Jumat, 17 Oktober 2014

ESTETIKA (2)

KAJIAN TEORI

Romantik adalah istilah yang mencakup berbagai faktor majemuk seperti aliran kebudayaan yang terjadi di Eropa semenjak akhir abad 18. Untuk memahami aliran romantik maka tidak bisa lepas dari masa Renaessance. Pada masa Renaessance ada keyakinan bahwa segala sesuatu dapat dicapai dengan otak (memunculkan rasionalisme). Aliran romantik muncul menentang paham rasio. Menurut (Hadimadja, 1972 : 40) untuk menentukan kebenaran harus pula didengar suara hati, selain itu jiwa manusia bukan saja dari pikiran melainkan juga dari perasaan. Bagi kaum romantis perasaanlah yang memberi garam kehidupan.

Romantisme adalah aliran yang pengarangnya selalu melukiskan sesuatu secara sentimentil, penuh perasaan (Rani, 1966 : 25). Aliran romantis senantiasa memilih kejadian-kejadian dahsyat sebagai tema, penuh khayal dan perasaan, petualangan atau tentang kejadian-kejadian masa kuno atau tentang negeri-negeri Timur yang fantastis. Aliran ini lebih menekankan bagian yang emosional dari tingkah laku dan sifat manusia daripada sifat yang rasional, lebih mengutamakan kepercayaan dan intuisi bukannya kecerdasan. Aliran ini lebih cenderung mengemukakan temperamen senimannya daripada tekniknya (Arifin, 1986 : 125)

Romantik di Perancis dirilis oleh Rousseau dan dipopulerkan oleh Chateubriand dan mencapai puncaknya dalam karya Victor Hugo (1827). Aliran romantik di Inggris mencapai puncaknya melalui karya Walter Scot. Karyanya ini berbentuk roman sejarah. Penyair beraliran romantik yang lainnya adalah Wordsworth, Shelley, Keats, dan Byron. 

Aliran romantik di Indonesia nampak pada karya-karya sastra angkatan 30-an yang dikenal dengan angkatan Pujangga Baru.  Karya sastra beraliran romantik pada prosa, puisi, maupun drama pada masa itu terpengaruh dari negeri Belanda dengan gerakan 80-nya. Sastrawan Pujangga Baru di Indonesia memperlihatkan pengaruh romantik dengan beberapa ciri sebagai berikut.
1. Pemujaan terhadap alam yang murni.
2. Bersifat eksotis, misterius, emosi yang bebas, pemberontakan terhadap gaya hidup kaum borjuis.
3. Memupuk yang orisinil, identitas nasional, foklore dan alam gaib (Hartoko dan Rahmanto, 1986:122).



(Lanjut Pembahasan...)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar