamit pulang.
Kucium tangan guruku. Dengan bekal informasi dari Bu Widya maka aku memilih dua
perguruan tinggi negeri di Jakarta dan Yogyakarta.
Saat
yang dinanti tiba. Pagi itu aku dengan Maya teman satu sekolah berniat ke
Senayan untuk melihat pengumuman kelulusan. Namun, entah mengapa di tengah
perjalanan Maya membatalkan rencana itu. Akhirnya kami membeli satu surat kabar
yang memuat pengumuman kelulusan masuk perguruan tinggi negeri.
“Gue
yakin enggak diterima deh Rin, jadi males ke Senayan.” Ujar Maya.
“Ye,
kita kan niatnya mau ngelaba, nyari gebetan mahasiswa-mahasiswa yang keren,
pinter, and cakep May, gak jadi dong kita cuci mata?”
Sebenarnya
bukan hanya Maya yang pesimis dengan hasil seleksi tersebut. Aku juga tidak
percaya diri. Jadi aku tidak terlalu memaksa Maya untuk ke Senayan. Kami
membeli surat kabar “Suara Karya” dengan bersegera membawanya ke rumahku.
Selama perjalanan menuju rumah, kami tidak berani membuka halaman pengumuman
tersebut. Kami mungkin merasa khawatir. Jantungku berdebar tak karuan. Semakin
mendekat ke rumah debaran itu semakin menguat. Aku dan Maya yang membuka
halaman demi halaman pengumuman. Kakakku turut membantu. Mata kami menyapu satu
persatu angka-angka dan huruf-huruf yang mencetak nama-nama peserta ujian yang
lulus. Dengan harap-harap cemas kami teliti satu persatu deretan angka dan
huruf itu.
“Rin,
nama elu ada!” teriak kakakku, Mas Aji. “Elo diterima di UI.” Serentak aku dan
Maya menghampiri kakakku.
“Gak
mungkin Mas gue diterima di UI. Gue kan gak daftar di UI. Berarti bukan gue
itu.” Apa yang kukatakan beralasan. Kulihat Maya sudah tidak bersemangat.
Dihempaskan tubuhnya ke kursi. Aku pun mengikutinya. Kusandarkan tubuh ini di
kursi juga. Mas Aji mengambil pulpen dan penggaris. Dia nampak begitu
bersemangat.
“Rin,
mana kartu ujian elo? Gue mau liat nomor ujian elo.”
Kuberikan
kartu ujian kepada Mas Aji. Kulihat dia mencocokkan nomorku dengan angka-angka
yang tertera di surat kabar itu. Kemudian dia menggarisnya.
“Bener,
ini elo Rin.ini nama elo. Nomornya juga sama. Sini kalau gak percaya liat
sendiri!” Mas Aji melambaikan tangannya memanggilku. Aku pun mendekati meja.
Mas Aji mengacak-acak rambutku. Dengan debaran yang semakin menguat aku melihat
pengumuman itu. Aku terlonjak, tak percaya, sekali lagi kucocokkan nomor
ujianku dengan nomor yang tertera di surat kabar itu. Kucocokkan nama yang ada
di kartu ujian dengan nama yang tertera di surat kabar itu. COCOK, tertera
nomor ujianku 298-21-20124, namaku Tripamada Kushrini, dan kode jurusan
universitas 458846. Benar, aku diterima di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia,
di Yogyakarta.
“Alhamdulillah, May, gue diterima.”
Dengan suara bergetar aku berkata pada Maya. Mataku yang semula berkaca-kaca
mulai mengeluarkan bulir-bulir air. Kebahagiaan membuncah. Kupeluk Maya, segera
kuraih surat kabar ini. Ingin berlari menyampaikan pada Bapak, tapi beliau
sedang bekerja. Aku berlari mencari ibuku yang sedang berdagang. Ibuku
menangis, dengan mengucap Alhamdulillah,
diraihnya tubuhku dipelukannya. Mas Aji dan Maya yang mengikuti dari belakang
tersenyum. Hari itu tepat di hari Jumat, 31 Juli 1998 aku tuliskan besar-besar
dalam buku harianku sebagai hari yang bersejarah. Menjadi salah satu momen
bersejarah dalam hidup, kutorehkan sebagai pencapaian awal asaku menggapai
cita-cita.
Yogyakarta,
akhirnya aku datang, ucapku dalam hati. Tempat yang tak pernah kubayangkan.
Ditemani bapak aku mendaftar ulang. Kulihat kampus yang kelak akan menempaku
menjadi sosok yang kuinginkan ‘GURU’. Kini aku berdiri di depan gedung yang
besar. Biasa disebut auditorium. Di auditorium itu bertengger spanduk berukuran
besar menjulang tinggi menyambut kami. Di depan pintu masuk auditorium itu
berjajar meja bertuliskan fakultas dan jurusan. Para panitia penerimaan mahasiswa
baru itu nampak sibuk menuliskan dan memberikan seperangkat buku pedoman
penerimaan mahasiswa baru. Aku setengah tidak percaya, kucubit lengan, pipi
kutampar pelan, memastikan apakah aku sedang tidur atau tidak. Aku akan menjadi
mahasiswa. Senyum mengembang dari bibirku.
Perjalanan
hidupku akan dimulai dari sini, dari
Yogyakarta. Di kampus inilah aku ditempa .Di kampus inilah aku pernah
kecewa, menjadi orang kalah bahkan pecundang. Di kampus ini pula aku belajar
bangkit .Di kampus inilah aku berjuang mewujudkan mimpi kecilku. Di kampus
inilah aku menjemput hidayah. Akhirnya di kampus inlah aku berhasil menjadi
sarjana. Di kampus inilah aku membuat kedua orang tuaku bangga. Terngiang
ucapan bapak,”Walaupun Bapak dan Ibumu enggak sekolah, orang bodoh, tapi Bapak
mau kalian semua jangan jadi orang bodoh. Kalian harus sekolah. Cukup kamilah
yang bodoh, cukup kamilah yang miskin .Kalian harus lebih baik dari kami!”
Perjuangan
dimulai di kota ini. Kota yang dikenal dengan sebutan ‘Kota Pelajar’. Dari
sinilah titik nol perjuanganku merajut cita. Berpisah dengan orang tua. Belajar
menjadi manusia dewasa yang mandiri. Perjuangan yang tak mudah, dan di Yogyalah
aku mendapatkan kejutan-kejutan. Kadangkala beberapa kejutan itu seperti bom
yang meledak, meninggalkan jejak repihan-repihan cerita yang kini tercatat
sebagai sejarah hidupku.
(Dikutip
dari Novel Repihan Kisah, Satu Mozaik, sub judul : Merajut Cita di Yogyakarta)
[1]Singkatan
dari Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Sempat beberapa kali mengalami
pergantian istilah. Sebelumnya bernama Sipenmaru, kemudian UMPTN, SPMB, dan
sekarang bernama SNMPTN.
Langganan:
Komentar (Atom)
+tersenyumlah.gif)