Senin, 17 Maret 2014

fiksi nonfiksi sepenggal kisah di sisa usia



MENAPAKTILASI USIA (KEJUTAN, TIM, & KITA)



“Ibu….diam!”  dari belakang tubuhku dipeluk, bel
um sempat aku menengok ke belakang, mataku tiba-tiba tertutup kain hitam. Aku sangat mengenal suara orang itu. Perempuan belia yang datang seolah hendak menculikku di keramaian pusat perbelanjaan ini.


 

“Ibu, ayo jalan pegang tangan saya, jangan khawatir!” perempuan itu berbisik. Aku berdiri, tangan ini menggenggam erat tangannya. Bingung dan khawatir membuat kerja jantungku keras berdetak. Apa yang diinginkan perempuan belia ini? pikirku. 

“Ibu, kuat sekali menggenggam tanganku, jangan khawatir. Maafkan saya Bu, kami terpaksa melakukan ini. Hanya sebentar saja, sabar ya Bu!” dalam bisikan yang masih lembut, seolah tahu aku begitu ketakutan. Rencana apa yang diperbuatnya untukku. Telinga ini hanya mampu menyampaikan ke otak riuhnya orang berlalu lalang. Otakku mendeskripsikan orang-orang yang berlalu lalang di pusat perbelanjaan ini memandang kami aneh. 

“Kita akan naik lift, sabar ya Bu, maafkan saya, beberapa menit saja.” Sontak aku berjalan mundur. Aku katakan padanya aku takut naik lift dengan mata tertutup seperti ini. Ah, biasanya aku melakukan ini pada siswa-siswaku saat pelatihan dan pengkaderan. Kini, aku yang diberlakukan seperti ini. Baru menyadari bagaimana rasanya berjalan dengan mata tertutup. 

Kurasakan perempuan belia ini begitu menjagaku. Dia berusaha menjaga tubuhku dari himpitan orang-orang yang keluar masuk lift. Kerap dia memelukku agar tubuhku tidak tersentuh oleh orang-orang yang tak kulihat. Aku merasakan dia tidak sendirian. Dalam mata tertutup ini, indera pendengaranku terasa begitu peka. Bisikan begitu halus pada temannya aku bisa dengar. Perempuan belia itu memberi kode untuk menekan tombol. 

“Bu, satu lantai lagi kita tiba. Ibu kenapa diam saja?” perempuan belia itu kembali membisikkan pertanyaannya padaku. Kepalaku sedang menduga-duga apa yang akan mereka lakukan berikutnya. Perempuan belia ini sedang memberikan kejutan untukku. Bersit perasangka buruk sempat muncul. Akankah dia akan menggoyak kepalaku dengan tepung dan telur? Ah, kejutan tak berkelas, kekanak-kanakkan dan tidak cerdas. Tapi, kemudian aku menafikkannya. Tak mungkin mereka membuat kejutan seperti itu. Aku tahu betul perempuan belia itu, begitu pula rekannya. Hanya saja aku tak mampu menerka kejutan macam apa yang mereka perbuat untukku.


Aha, Bu, akhirnya kita sudah sampai.” Perempuan belia itu tetap menuntunku. Tubuhku dalam dekapannya. Dia menghitung langkah kami. Aku begitu ingat, sepuluh langkah, kemudian dia memintaku berhenti. Perempuan belia itu memintaku untuk tetap menatap ke depan saat kain hitam penutup mataku dilepas.

“Ibu, boleh menengok ketika saya berhitung dalam hitungan mundur ya!”  ujar perempuan belia itu seraya melepaskan ikatan penutup mataku. Aku seperti orang buta yang baru selesai operasi netra. Aku merasakan berada di lantai paling atas. Desiran angin yang menerpa tubuh ini memperkuat dugaan. Mata ini perlahan membuka, gambar yang mengabur perlahan membentuk bayangan, semakin lama semakin nampak jelas. Benar, aku di lantai paling atas sebuah gedung pusat perbelanjaan. Aku tatap, jajaran kendaraan, deretan rumah yang membentuk seperti miniatur. Perempuan belia itu menghitung mundur, sampai akhirnya hitungan satu aku membalikkan tubuhku ke belakang.

Dua orang perempuan belia dengan senyum manisnya mendekatiku. Membawa cake kecil, di atasnya ada satu lilin. Mereka menembang sebuah lagu yang kerap kutuliskan liriknya pada saat mereka belajar majas. Tembang milik Andra And The Backbone ‘Sempurna’.

Kau begitu sempurna, di mataku kau begitu indah 
Kau membuat diriku, akan selalu memujamu
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Di setiap langkahku
Ku kan selalu memikirkan dirimu
Tak bisa ku bayangkan
Hidupku tanpa cintamu


janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa



Aku benar-benar mendapat kejutan istimewa. Begitu istimewa dari dua perempuan belia yang begitu luar biasa. Aku tak mampu berkata-kata ketika salah satu perempuan belia yang biasa dipanggil Kakak menyampaikan sesuatu. “Ibu, maafkan aku karena di saat hari jadimu sama sekali tak memberi selamat baik lewat sms maupun lewat media sosial. Karena aku akan memberikan kejutan hari ini. Kami berhasil Bu! Perempuan belia itu bersorak. Kerongkonganku masih tercekat. 

Satu lagi perempuan belia yang biasa disapa Adik, menghampiriku. Belum berkata-berkata, di bibirnya tersungging senyuman. Mata indahnya, sontak membuat kaca-kaca di mata membentuk butiran bening di sudut mata ini. Aku hapus butiran bening dengan sudut jemari.
“Ibu, kami sengaja memasang lilin yang bertuliskan tiga, tanpa ada angka yang mengikuti di belakang angka tiga ini. Tahukah Ibu? karena kita hanya bertiga. Ibu, kakak, dan adik. Three Angels, biasa Ibu menyebutkannya. Lilin kemudian dinyalakan, aku diminta meniupnya. Kemudian kami hidupkan lagi dan kami bertiga meniupnya.

Emosiku tak terbendung tapi Sang Adik nampaknya paham. Dia netralisir keadaan dengan mengajak kami shalat Ashar. Ketika semua sudah berjalan seperti semula, kami pun melanjutkan rencana yang sudah teragendakan.  

Taman Ismail Marzuki adalah tempat yang akan kami tuju. Aku berencana mendaftarkan dua putriku ini mengikuti lomba puisi. Salah satu teman mengabarkan kalau ada lomba membaca puisi dalam rangka ulang tahun Putu Wijaya. 

Perjalanan indah kedua bagi kami setelah pantai itu. Aku ikuti dua perempuan belia itu. Perjalanan kali ini membuat memori ini kembali ke setiap sudut tahun-tahun lalu. Selalu saja ada cerita di tiap pertambahan bilangan usia. Kadang dalam bentuk kejutan atau hanya kumpul-kumpul bersama teman-teman.
Tahun ini, dipertambahan bilangan usia ini, aku tidak membayangkan bahkan tidak menginginkan orang-orang mengingatnya. Entahlah, aku begitu ketakutan. Aku berharap tak ada yang istimewa di tanggal itu. Biarkan hari itu mengalir seperti hari-hari yang lain. Berdoa semoga orang-orang di sekitarku terlupa bahkan dilupakan. 

Bulan ini, di hari itu aku ingin sang waktu sejenak berhenti bukan untuk menyelesaikan kehidupan. Aku hanya berharap sang waktu sedikit bertoleransi mengurangi jatah hidupku di dunia ini. Alam khayaliku pun serentak meminta sang waktu melemparkan jiwa ini ke alam lampau. 

Demi masa… hanya itulah yang akhirnya mampu menyadarkanku. Waktu bukan tidak ingin bertoleransi padaku. Bukankah Tuhan sudah menyampaikan? Layakkah aku menyesal? Bahkan menyalahkan waktu yang begitu patuh pada-Nya. 

Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. Tuhan sudah begitu jelas menyampaikan. Kembali aku harus garis bawahi kata kesabaran. Salah satunya adalah harus berdamai dengan sang waktu. Walaupun tetap berharap semoga hari itu tidak ada kejadian aneh.
Hari itu tiba, aku bernapas lega. Semua berjalan seperti biasa, tak terjadi apa-apa. Aku isi kegiatan di hari itu dengan mengawas siswa kelas XII yang sedang ujian sekolah. Sampai akhirnya salah satu teman mengajar memelukku seraya berkata, “Selamat ya… semoga Allah mengabulkan doamu!” 

Teman-teman yang melihat kemudian satu persatu menyalami, memberi ucapan dan doa. Harapan dan doa yang sama, mereka sampaikan. Aku aminkan setiap doa dan harap teman-teman. Waktu, terima kasih layak tersemat untukmu.   Haru yang tak dapat terdeskripsikan kala untaian doa dan harap terangkai dari  orang-orang  yang peduli dan sayang padaku.

Kejutan hari itu meninggalkan sepenggal kisah di sisa usia. Membawa langkahku menapaki perjalanan usia. Membuka kisah masa kecilku yang tak diperkenalkan dengan tradisi ulang tahun. Ulang tahun asing bagiku. Ulang tahun hanya milik teman-temanku. Aku bahkan tak pernah tahu tanggal lahirku sampai menjejak bangku sekolah dasar. 

Terekam jelas saat itu, aku sudah duduk di kelas lima. Senja menerpa gedung sekolah berlantai dua. Di halamannya berbaris rapi wajah-wajah polos. Mereka berseragam coklat tua dan coklat muda lengkap dengan perlengkapan topi dari anyaman bambu, belati kecil yang terselip diikat pinggang serta gulungan tali putih. Aku, ada dalam barisan itu. Kakak-kakak kelas mengatakan kami akan dilantik. 

Di depan kami Bapak dan Ibu guru serta kakak-kakak Pembina berjajar. Seperti biasa, sebelum upacara kami disiapkan agar barisan rapi. Seorang guru perempuan dengan wajah tegas dan suara nan lantang menyiapkan kami. Upacara berlangsung khidmat. Sampai di penghujung upacara tanpa dinyana sang Ibu guru berwajah tegas dan bersuara nan lantang itu tiba-tiba berdiri di podium. Kami dianggap tidak disiplin. Kami akan dihukum karena ketidaksiplinan kami ketika mengikuti upacara. Sontak, beberapa nama dipanggil, salah satunya adalah aku. 

Rasa takut dan bingung menyelimuti langkahku. Aku tetap mematung di barisan depan dan tak bergeming ke depan. Suara nan lantang kembali memanggilku. Teman-teman menepuk bahuku. Saat itu jantungku seolah ingin lepas. Tubuh mungil ini tergetar melangkah ke depan. Seingatku tiga orang yang maju. Salah satu yang dipanggil sudah menangis. Aku hanya menunduk diam, tidak menangis, namun tidak mampu berkata. 

Apa kesalahanku? Hanya itu yang mampu kukatakan dalam hati. Ibu guru berwajah tegas dengan suara nan lantang itu mendekatiku. Aku semakin tertunduk kaku. Tanganku gemetar ketika beliau mengulurkan gulungan kertas yang katanya berisi catatan-catatan kesalahan. Kami, diminta membaca dengan lantang catatan kesalahan itu. Teman-teman yang berbaris diperintah berhitung. Dalam hitungan ketiga, kami buka gulungan kertas dan membacanya. 

“HARI INI KAMI BERULANG TAHUN, DOAKAN SEMOGA KAMI MENJADI ANAK YANG BERGUNA BAGI NUSA, BANGSA, DAN AGAMA”

Riuh barisan serentak menyanyikan “Selamat Ulang Tahun”. Guru-guru menghampiri kami, dimulai dari ibu kepala. Saat itulah baru aku tahu tanggal lahirku. Kejutan pertama dan begitu mengesankan. kejutan  yang memperkenalkanku dengan kata ulang tahun.  Walaupun untuk tahun-tahun berikutnya tanggal lahirku berjalan seperti biasa. 

Saat menginjak remaja, tanggal lahir biasa dirayakan dengan memecahkan telur di atas kepala dan membalurinya dengan tepung. Aku sempat mendapat perlakuan itu. Namun, kejadian itu tidak terulang lagi di tahun-tahun berikutnya. Ibuku memarahi tindakan teman-teman. Aku dilarang melakukan tindakan seperti itu. Mubazir kata ibu. Kalau mau merayakan ulang tahun mengapa telur dan tepungnya tidak dibuat panganan saja sehingga bisa kita santap bersama. Patuh kuturuti pesan ibu, dan tak berani aku melemparkan atau memecahkan telur ke kepala teman. Aku hanya ikut tertawa saja.

Sejak kejadian kertas bergulung kesalahan itu, aku tahu tanggal lahirku. Namun, aku tak begitu peduli merayakannya. Ketika usiaku beranjak tujuh belas tahun tak ada perayaan apa pun, terlewati begitu saja. Kala tiap remaja mengidamkan usia itu dirayakan dengan istilah “sweet seventeen” aku tidak pernah meminta dan merajuk dirayakan. Kami sudah terbiasa untuk tidak merayakan tanggal lahir. 

Bukan berarti tujuh belas tak meninggalkan cerita. Saat usiaku beranjak tujuh belas tahun seseorang memberikan es cream dan coklat. Laki-laki itu adalah teman kecilku. Teman bermain petak umpet, kelereng, bentengan dan beragam jenis mainan lainnya. Teman kecil yang mengatakan menyukaiku sejak aku memakai seragam biru. Teman kecil yang selalu saja kutertawakan jika berkata suka. Teman kecil yang sempat menemaniku menapaki masa remaja. Teman kecil yang rela bertahun-tahun menungguiku meraih cita di luar kota. Teman kecil yang akhirnya melangkah mundur karena merasa tak mampu mengiringi langkah kakiku yang waktu itu berkata tak ingin terikat.

Perjalanan usiaku berikutnya aku lampaui di kota Gudeg. Di kota itulah mulai ada tradisi memberikan hadiah. Sahabat yang selalu ingat dan memberikan hadiah istimewa adalah gadis cantik yang besar di salah satu kota di Jawa Barat. Sahabat, ingatkah dirimu pertama kalinya kita menapaki bioskop di kota itu. Film fenomenal yang dibintangi Dian Sastro dan Nicholas Saputra. Setelah menonton film itu, tiba-tiba kamu memelukku dan mengucapkan selamat. Aku tidak ingat bahwa itu tanggal lahirku. 

Berikutnya kita menonton dan mungkin itu terakhir kali kamu menemaniku di kota Gudeg. Film 30 hari Mencari Cinta yang kita tonton. Kami tertawa menyaksikan kekonyolan tiga perempuan jomblo yang ingin berusaha menemukan tambatan hatinya. Kala itu, setelah menonton kamu memelukku seraya mengucapkan selamat sekaligus berpamitan kembali ke kotamu. Kamu berhasil menyelesaikan mimpimu di kota gudeg itu. Saat itu aku masih terseok dengan data-data.

Kembali, aku tapaki pertambahan bilangan usia tanpa perayaan. Sampai akhirnya aku kembali ke kota kelahiranku. Bekerja menjadi seorang pengajar. Sejak bekerja itulah tradisi perayaan mulai terbentuk. Kejutan dari murid-murid, teman-teman, hadiah-hadiah, dan traktiran. Walaupun tetap jika di rumah tak pernah ada perayaan.

Beberapa perayaan kuingat,namun ada beberapa kejutan yang terekam kuat dan menjadi kenangan terindah. Kenangan yang membingkai sisa usiaku tentu saja. Kejutan kertas bergulung catatan kesalahan, kejutan dimarahi kepala sekolah dan teman-teman ketika menjadi panitia ujian. Kejutan murid-muridku yang justru membuat mereka terkejut-kejut menantiku di rumah. Dan kejutan bulan ini tahun ini, kejutan istimewa dari dua perempuan belia. 

Kejutan yang mengiringi langkahku, kamu, dan dia ke Taman Ismail Marzuki. Kejutan yang dilakukan justru tidak di tanggal lahirku. Kejutan yang kalian berikan dua hari setelah tanggal itu. Kejutan di malam minggu. Ketika sebagian remaja berkencan atau gelisah merutuki nasibnya yang tidak punya pacar. Kita bertiga justru tidak memikirkan hal itu. 

“Akhirnya Bu, saya bisa ke TIM?” gumam satu perempuan belia yang biasa disapa Kakak. Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Disela kebahagiaannya Sang Kakak masih sempat menyampaikan bahwa sesuatu untukku akan menyusul. Andai dua perempuan belia itu tahu isi hati ini. Tak ada bersit lintasan hadiah dari kalian. Karena kehadiran kalian merupakan hadiah istimewa untukku. Mengutip lirik salah satu lagu “Anugrah terindah yang pernah kumiliki”. 

Sang Adik berjalan dengan keceriaannya. Kakak berteriak, meminta Adik menghentikan racun padanya. Aku hanya mampu menggeleng dan tersenyum. “Bu, tahu gak kenapa dari tadi Ade ketawa terus?” Aku menjawab dengan gelengan.
Kakak menjelaskan, “gini loh Bu, tadi di Kopaja kita tuh ditanya sama keneknya. Mau turun mana? Aku dan Adik serempak menjawab ‘TIM’.”
Adik menambahkan, “Dan, si kenek tanya lagi Bu. Terus kita kompak jawabnya.”
“Emang keneknya tanya apa?” tanyaku.
Kakak menjawab, “keneknya tanya begini Bu. Kalian kakak beradik ya? Serempak kami jawab ya! Dan keneknya ngomong begini, percaya deh, kompak banget sih. Terus Bapaknya sama kan?”
“Lantas apa jawaban kalian?” tanyaku lagi.
“Kami hanya berpandangan, kemudian tertawa geli,” jawab Adik. Kemudian celotehan dari kakak muncul, bahwa mereka itu dilahirkan dari orang tua yang berbeda. Tapi dipersatukan oleh satu ibu yang sama,menjadi bersaudara, adik kakak. 
“Ibu yang mempertemukan kami dalam ikatan persaudaraan ini!”

Senja itu, perjalanan kita dan TIM mengajarkanku banyak hal. Mencintai, persaudaraan, seni, semangat dan mimpi. Salah satu pelajaran yang kita dapatkan saat itu adalah obrolan dengan salah satu pedagang klontong. Saat pedagang itu bercerita kami melihat pancaran kebahagiaan.

“Bapak enggak aneh ya melihat orang-orang itu? aku tunjukkan dengan kepala sekumpulan laki-laki yang duduk-duduk di depang gapura TIM. Pedagang itu mengatakan hal itu bukanlah pemandangan aneh buatnya. Banyak hal yang lebih gila yang pernah dia lihat selama berdagang di sini. Dia contohkan tingkah laku mahasiswa-mahasiswa IKJ atau pelaku seni di tempat ini. kita bertiga melihatnya dengan tawa. Pedagang yang teracuni oleh pelaku seni dan mahasiswa seni.

“Lah, Nona-nona ini mau bukannya ke Monas? kan ada Iwan Fals?” pedagang bertanya pada kami.
Aku menjawab, “Oh, sekarang ya Pak? Bukan besok hari Minggu? Ini lagi ada perlu.”
“Uda, percaya enggak kami kakak beradik?” pertanyaan terlontar dari Kakak. Pedagang itu mengamati dua perempuan belia, kemudian menggeleng.
“Emang gak mirip ya Bang? Perhatiin lagi deh Bang. Mereka itu adik kakak, saya ibunya.” Pedagang itu kembali mengamati kami bertiga. Dia mengatakan kalau aku dan kakak mirip, layak disebut ibu dan anak. Adik tetap dianggap berbeda. Aku menjelaskan kalau kita bertiga itu mirip, sama-sama manis. 

“Iya lah Pak, aku beda sama Kakak, karena kita kan lain Bapak.” Kakak mulai membangun cerita fiksi, aku pun membantu. Kukatakan kalau Adik berayah Minang, sedangkan Kakak ditebak oleh pedagang lahir berayah Sunda. Kami kembali tertawa. Pedagang itu menanyakan maksud kedatangan kami bertiga. Kembali lagi dengan cerita fiksi kukatakan kalau mereka ingin kuliah di IKJ, jadi mereka akan survei lokasi.
Pedagang itu kembali bercerita tentang TIM, yang disebutnya sebagai satu-satunya taman di pusat kota yang geliat seninya begitu tinggi. Dia sampaikan pada kami wacana atau pembicaraan orang-orang di tempat ini berkutat pada seni, kehidupan masyarakat terpinggirkan, dan bahagia. Tidak ada rusuh masalah duit, mereka bahagia dan hidup dengan seni yang mereka geluti. 

Kami seperti mahasiswa baru yang sedang mengalami masa orientasi. Mendengarkan cerita dengan saksama, kadangkala diselingi anggukan. Pedagang itu juga memberikan pesan kepada dua perempuan belia putriku. Mereka boleh mengembangkan kreativitas seni, menjadi gila karena seni, namun tetap menjadi mereka yang seperti ini, menjadi muslimah, perempuan solehah, ujarnya. 

Pedagang itu menambahkan tidak heran kalau orang-orang di sini awet muda.  Dia menunjuk salah satu seniman yang duduk-duduk di gapura. Rambutnya sudah memutih, tapi penampilan dan wajahnya tetap muda. Kami mengangguk entah menyetujui atau meragukan ucapan pedagang itu.
TIM, senja ini mengajarkan kami tentang seni, kebahagiaan, kebersahajaan, dan mungkin konsep awet muda. Di tempat ini pula kita (aku, kamu, dan dia) berdiskusi tentang konsep cantik. Dimulai dari Adik yang berangan-angan berkulit putih. 

“De, dengerin kakak ya… kalau ada laki-laki yang melihatmu dan menatap matamu, bodoh kalau dia tidak tergoda untuk memilikimu. Kamu punya mata yang indah.” Adik nampak malu-malu tersipu. Aku menyetujui ucapan Kakak. Kukatakan Adik itu kalau ke luar negeri banyak yang mau menikahinya.
“Ibu, sejak kecil enggak pernah menyesal punya kulit coklat mungkin cenderung gelap. Cantik itu jadi diri sendiri De!”  Masalah kulit coklat atau sawo matang cenderung gelap akhirnya membuat kami berdiskusi tentang konsep cantik. Memunculkan kesamaan pandangan bahwa cantik itu subjektif mungkin relatif. Iklan atau mungkin media massa yang membuat orang membentuk opini bersama tentang cantik.

Sampai pada kesimpulan diskusi kami, bahwa kami bertiga memang tidak cantik. Kita adalah tiga gadis manis. Adik yang manis dan semakin menarik dengan mata indah, keriangan, kelincahan, dan pastinya cerdas. Adik bagi aku dan Kakak adalah istimewa, multitalenta kami menyebutnya. Kakak, yang manis dengan alisnya yang indah, ketenangan, kekritisannya, dan tentu juga cerdas. Kakak yang dijuluki oleh salah satu temanku, sebagai titisan perempuan belia 100 tahun silam. Perempuan belia yang asupan bacaannya banyak. Sastra dan filsafat adalah salah satu bacaan yang biasa.  Aku setuju dengan pendapatmu teman.

Malam merayapi TIM, kami pun bergegas kembali. Namun, kepulangan kami tidak mengakhiri kisah kita. Malam ini kejutan istimewa diakhiri di sebuah kamar yang tidak besar. Perempuan belia yang kami sapa Kakak memutuskan menginap. Kembali kami mashyuk berbagi kisah. Malam itu, perempuan belia itu mengajakku menapaki masa-masa aku berproses di kota Gudeg. Kubongkar semua catatan dan buku-buku yang pernah kubaca. Dengan kalap perempuan belia itu mengambil enam buku. 

Sepenggal kisah dalam menapaktilasi perjalanan usiaku ini, mungkin tak bisa terangkai semua. Hanya saja jelang kami lelap, dua perempuan belia itu menyadarkanku untuk kembali berani bermimpi. Mereka menyulut semangatku. Usia semestinya tak menghalangiku untuk bercita-cita. Aku yang sempat takut memilin mimpi, kini mencoba mengambil benang-benang harapan. Memilin, merajut, untuk langkah ke depan. Malam, itu kita mematri mimpi, mimpi besar kita adalah memberi pengaruh kepada yang lain. Seperti kutipan firman Tuhan yang kukutip di kisah awal, “Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” 

(Kicauan, mungkin tak terpahami, karena aku pun sedang merenung utk memahami tulisan ini)

Minggu, 26 Januari 2014

Cerpen



JEJAK SILAM

            Sungguh, kali ini aku tak bisa marah. Mereka terus mencecarku dengan beribu tanya yang hanya kujawab dengan senyum. Terus mengalir, silih berganti, dan selalu saja aku hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum. Sikapku itu semakin membuat mereka penasaran. Bahkan salah satu dari mereka akhirnya meraih daguku. Sedikit memaksa memalingkan wajahku agar menatapnya. Aku palingkan wajah ini dengan tetap memberinya senyuman.

            Satu persatu dari mereka akhirnya mengalihkan pembicaraan. Antara letih atau kesal dengan sikapku, entahlah. Aku juga tak mengerti mengapa hari ini aku begitu menikmati cecaran tanya dari mereka. Mungkin di waktu yang berbeda, cecaran tanya itu bisa diinterpretasikan sebagai sindiran, hinaan, ejekan, bahkan cercaan. Bisa jadi aku akan murka. Namun, hari ini semua kunikmati cecaran tanya mereka. Salah satu teman yang mendengarnya saja merasa kupingnya panas.

“Mbak, kok bisa sih elu gak marah denger ocehan orang-orang itu?” pertanyaan yang terlontar dari temanku. Pertanyaan yang aku pun tak mampu menjawabnya. Hanya saja aku merasa hari ini begitu membahagiakan, sungguh-sungguh membahagiakan.

“Gue juga enggak tahu, mungkin kalau pertanyaan itu mereka sampaikan kemarin atau esok, lain lagi ceritanya,” jawabku.  Temanku memandang dengan wajah yang sulit diterjemahkan. Perpaduan antara kesal dan heran.

“Mbak, kalau gue yang diperlakukan begitu. Gue akan jawab terima kasih atas perhatiannya. Saya bisa mengurus masalah saya sendiri. Terus gue pergi ninggalin mereka dengan tampang terjutek,”

Aku pun tak mengerti, sudut hati sebenarnya menggedor memohon agar mereka menghentikan cecaran itu. Namun, aku tak mampu menyampaikannya. Hanya anggukan dan senyuman yang mampu kuberikan.

Aku tidak ingin kehilangan momen yang membahagiakan ini. Rasanya ingin terus menggenggam bahagia ini walau satu hari saja. Biarlah mereka berusaha merusaknya. Aku akan tetap mempertahankannya walau hanya satu hari. Hari ini, bahagia ini tetap ingin terengkuh, tak peduli apa kata mereka.

Kebahagiaan yang datang dari jejak silam. Jejak yang mungkin hampir terhapus karena iringan masa. Jejak itu nampak begitu nyata dan jelas menghadirkan sosoknya. Mata itu begitu kukenal, tidak bulat dan tidak juga kecil. Mata dengan kedua sudut yang tidak berdekatan. Alisnya menggaris tipis kontras dengan alis tebalku. Hidungnya biasa saja tak bangir atau lancip kontras dengan hidungku yang agak tinggi. Bibir tipis dengan sedikit rona merah alami kontras dengan bibirku yang tebal. Telinganya begitu khas, umumnya orang menyebut bentuk telinga ini dengan istilah caplang. Rambutnya ikal, tipis, terpotong pendek. Kulitnya kuning kontras dengan kulitku yang sawo matang. Tubuhnya menjulang begitu kontras dengan tubuh mungilku. Semuanya tergambar utuh sama seperti pertama aku bertemu dengannya walaupun ada sedikit perubahan pada tubuhnya. Dulu tubuhnya kurus menjulang, kini, tubuh itu padat berisi menjulang.

Sosok itu kini begitu dekat. Duduk tepat menyanding. Kami bersisian. Wajahnya tepat di hadapanku. Senyum tipis menghias bibirnya tidak pernah berubah. Kali ini aku melihat kembali bibirnya mengembang mengutas senyum. Tatapannya tidak berubah, tetap jenaka sedikit nakal. Tatapan seperti itu yang selalu membuatku luluh dan memaafkan setiap khilafnya. Tatapan yang meluluhkan setiap kemarahanku padanya. Tatapan itulah yang meninggalkan jejak begitu kuat hingga sekarang aku pun belum mampu menghapus jejaknya. Tatapan yang kerap menggelitik relung rinduku.

Sosok itu hadir dengan keceriaan yang sama. Memoriku mengais repihan kebersamaan kami. Kebersamaan yang meninggalkan jejak yang disebut dengan kenangan. Seperti membuka buku harian yang berdebu karena hampir tak pernah lagi dibuka dan diisi. Satu persatu kilasan itu terbuka mengais lembar kisah di Februari 2001 sampai Februari 2003. Genap dua tahun kebersamaan itu terangkai. Kebersamaan yang diiringi dengan keceriaan, gelak, canda, perdebatan, dan tentu saja tatapan itu. Keceriaan yang selalu dihadirkan olehnya. Keceriaan yang akhirnya tak kutemui lagi di awal Februari 2003. Berganti dengan tatapan mata sendu, merunduk, dan berkabut.

sebelas tahun kemudian, di awal tahun 2014 sosoknya menemuiku. Sesaat dan begitu tiba-tiba. Hadir dengan keceriaan semula, tatapan semula. Hanya saja kali ini tak banyak bicara. Matanya tak pernah berhenti menatap. Bibirnya pun selalu mengutas senyum. Kehadiran yang membuat raga ini terpaku. Bibir yang terkatup, lidah pun kelu tak bersuara. Desah nafas saja yang berkecamuk membentur-benturkan segala yang ada dalam memori dan rasa yang ada dalam kalbu. Aku tidak mampu mendeskripsi lewat istilah emosi dan rasa.

Sosoknya menumbuhkan kembali renjana. Melumpuhkan imun kesadaranku untuk menghapus tiap jejak rasa yang ditinggalkannya. Kesadaranku hilang, aku terbang dalam bahagia yang tak tersampaikan raga. Jiwaku melayang, ragaku terpaku. Logikaku tak bekerja dan tak menanyakan. Seolah terkunci dalam gembok rasa.

Hadirnya kemudian pergi seiring azan kumandang subuh. Mataku terbuka, mencari sosoknya. Tak kutemukan sosoknya hanya ada sesuatu yang tengiang. Begitu jelas untaian kalimat yang keluar dari bibirnya. Perkataan yang terekam dari suaranya yang jernih.

“Rasaku tetap sama dan tak berubah.  Terima kasih, untuk tetap menjaga rasa itu.”

Perkataan darinya yang sebenarnya ingin kubalas dengan berondongan pertanyaan yang akhirnya tak mampu kusampaikan. Dia sudah lenyap, pergi, meninggalkan jejak silam. Jejak yang sekuat tenaga kuhapus dan perlahan jejak itu mulai tersamar. Namun, hadirnya kali ini mempertegas jejak yang hampir samar itu.

Kehadirannya yang sesaat dan tiba-tiba meninggalkan jejak kebahagiaan. “Aneh,” pikirku. Harusnya aku menangis bukan tersenyum seperti ini. Semestinya aku marah, terluka karena dia meninggalkanku. Pergi dengan yang lain. Tapi, apa yang terjadi? Justru aku menghadirkan sosoknya dalam lelap malamku. Mengusik, ketenangan hati yang begitu lama kurenda. Aku tidak pernah bisa marah terhadapnya walaupun jejak silam pernah ditancapkan dalam hatiku. Jejak luka yang ditinggalkan itu belum hilang. Jejak silam yang anehnya tidak membuatku sakit. Jejak silam justru yang menjadi imun.

Logika, kemana dia bekerja? Aku mencarimu! Membutuhkanmu mengurai semuanya. Tapi logika itu benar-benar terkunci rasa. Kini, aku hanya merasa bahagia. Sangat bahagia, sehingga hujan sepanjang hari seolah nada yang mengiringi tapak kaki ini menari.

Setelah kumandang subuh, kesadaranku seolah hilang. Aku memang terbangun, mengisi rutinitas pagi seperti biasanya. Mandi, sholat subuh, mempersiapkan diri, kemudian berangkat kerja. Seperti biasa pula, aku berangkat saat mentari masih malu-malu menampakkan dirinya. Hanya saja hari ini kurasa begitu istimewa.

Mentari justru enggan tampak, enggan memberikan kehangatannya. Gelapnya cakrawala bersahabat dengan rinai-rinainya belum puas berhenti. Padahal sudah semalaman menemani lelap setiap insan dalam balutan selimut tebal. Rinainya meresap ke bumi mengantarkan hawa dingin.

Hawa dingin yang tak menggentarkanku untuk berangkat bekerja. Jejak silam yang semalam hadir benar-benar menjadi imun. Menguatkanku untuk mau bercengkerama dengan dinginnya cuaca. Meringankan kakiku, berkecipak di genangan air. Hujan pagi ini kurasa begitu indah.

Payung yang kugunakan memang belum mampu melindungi dari guyuran air yang tumpah dari langit. Beberapa bagian tubuhku kuyup. Tetap saja perjalanan kali ini kurasa begitu nikmat. Kemacetan yang begitu panjang akibat luapan sungai. Makian, supir minibus, teriakan kondektur dan suara hujan seolah menjadi irama yang terasa indah. Aku begitu menghayati hari ini dengan bahagia. Logikaku benar-benar terkunci tertutup rasa.

Perjalanan ke tempat kerjaku hari ini memang panjang. Hampir satu jam aku duduk di kursi minibus yang berjalan tersendat. Karena tak sabar, supir memutuskan putar balik. Kuperkirakan perjalanan akan bertambah panjang karena minibus tak berhenti tepat di tempat kerja. Aku harus berjalan sekitar setengah kilometer lagi. Hujan semakin deras.

Aku berjalan ditemani hujan deras, di sepanjang perjalanan air menggenang dengan tinggi sekitar 30 cm tak terhindarkan. Tapi, dengan rasa yang sama ‘kebahagiaan’. Hari ini aku bercengkerama dengan derasnya hujan, kakiku berkecipak diantara genangan air, kerap pula melompat. Aku seperti menari bersama air. Dingin tak terasa.

Tiba di tempat kerja, yang kudapatkan cecaran tanya dari mereka. Setiap perkataan ataupun lontaran tanya dari mereka seolah memberikan sedikit kehangatan. Cecaran yang sempat memantik api di hati. Namun, kembali logika terkunci tertutup rasa. Kehadiran jejak silam justru membuatku menikmati cecaran mereka.

Ah, renjana itu mungkin terlalu kuat. Sehingga aku tak mempedulikan kata mereka. Aku ingin merengkuh bahagia lewat hadirnya yang nampak nyata namun semu. Jejak silam yang kini menjadi senjata melawan gempuran itu.

“Elo, emang gila Mbak!” terlontar dari temanku. Mendengar ucapannya, aku mengangguk. Menyetujui ucapannya. Membiarkan kegilaan hari ini dalam bentuk bahagia. Teman andai kau tahu, aku juga tak mengerti dengan rasa hari ini. Aku tidak sedang jatuh cinta. Kehadirannya pun tak nyata, namun hadirnya membangkitkan rasa yang begitu indah. Melebihi  jatuh cinta. Begitu bahagia. Kebahagiaaan yang melemparkanku pada jejak silam.

“Mbak, kayaknya elu kangen deh sama dia.” Temanku berusaha menganalisis rasaku. Entah analisis dengan logika atau hanya berdasarkan perasaan saja.

“Bisa jadi, entah aku atau dia.” Jawabku diiringi dengan senyum. Jejak silam itu memaksaku merunuti kembali lembar kisah yang tersimpan. Salah satu ruang yang sempat tertutup terkuak. Aku melihat kembali dan masuk ke dimensi lalu.

Jejak silam menuntun awal kisah. Tergambar sosok perempuan mungil di depan kompor minyak. Dia sedang membuat panganan kecil. kembang goyang nama panganan itu.  Perempuan itu terlihat  begitu menikmati pekerjaannya walau tidak cekatan. Wajahnya yang coklat tampak berminyak dengan keringat. Tidak ada yang menarik pada dirinya.

Tanpa disadarinya sosok menjulang berdiri di depan pintu dapur. Seolah menikmati pekerjaan  perempuan mungil itu. Setelah lelah berdiri, sosok itu mendekat dan duduk tepat di sebelahnya. Perempuan mungil itu tetap asik dengan pekerjaan, tak menyadari ada sosok yang menyandingnya.

“Lagi buat apa?” suara lembut itu mengagetkan perempuan mungil. Seraya menoleh ke arah suara itu. Sontak perempuan mungil itu menunjukkan wajah tak ramah. Selalu begitu jika sosok itu datang.

“Pertanyaan aneh, udah jelas ngerti, pake tanya!” jawab perempuan mungil dengan ketus. Sosok itu bukannya menjauh mendapat perlakuan yang tak menyenangkan itu. Ia justru semakin banyak berbicara. Celotehan yang sama sekali tak dianggap oleh perempuan mungil.

Tangannya mulai membantu pekerjaan perempuan mungil. Sosok itu mengiringi pekerjaan perempuan mungil dengan cerita dengan tangan yang tetap sigap membantu. Perempuan mungil tetap tak mengindahkan sosok itu. Tak terasa sudah hampir selesai. Perempuan mungil itu nampak menahan senyum. Namun, pertahanannya jebol juga, akhirnya terkikik mendengar beberapa bagian cerita lucu dari sosok itu.

“Ah, akhirnya kamu tertawa juga. Setelah sekuat tenaga kamu menahannya. Yess!” ujar sosok itu. Perempuan mungil hanya menolehnya sepintas, kemudian membereskan perkakas. Sosok itu memegang panganan yang telah jadi.

“Kue apa ini! Kembang goyangnya enggak cantik. Banyak yang gosong. Pasti rasanya pahit.” Sosok itu nampak serius mengamati panganan kecil. Sontak perempuan mungil itu terlihat kembali geram.

“Bodo, lagian siapa elu komentarin pekerjaan gue. Pergi sana!” tangan perempuan mungil mendorong bahu lelaki yang duduk menyandingnya. Sosok itu tidak pergi, panganan di tangannya dimasukkan ke mulutnya. Dia memakannya, matanya bekerjap.

“hmm, kok enak sih nih kembang goyangnya? Manis dan renyah. Berarti prediksiku salah.” Sambil terus mengunyah, sosok itu pergi meninggalkan perempuan mungil. Ia menuju ruang tamu.

Ada kerjap bahagia dari mata perempuan mungil itu. Kemudian ia menyelesaikan pekerjaannya. Setelah pekerjaannya selesai perempuan mungil itu justru masuk ke kamarnya. Sosok itu tetap tak dipedulikan. Ia lewati ruang tamu seolah di ruangan itu tak ada siapa-siapa.

Perempuan mungil itu aku. Sosok itu memang kerap bertandang ke rumahku. Bukan untuk menemuiku maka bukan kewajibanku untuk menemaninya. Dia sahabat pamanku. Mereka bersahabat sejak remaja. Kehadirannya di rumahku sudah tak asing lagi.

Diantara sahabat pamanku, hanya dia yang tak pernah berbincang denganku. Sejak aku kecil, kami tak pernah berbicara begitu banyak. Kalau dia datang hanya menyapa dengan kata ‘hai’ kemudian masuk ke kamar paman. Kalimat terpanjang pada saat paman tak ditemukan. Dia akan bertanya, “Kemana Masmu?”.

Sempat setahun dia tak nampak, seiring kepergian paman yang bekerja di Kalimantan. Sahabat-sahabat paman tetap datang walau intensitasnya tak sesering saat paman di rumah. Hanya dia yang tak ada kabar, seperti ditelan bumi.

Setahun kemudian, aku pun harus meninggalkan orang tua untuk kuliah di Yogyakarta. Baru satu tahun kuliah, paman mengirimkan surat padaku kalau dia akan kembali ke Jakarta. Sosok itu kembali muncul seiring kedatangan paman. Namun, tetap saja dia menjadi sosok yang terlupakan bahkan tak ada.

Setelah kuliahku menginjak semester lima, dia hadir dengan gaya yang berbeda. Tidak seperti sahabat paman yang kukenal di masa kecilku. Kehadirannya tidak lagi sekadar menyapa dengan kata “hai”. Dia datang dengan begitu banyak cerita. Tanpa canggung dia menemani aku di dapur.

Kedatangannya memang tak mengherankan. Justru yang mengherankan celotehan dan tawanya yang diperuntukkan untukku. Aku bingung dan tak tahu bagaimana menghadapinya. Aku begitu tidak siap. Maka hanya jawaban ketus dan bahasa tubuh yang tak bersahabat yang mampu kutampilkan.

Sejak hari itu, kehadirannya seolah bukan lagi untuk paman. Dia hadir menemani libur semesterku di Jakarta. Setiap hari, setelah bekerja dia pasti datang ke rumah. Sampai aku hapal kebiasaan dan jam kehadirannya. Tepat pukul tiga dia selalu menelpon, pukul lima, dia sudah di rumah, pukul delapan malam dia pulang ke rumahnya. Sabtu malam minggu jadwal menginap. Selalu begitu, dan selalu saja orang yang ditemuinya sepulang kerja aku.

Rutinitas yang seolah menjadi candu. Jika satu hari dia tak menelpon pada pukul tiga, atau datang tepat pukul lima maka resah menggayutiku. Rutinitas yang akhirnya harus kutinggalkan karena aku harus kembali ke Yogyakarta untuk belajar.

Komunikasi kami pun menjadi terputus dalam rentang enam bulan ke depan. Ada sesuatu yang seolah menyesak pada saat itu. Aku meninggalkan Jakarta dengan meninggalkan rasa yang tak mampu diterjemahkan. Berpisah dengannya membuatku ingin menangis, enam bulan terasa begitu lama. Namun, ada bersit bahagia jika aku mengingat mata jenakanya. Sejak saat itu hati ini sudah terisi oleh pemilik mata jenaka itu. Sosoknya seolah menjadi doping, membuatku menyusuri hari di Yogyakarta dengan kebahagiaan. Aku belajar dengan semangat dan bahagia.

Entah sugesti atau bukan, nilai-nilai yang tertera di KHS ku melonjak. Tidak drastis, tapi cukup membuat orang tuaku senang. IPK 3,00 kini selalu menghiasi KHS di setiap semesternya. Sejak saat itu sosoknya menghiasi perjalananku. Dua tahun, kebersamaan, dan diakhiri dengan sesuatu yang menyesakkan. Kami harus berpisah.

Perpisahan yang kami juga tak tahu sebabnya. Perpisahan yang tak diiringi dengan pertengkaran atau kemarahan. Perpisahan yang dibalut tanpa kata. Perpisahan yang hanya membuat mata kami berkabut dalam keheningan malam. Perpisahan yang memang menyakitkan namun tak membuatku membencinya.

Berpisah dengannya justru meninggalkan jejak yang begitu kuat. Perlu waktu yang panjang untuk menghapus jejak itu. Kini, setelah lebih dari satu dasawarsa jejak silam itu seolah tetap tak mau terhapus. Justru hadir kembali dan anehnya bukan rasa sakit namun kebahagiaan yang dihadirkan.

Seperti yang pernah kutuliskan dalam buku harianku saat perpisahan itu terjadi.

“Aku tidak menyesal pernah mengenalmu. Bersamamu adalah bahagia. Walaupun kisah kita telah berakhir kujadikan kebersamaan kita kenangan indah. Tidak peduli apakah pernah ada percikan kisah yang membuatku sempat bersedih, pastinya ini akan selalu menjadi kenangan indah.”




Rabu, 25 Desember 2013

                                                  AKU, KAMU, & LELAKI FILOSOFIS
            Seminggu yang lalu kamu dtg dengan kegamangan terhadap lelaki filosofis itu. Setiap pesan singkatmu menghiasi layar monitor ponsel ini senyum terangkai di bibirku. Jawaban singkat diiringi ledekan selalu menyertai pesan singkat darimu.
            Lelaki filosofis, kami biasa menyebutnya. Entahlah, mengapa dengan mudah kami menyematkan sesuatu yang mungkin terasa begitu agung disematkan pada sosoknya yang masih begitu hijau. Lelaki itu biasa saja. Fisiknya biasa saja, bicaranya biasa saja. Tapi karena biasanya yang membuat kamu begitu memperhatikannya.
            Teringat, seminggu yang lalu kamu datang dengan binar yang berbeda. Seolah mengatakan betapa luar biasanya lelaki yang menurutku masih biasa. Kisah terangkai dariku dan darimu. Membicarakan tentangnya.
            Kamu coba membandingkannya dengan sosok lelaki lain yang luar biasa menurutmu. Namun, kali ini tetap kukatakan dia berbeda dengan lelaki-lelaki yang kamu sebutkan. Entah mengapa pula bibir ini meluncurkan sebuah frasa ‘lelaki filosof’.
            Waktu semakin menggelincir larut, pembicaraan kami pun semakin tak berarah. Aku dan kamu berbincang tentang kegelisahan kita. Berbincang tentang islam, perbedaan, keluarga, mimpi-mimpi kami, kebahagiaan, kesedihan, karya-karya sastra, bahkan hukum dan politik. Di setiap cerita kami selalu saja kamu munculkan sosoknya.  Aku hanya bisa tersenyum. Kepalaku dipenuhi oleh beragam tanya. “Kamu menyukainya atau mengaguminya?”
            Tanya itu tak kulontarkan, hanya sedikit menyimpulkan dari bahasa tubuh dan ekspresinya saja. Kamu juga masih terlalu hijau.  Aku tidak akan melarang rasa yang ada di hatimu. Aku percaya kamu bisa memanajemen hati sehingga rasa yang kau munculkan tak membabi buta.
            Sampai tepat jam sepuluh malam. Kamu harus undur pulang. Ayahmu sudah datang menjemput. Kuantar kamu seperti biasa. Dalam perjalanan kami masih membahas dia, lelaki filosofis itu.
            Setelah kamu pergi, aku pikirkan setiap tanya dan gundahmu. Sayang, kerap tanya dan gundahmu itu hanya mengawang-awang. Aku merasa belum mampu menjawabnya. Aku takut menerjemahkan sesuatu di luar batas kemampuanku.
            Aku sempat memutuskan bertanya pada seseorang. Dia sahabat dunia maya. Terkesan bila menyebutnya sahabat karena dia belum tentu menerima tali persahabatan ini. Setiap aku lihat di sudut kanan layar monitorku ada bulatan kecil berwarna hijau. Di sampingnya tertera namanya, aku merasa ini waktu yang tepat untuk bertanya. Begitu aku siap memainkan jemari pada huruf-huruf yang tertera di keyboard, ketakutan selalu hadir.
            Aku teringat ucapan salah satu temannya. Dia tidak suka perempuan agresif. Kepala dan rasa saat itu sejenak bertolak belakang. Kepalaku berkata aku tidak melakukan apa-apa. Aku tidak merayu atau melakukan apa pun dengan tujuan menggoda. Aku hanya butuh jawaban atas tanyamu yang belum mampu kujawab. Hanya saja rasa berkata lain. Ada ketakutan akan dianggap cari perhatian, alasan agar bisa berbincang dengannya. Bahkan ketakutanku yang terakut adalah jika tanya yang terlontar hanyalah pertanyaan bodoh.
            Setiap akan bertanya dalam hitungan menit aku akan mengurungkan. Hal itu terus berjalan manakala kulihat disudut layar monitorku ada warna hijau dan terpampang namanya. Aku hanya berani melirik dan tak berani memulai. Walau itu hanya sekedar menyapa saja.
            Hari ini, ketika aku sedang membuang segala sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu. Aku temukan selembar kertas berisi rangkaian huruf yang tak rapi. Di sudut kiri tertulis Al Ghasiyah : 21-22. Keberanin untuk bertanya itu muncul.
            Aku tak menduga responnya begitu baik. Dia memberi jawab yang tak pernah kuduga. Begitu jelas dan detail. Aku akhirnya memberanikan untuk bertanya atau berbagi kisah tentang kegelisahan aku dan kamu. Di sela kesibukannya dia mau membaca dan memberi saran. Dia pun memutuskan untuk siap berbagi kisah dan menjawab tanya atau gundah aku dan kamu.
            Aku ingin berteriak di telingamu saat ini. “Hei, aku juga punya teman lelaki filosof!”  Kesadaranku sejenak muncul. Aku putuskan menulisnya di blog ini. Kamu bercerita tentang lelaki filosof, dan kini aku pun bercerita tentang lelaki filosof juga.
            Lelaki filosof yang berkutat dalam background yang sama. “Tahukah kamu?  Ternyata lelaki filosog yang kamu kenal dengan yang kukenal memiliki kesamaan. Latar pendidikan mereka sama. Aku putuskan untuk mengenalkannya padamu. Kamu begitu bersemangat begitu mendengar akan kupertemukan dengannya.
            Aku dan kamu mengurai rencana akhir tahun. Aku, kamu, dan lelaki filosof versimu akan berdiskusi. Di alam terbuka, ditemani gemintang yang bertaburan di hamparan langit malam. Di temani daratan yang menjulang. Ditemani desah angin dan suhu yang dingin.
            Aku, kamu dan lelaki filosof versiku juga akan bertemu untuk berdiskusi. Berjanji bertemu di penghujung tahun. Maka, ketika kamu bertemu dengannya, keluarkan tanya itu, gundahmu. Mungkin dia tak mampu menjawab dengan sempurna. Seperti perkataannya yang saat ini kukutip :
semua orang punya keterbatasan ilmu, hanya pribadi maksum seperti nabi yang ilmu-nya seperti lautan. Karena ilmu tersebut didapat dari zat yang maha luas rahmat dan Kasih-Nya. Oleh karenanya, jawab saja setiap pertanyaan jika sekiranya mengetahui jawabannya. Jika belum tahu, bisa diminta sabar dulu utk mencari literatur terkait persoalan.

            Aku dan kamu punya kisah yang sama terhadap satu sosok yang kita sematkan sebagai lelaki filosofis. Perbedaannya, ketika kamu bercerita tentangnya, ada binar dan ekspresi yang menggambarkan suasana hatimu. Sedangkan aku, mungkin belum berani memakai rasa. Kepalaku berkata kalau aku kagum terhadapnya.
            Aku, kamu, dan lelaki filosofis. Kita berempat dipertemukan dalam ruang dan waktu yang sebenarnya berbeda. Aku dipertemukan dengan lelaki filosofis dalam dimensi maya. Tak bisa saling menyentuh, tapi ditautkan dalam sapa dan rangkai kata. Kamu dengan lelaki filosofis yang lain dipertemukan dalam dimensi sejarah.
            Kali ini aku dan kamu punya cerita di penghujung tahun. Cerita tentang lelaki filosofis. Aku dan kamu tidak dapat memprediksi apa yang terjadi kelak dengan lelaki-lelaki filosofis versi kita. Biar waktu yang menjawabnya.
                                              SENANDUNG LARA PENGHUJUNG TAHUN

 Mentari enggan menampakkan dirinya hari ini. Hal ini justru berbanding terbalik denganku. Hari ini, aku ingin sekali datang ke tempat itu.  Tempat yang selama ini kuhindari. Ada guratan di hati jika aku melihat tempat itu. Tapi kali ini, kekuatan apa yang membuatku memutuskan menuju ke tempat itu.

Aku tahu jika mendatangi tempat itu akan mengoyak luka yang sudah hampir mengering. Hari ini aku seperti menafikkan luka. Bersit yang ada di kepalaku mengatakan “saatnya keluar, menunjukkan keberadaanku kini.” Bersit yang tiba-tiba muncul semakin menguat. Mengajak susunan saraf motoris melangkah berangkat ke tempat itu. Kuhela sejenak nafas, kuambil kemeja merah muda. Kukenakan kemeja itu dan memadankannya dengan celana panjang hitam.

Kemeja merah muda ini kupilih untuk menunjukkan bahwa aku tidak terpuruk. Aku ingin membuktikan aku berani menghadapi mereka.
Sekali lagi kuhela nafas, mematut diri sebelum berangkat. Aku melangkah dengan pasti. Menyusuri jalan yang hampir sebulan ini kujauhi. Bukan bersembunyi, namun sekedar menenangkan rasa. Sejenak menjauh dari tempat ini untuk menghindari bara di hati ini. Berharap bara ini akan meredup bahkan menghilang. Ahh, hari ini bara yang belum redup benar tersebut akan kembali memantik.

Perjalanan menuju tempat itu tidak terlalu jauh. Kutengadahkan kepala, tampak awan hitam memayungi bumi ini. Alam seolah mengerti apa yang berkecamuk di relung ini. Sepanjang perjalanan aku cabuti duri yang berserakan. Duri yang dengan riangnya menancapi telapak kaki. Langkahku kian mendekati tempat itu. Kini luka itu tidak hanya di kaki. Ada tusukan-tusukan pedang yang menghunjam seluruh tubuh. Aku terus melangkah melewati labirin, walau dengan terseok dan berdarah. Siluet tempat itu semakin nampak di mata.

Sesaat aku memandangi siluet tempat itu. Kulihat jalinan besi yang menghubungkan tempatku berpijak dengan tempat itu. Aku akan menyebrang menuju tempat itu dengan seluruh tubuh yang penuh darah. Sejenak aku terpaku, tanganku meraih kain. Kuseka darah di tubuh ini, kemudian membebat setiap luka. Walau terhuyung aku terus melangkah.

Akhirnya aku sampai di tempat itu. Kupandangi pintu gerbang sederhana dan tanah lapangnya. Ada sesuatu yang menghambat rongga pernafasanku. Kelu di bibir ini. Kulafazkan “Bismillahirrahmanirrahim”. Aku utas senyum di bibir.

“Assalamualaikum, Bu!” sapaan itu begitu menenangkan. Kulihat wajah-wajah pemilik sapaan itu. Mereka satu persatu menghampiri dan mencium telapak tanganku. Seperti ada tetesan air es yang menelusup ke dalam setiap organ tubuhku. Begitu sejuk. Kelu itu sejenak menghilang.

“Wa’alaikumsalam,” jawabku. Tubuh-tubuh mungil semakin banyak menghampiriku. “Ibu, kemana aja?” pertanyaan yang hanya mampu kubalas dengan senyuman. Berbagai tanya dari bibir mereka tak mampu kujawab dengan sempurna.

Aku kembali berpijak di tempat ini. Mataku mengarah pada satu ruang. Pintu ruang itu tertutup, menandakan dua kemungkinan. Pertama, ruangan itu kosong. Kedua, ruangan itu terisi orang-orang yang sedang sibuk dan tidak ingin diganggu. Aku dekati ruang itu. Nampak, sesosok lelaki sedang duduk di samping pintu yang tertutup itu.

“Eh, Mbak… cepetan masuk. Lagi rapat tuh!” suara lelaki yang duduk di samping pintu itu membuatku terperangah. “Mbak, kok malah bengong. Udah masuk!”

“Oh, ada rapat ya?” aku hanya mampu berkata seperti itu. Nampaknya aku datang di waktu yang salah. Namun, aku sudah terlanjur datang ke tempat ini. Kembali aku tarik nafas panjang, membuka pintu. Wajah-wajah di dalam ruang itu nampak terperanjat. Hatiku mengumpat, aku tamu yang tak diundang. Bodohnya diriku. Namun, aku berusaha menetralisir keadaan, kubungkukkan badanku, mengucapkan salam dengan menyunggingkan senyuman. Entahlah, apakah mereka tahu, senyum itu palsu.

Selama rapat hatiku tak terkoneksi dengan pimpinan rapat. Di kepalaku saat itu hanya terpikirkan, mungkin inilah saat yang tepat.  Bisa jadi ini merupakan jawaban atas doa-doaku. Pilihan yang kujatuhkan di bulan Juli ternyata belum final. Kala keraguan masih meliputi, Allah menggunakan cara-Nya agar aku menetapkan pilihan ini.

Pilihan yang harus kujalani dengan berbagai konsekuensinya. Semoga bukan pilihan yang didasari oleh emosi belaka. Berharap, Allah menuntunku menetapkan pilihan ini. Aku tak tahu ceritaku ke depan, hanya merencanakan segalanya dari nol.  Semoga tidak menjadikan penyesalan kelak.

“Ya, kebetulan hari ini Ibu datang, mungkin ada yang ingin disampaikan?” suara pimpinan rapat menghentakkan kesadaranku. Aku hanya mengangguk dan melangkah ke depan. Kali ini kutatap wajah-wajah yang hadir dalam rapat itu. Ada beberapa wajah yang tidak kuharapkan untuk kulihat. Wajah-wajah itu membuat luka yang telah kubebat ini seperti tersiram perasan air jeruk. Namun, ada beberapa wajah yang lain. Begitu dekat, begitu kukenal, dan begitu tulus. Mereka semua menundukkan kepalanya.

Ada gemuruh di dada, begitu bertalu. Aku berharap wajah-wajah tulus itu mendongakkan kepalanya. Aku berharap mereka memandangku, sekadar memberi kekuatan. Keberanian justru tidak muncul di diriku. Aku tidak berani menatap wajah-wajah tulus mereka. Aku pun tak mampu menatap wajah-wajah lain yang telah menghunuskan pedang tepat di hati ini. Aku hanya menikmati ruang segi empat yang sebentar lagi akan kutinggalkan. Kunikmati sejenak jendela, pintu, jajaran meja dan kursi. Pandanganku tertumpu pada sepasang meja dan kursi di pojok belakang.

Meja dan kursi yang pernah menemani hari-hariku di tempat ini. Meja yang disesaki oleh buku-buku, tumpukan soal-soal, dan berbagai administrasi pekerjaanku. Meja itu, kini begitu bersih. Folder ungu itu kosong, tak terisi. Kehadiranku rupanya sudah dianggap tak ada. Aku memang sudah tak layak berada di sini.

Kembali kusapu seluruh ruangan ini, sudah tak ada kata yang mampu terucap. Begitu perih, sehingga kerongkonganku tercekat, lidah pun kelu. Aku hanya mampu berkata maaf, selamat tinggal, dan sukses untuk tempat ini. Aku berusaha agar mata ini tidak berair. Namun, semua sia-sia. Aku luruh dalam derai air dari dua mata ini.

Aku mencoba menata rasa, menyalami satu persatu. Namun, kembali mata ini berlinang membasahi pipi saat aku dipertemukan dengan beberapa wajah-wajah tulus. Saat tangan para sahabat terkait erat dalam jabat dan peluk. Tangisku pun buncah. Merekalah yang pernah memberiku kekuatan di saat aku lelah. Memberiku bahagia, menghibur saat aku berduka. Para sahabat yang menemani hariku mengukir makhluk-makhluk bernyawa yang kami sebut ‘peserta didik’.

Hampir tujuh tahun, bukan waktu yang pendek bagiku untuk berproses. Perjalanan dari 2007 hingga 2013 kurasa cukup untuk membangun mimpi menjadi nyata. Namun, asa itu ternyata tidak tepat kubangun di tempat ini.  Aku seperti membangun istana pasir di pinggir pantai. Kapan pun sang ombak bisa melimbur bangunan istana yang kubuat. Tidak hanya berantakan atau menyisakan puing tapi rata, kembali menjadi hamparan pasir.

Saat terakhir aku menjatuhkan pilihan ini kucoba nikmati hembusan udara di tempat ini.  Setiap sisi bangunan yang sempat begitu akrab menemaniku berproses. Sapaan mereka yang setiap tahun silih berganti datang dan pergi. Wajah-wajah lugu terbungkus dalam berbagai pembawaan dan karakteristik, mungkin tak dapat kusentuh lagi.

Aku melangkah keluar dari pintu ruang ini. Ada sedikit rongga yang membuatku dapat bernafas. Walau jujur, tak mampu menutupi luka yang telah kucoba bebat. Salah satu wajah-wajah lugu menghampiriku. Mengenggam erat telapak tanganku.
“Ibu, mau kemana?” aku tak mampu berkata-kata. Kupaksakan untuk tersenyum walau justru semakin membuat luka ini melebar. Beberapa di antara mereka menghampiriku. Aku tak berani menatap mereka.
Aku hanya mampu berkata, “Semua harus rajin belajar, tetap semangat!” Aku mencoba mengais-ngais kekuatan yang kupunya agar tidak menangis.

“Ibu, mau pindah ya? Ibu kenapa pindah?” Pertanyaan yang sudah tak mampu kujawab. Aku berusaha berjalan. Mereka mengikutiku dengan tubian pertanyaan yang sama. Mereka berusaha menahanku. Salah satu siswa merengkuhku, memeluk tubuhku. Dia menangis.
“Ibu jangan pindah! Jangan tinggalin aku!” Aku tak mampu berucap. Satu persatu dari mereka mulai menangis. Aku dekap mereka, lirih berkata, “Kalian harus tetap semangat belajar.”
Aku berusaha melepaskan diri dari kerumunan mereka. Berjalan, dengan mata yang sembab. Berjalan dengan menyisakan lara. Aku tak mampu menatap wajah mereka. Wajah-wajah lugu itu kutinggalkan dengan segudang tanya yang tak mereka temukan jawabnya. Hatiku hanya mampu berkata, “Selamat tinggal anak-anakku. Kita hanya berpisah raga. Setidaknya ada guratan yang kutinggalkan di diri kalian. Sedikitnya aku telah mengukir sesuatu pada kalian.”

Di penghujung tahun 2013 mungkin ujung kisahku di tempat ini. Banyak kenangan, dan entahlah apakah ini akan jadi kenangan indah atau kisah kelabu perjalananku. Hanya sedikit yang menyesakkan. Aku tidak mau pergi dengan cara seperti ini. Pergi dengan membawa guratan luka, kepingan mimpi yang tak mampu kubawa bahkan kugenggam. Pergi dengan meninggalkan rasa yang tak sepantasnya kubawa dan membentuk satu kata ‘TRAUMA’.

Akhir tahun 2013 mungkin menjadi titik balik bagiku untuk melangkahkan kaki, memantapkan langkah. Mimpiku mungkin bukan di sini. Mimpiku mungkin di tempat lain. Aku yakin tidak mudah membangun kembali sesuatu yang pernah dimiliki. Aku tahu sulit membangun kembali dari nol. Mungkin butuh perjuangan berlipat ganda. Namun, aku harus yakin ada Allah yang menemani setiap langkahku. Jadi untuk apa takut membuat keputusan besar ini?

Aku anggap ini saat tersulit dalam perjalanan hidupku. Terperosok atau bahkan aku terjun bebas ke jurang yang begitu dalam. Awal tahun depan, aku harus mempersiapkan diri, melangkah satu demi satu. Naik dari jurang untuk kembali ke atas. Bisa jadi aku akan tergelincir, tapi itulah kehidupan. Mimpi itu masih ada. Aku akan cari, ambil satu persatu untuk kubentuk kembali puing-puing asa. Aku akan tetap bersenandung walau dalam lara. Aku teringat slogan yang kudapat saat kuliah. Slogan yang kudapatkan dari salah satu organisasi ekstra kampus tempat aku pernah bernaung. “Yakin Usaha Sampai”  Insya Allah. Bismillahirrahmanirrahim….