Minggu, 19 Oktober 2014

ESTETIKA (3)

PEMBAHASAN

Sutan Takdir Alisyahbana merupakan ahli tata bahasa Indonesia. Ia juga sastrawan pelopor angkatan Pujangga Baru. Sutan Takdr Alisyahbana merupakan sastrawan yang produktif. Hasil karyanya ada yang berupa prosa (roman/novel, cerpen), puisi, beberapa essay sastra maupun kritik sastra.

Angkatan Pujangga Baru yang lahir sebelum kemerdekaan Inonesia memengaruhi pola pikir sastrawan masa itu. Rasa kebangsaan atau nasionalisme merupakan corak yang khas pada karya-karya S. Takdir Alisyahbana. Setiap karya S.T Alisyahbana menampakkan atau memperlihatkan betapa ia mencintai bangsa dan negaranya (tanah airnya), perjuangannya untuk mengangkat bangsanya agar layak berada di muka bumi ini. Pola pikir atau ide-idenya direflesikan lewat hasil karya-karyanya. 

Karya S. Takdir Alisyahbanadalam bentuk roman yaitu Tak Putus Dirundung Malang pertama kali terbit  tahun 1929, Anak Perempuan Di Sarang Penyamun (1932). Keduanya diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka. Roman Dian yang Tak Kunjung Padam (1932) diterbitkan oleh penerbit Dian Rakyat, dan karyanya yang cukup spektakuler pada masa itu yaitu novel atau roman Layar Terkembang (1936) diterbitkan oleh Balai Pustaka,

Roman-roman karya S. Takdir Alisyahbana dari segi strukturnya mempunyai ciri struktur estetik. Alur dalam keempat roman karya Alisyahbana ini lurus, tidak memunculkan degresi sehingga terlihat menjadi erat dan sederhana. Alur  roman Tak Putus Dirundung Malang diawali dari masa kecil tokoh utama yaitu Mansur dan Laminah beserta keluargnya (orang tua tokoh utama). Penderitaan yang dialami kedua tokoh terus berlanjut dengan meninggalnya kedua orang tua mereka, Kemudian mereka menjalani kehidupan dengan berbagai rintangan. Penderitaan terus berlangsung hingga mereka dewasa. Akhir cerita Laminah bunuh diri karena sudah tidak tahan menghadapi berbagai penderitaan yang menimpanya. Begitu pula dengan Mansur, dia juga bunuh diri dengan menceburkan diri ke laut selepasnya ia keluar dari penjara.

Alur cerita Anaka Perawan di Sarang Penyamun diawali oleh perjalanan saudagar kaya beserta keluarganya (istri dan anak). Kemudian mereka dirampok dan anak perempuan saudagar tersebut dibawa oleh perampok. Peristiwa mulai bergerak dengan keberadaan Sayu dan Samad. Sayu adalah anak gadis saudagar yang bernama H.Sahak. Samad anak buah Medasing (ketua gerombolan perampok). Konflik muncul karena Samad menyukai Sayu. Ia pun menghianati kelompoknya dengan membocorkan pada para saudagar bahwa kelompoknya akan merampok mereka. Saudagar yang mendapat informasi tersebut sudah bersiap-siap. Klimaksnya Medasing dan anak buahnya menjadi gagal merampok. Anak buah Medasing justru satu persatu tewas. Medasing dan Samad yang masih selamat. Anti klimaks cerita ini oleh S. Takdir Alisyahbana dimunculkan dalam bentuk konflik batin tokoh Sayu. Konflik batin itu berupa pertentangan antara ingin menolong Medasing atau membiarkannya terluka dan meninggal di depan matanya. Konflik batin yang muncul adalah rasa dendam dan rasa kemanusiaan, Konflik batin dimunculkan melalui tokoh Sayu. Akhirnya rasa kemanusiaan yang berhasil mengalahkan dendam Sayu pada Medasing. Sayu pun menolong Medasing. Penyelesaian roman ini adalah munculnya kesadaran Medasing atas kesalahan yang selama ini ia perbuat. Akhirnya ia menjadi orang baik dan menjadi suami Sayu.

Alur cerita Dian yang Tak Kunjung Padam dan Layar Terkembang juga memiliki alur yang sama pada dua roman yang sudah dibahas. Eksposisi dengan pengenalan tokoh Yasin dan Molek dalam roman Dian yang Tak Kunjung Padam. Pengenalan tokoh dalam roman Layar Terkemban adalah Tuti, Maria, dan Yusuf. Komplikasi dalam kedua roman tersebut adalah kisah cinta para tokohnya. Percintaan Yasin dan Molek yang tidak disetujui. Kisah cinta Maria dan Yusuf yang tak sampai. Klimaks dalam roman Dian yang Tak Kunjung Padam adalah perpisahan antara Yasin dan Molek. Klimaks roman Layar Terkembang gagalnya pernikahan Maria dan Yusuf karena Maria meninggal. Anti klimaks Dian yang Tak Kunjung Padam Molek meninggal dunia dan Yasin mengasingkan diri. Anti klimaks dalam roman Layar Terkembang adalah pernikahan Yusuf dengan Tuti. Penyelesaian cerita tersebut tertutup (sad atau happy ending).

Berdasarkan teknik perwatakan, roman-roman S.Takdir Alisyahbana tidak lagi berupa analisis langsung, deskripsi fisik pun sedikit. Analisis perwatakan tidak langsung pada roman tersebut beruapa cakapan tokoh, penamaan tokoh, pandangan atau pendapat tokoh-tokoh lain, perilaku tokoh, sikap tokoh, dan pikiran tokoh.

Pusat pengisahan yang digunakan dalam keempat roman tersebut menggunakan metode orang ketiga objektif. Si pencerita sebagai orang ketiga, tapi ia mengetahui semua perbuatan serta kehidupan tokoh-tokohnya.

S.Takdir Alisyahbana tidak lagi memakai gaya bahasa seperti angkatan sebelumnya dalam karya-karyanya. Roman-romannya walau diterbitkan oleh Balai Pustaka gaya ceritanya bersifat sahaja dan sederhana, Gaya bahasa yang digunakan pada keempat roman tersebut menampakkan gaya yang romantik, Sutan T. Alisyahbana memakai bahasa yabg menyentuh perasaan pembacanya terutama pada bagian-bagian yang menyedihkan.

Gaya bahasa yang menunjukkan pengaruh romantik dalam roman Tak Putus dirundung Malang terdapat pada bagian penutup hal 109. Kutipannya sebagai berikut. 
           Air laut biru tua dan amat jernih. Ombak berkejar-kejaran menuju ketapak, makin dekat                     makin besar. Gegap mendahsyatkan bunyinya, memukul tebing seolah-olah akan meruntuhkan.          Air yang segar dan jernih itupun bercerai berai melanting ke segenap penjuru dan jatuh lagi              menjadi buih yang keputih-putihan. Demikianlah berulang-ulang tiada kunjung berhenti. 
Kutipan tersebut merupakan penggambaran perasaan tokoh yaitu Mansur dalam perjalanannya pulang dari penjara. Dia melihat bagaimana suasana alam terutama lautnya. Alisyahbana melukiskan itu dengan penuh khayal dan perasaan.

Penggambaran alam yang merupakan salah satu ciri dari aliran romantik memang tampak pada karya-karya Alisyahbana terutama roman-roman yang terbit pada tahun 30-an. Kutipan dari Dian yang Tak Kunjung Padam yang memperlihatkan penggambaran dan pemujaan alam terlihat pada kutipan berikut.
            Matahari telah lama terbenam di sebelah timur, tapi bayang-bayang cahayanya masih                        kelihatan jua di gunung Seminung yang tinggi itum sehingga puncaknya seperti bara yang                  menyala keunguan.... . Dan di balik selubung yang gelap itu timbullah perlahan-lahan bintang         satu persatu, mula-mula takut berani, tetapi kesudahannya bersinar-sinar sebagai permata yang           tiada ternilai harganya. 
Kutipan tersebut diambil pada akhir kisah Dian yang Tak Kunjung Pada, yaitu pada saat Yasin merasa senang dan lega karena dapat menolong sepasang kekasih yang ingin bersatu. Bagian penutup Dian yang Tak Kunjung Padam ditutup dengan manis oleh Alisyahbana.

Ungkapan perasaan dan kesadaran terhadap alam yang murni bersifat eksotis, misterius namun menumbuhkan emosi yang bebas nampak pada kutipan yang diambil dari novel Layar Terkembang halaman 43.
           Dan dalam kemesraan perasaan yang sedemikian itu dalamlah terinsyaf kepadanya, bahwa manusia itu tiada dapat terlepaskan dari pengaruh alam. Bahwa alam itulah pangkal segala tenaga, asal segala perasaan dan pikiran yang menyebabkan manusia dapat berbuat segala yang luhur dan besar.
Lukisan tentang alam pada roman karya S. Takdir Alisyahbana sepertinya sulit untuk ditemukan kelemahannya atau cacatnya. Jarang sekali terdapat lukisan yang melebihi karya S. Takdir Alisyahbana dalam kesusateraan Indonesia. Percakapan pelaku, antar tokoh dalam roman karyanya terutama Layar Terkembang semuanya masuk akal dan tidak dibuat-buat.

Selain ciri struktur estetis, karya S. Takdir Alisyahbana juga memiliki ciri ekstra estetis karena tema-tema yang diangkat olehnya bersangkutan dengan kehidupan masyarakat. Tema emansipasi wanita dalam roman Layar Terkembang, pekerjaan, individu dan konflik batin. Roman Layar Terkembang emansipasi perempuan diperlihatkan pada dua tokoh utama Maria dan Tuti. Sutan T. Alisyahbana dalam roman ini menggambarkan perjuangan perempuan untuk memperoleh kemerdekaan dan penghargaan (sejajar dengan laki-laki), yang nampak pada tokoh Tuti.

Ide nasionalisme dan cita-cita kebangsaan banyak mewarnai karya sastra Pujangga Baru. Gaya romantik yang ada pada karya Sutan T. Alisyahbana adalah ide-ide yang bersifat orisinil, nasionalis. Cita-cita kebangsaan tersebut tertuang dalam roman Layar Terkembang. Kutipannya sebagai berikut.
         Sukarto teman berdiskusi dan bertukar pikiran. Keduanya merupakan orang yang idealis, orang yang penuh cita-cita terhadap bangsa dan tanah air (Alisyahbana, 1986 : 41). Alisyahbana juga melukiskan betapa cintanya pada tanah air yang terlukiskan dalam roman Layar Terkembang halaman 42.

Roman karya Sutan T. Alisyahbana bersifat didaktis atau mendidik. Keempat karyanya mempunyai pesan moral kepada para pembacanya. Pesan yang terkandung misalnya bagaimana kita menyikapi kehidupan yang keras dalam roman Tak Putus dirundung Malang. Amanat kepada para pembacanya bahwa manusia sebenarnya memiliki sisi yang baik walaupun dia seorang penjahat. Tergantung bagaimana manusia itu mengolah perasaannya terhadap nilai-nilai kemanusiaan terdapat dalam roman Anak Perawan di Sarang Penyamun. Pesan moral yang terkandung dalam roman Dian yang Tak Kunjung Padam adalah tentang kesetiaan dan cinta sejati. Sedangkan dalam novel Layar terkembang amanat yang terkandung yaitu emansipasi wanita dan rasa nasionalisme.




Daftar Pustaka

Abdul Rani, Supratman. 1996. Ikhtisar Sastra Indonesia. Bandung : Pustaka Setia
Alisyahbana, S.T. 1977. Tak Putus dirundung Malang. Jakarta : Dian Rakyat.
-------------------- . 1977. Dian yang Tak Kunjung Padam. Jakarta : Dian Rakyat.
-------------------- . 1986. Anak Perawan di Sarang Penyamun. Jakarta : Balai Pustaka.
-------------------- . 1986. Layar Terkembang. Jakarta : Balai Pustaka
Arifin, Djauhar. 1986. Sejarah Seni Rupa Indonesia. Bandung : Rosda.
Hadimadja, Aoh. 1972. Aliran-aliran Klasik, Romantik dan Realisme dalam Kesusatraan : Dasar-             dasar Perkembangannya. Jakarta : Pustaka Jaya.
Hartoko, Dick dan Rahmanto, B. 1986. Pemandu di dunia Sastra. Yogyakarta : Kanisius.
Sutrisno, FX Mudji. Estetika : Filsafat Keindahan, Yogyakarta : Kanisius.
Teeuw, A. 1965. Pokok dan Tokoh. Yogyakarta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar