Minggu, 26 Januari 2014

Cerpen



JEJAK SILAM

            Sungguh, kali ini aku tak bisa marah. Mereka terus mencecarku dengan beribu tanya yang hanya kujawab dengan senyum. Terus mengalir, silih berganti, dan selalu saja aku hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum. Sikapku itu semakin membuat mereka penasaran. Bahkan salah satu dari mereka akhirnya meraih daguku. Sedikit memaksa memalingkan wajahku agar menatapnya. Aku palingkan wajah ini dengan tetap memberinya senyuman.

            Satu persatu dari mereka akhirnya mengalihkan pembicaraan. Antara letih atau kesal dengan sikapku, entahlah. Aku juga tak mengerti mengapa hari ini aku begitu menikmati cecaran tanya dari mereka. Mungkin di waktu yang berbeda, cecaran tanya itu bisa diinterpretasikan sebagai sindiran, hinaan, ejekan, bahkan cercaan. Bisa jadi aku akan murka. Namun, hari ini semua kunikmati cecaran tanya mereka. Salah satu teman yang mendengarnya saja merasa kupingnya panas.

“Mbak, kok bisa sih elu gak marah denger ocehan orang-orang itu?” pertanyaan yang terlontar dari temanku. Pertanyaan yang aku pun tak mampu menjawabnya. Hanya saja aku merasa hari ini begitu membahagiakan, sungguh-sungguh membahagiakan.

“Gue juga enggak tahu, mungkin kalau pertanyaan itu mereka sampaikan kemarin atau esok, lain lagi ceritanya,” jawabku.  Temanku memandang dengan wajah yang sulit diterjemahkan. Perpaduan antara kesal dan heran.

“Mbak, kalau gue yang diperlakukan begitu. Gue akan jawab terima kasih atas perhatiannya. Saya bisa mengurus masalah saya sendiri. Terus gue pergi ninggalin mereka dengan tampang terjutek,”

Aku pun tak mengerti, sudut hati sebenarnya menggedor memohon agar mereka menghentikan cecaran itu. Namun, aku tak mampu menyampaikannya. Hanya anggukan dan senyuman yang mampu kuberikan.

Aku tidak ingin kehilangan momen yang membahagiakan ini. Rasanya ingin terus menggenggam bahagia ini walau satu hari saja. Biarlah mereka berusaha merusaknya. Aku akan tetap mempertahankannya walau hanya satu hari. Hari ini, bahagia ini tetap ingin terengkuh, tak peduli apa kata mereka.

Kebahagiaan yang datang dari jejak silam. Jejak yang mungkin hampir terhapus karena iringan masa. Jejak itu nampak begitu nyata dan jelas menghadirkan sosoknya. Mata itu begitu kukenal, tidak bulat dan tidak juga kecil. Mata dengan kedua sudut yang tidak berdekatan. Alisnya menggaris tipis kontras dengan alis tebalku. Hidungnya biasa saja tak bangir atau lancip kontras dengan hidungku yang agak tinggi. Bibir tipis dengan sedikit rona merah alami kontras dengan bibirku yang tebal. Telinganya begitu khas, umumnya orang menyebut bentuk telinga ini dengan istilah caplang. Rambutnya ikal, tipis, terpotong pendek. Kulitnya kuning kontras dengan kulitku yang sawo matang. Tubuhnya menjulang begitu kontras dengan tubuh mungilku. Semuanya tergambar utuh sama seperti pertama aku bertemu dengannya walaupun ada sedikit perubahan pada tubuhnya. Dulu tubuhnya kurus menjulang, kini, tubuh itu padat berisi menjulang.

Sosok itu kini begitu dekat. Duduk tepat menyanding. Kami bersisian. Wajahnya tepat di hadapanku. Senyum tipis menghias bibirnya tidak pernah berubah. Kali ini aku melihat kembali bibirnya mengembang mengutas senyum. Tatapannya tidak berubah, tetap jenaka sedikit nakal. Tatapan seperti itu yang selalu membuatku luluh dan memaafkan setiap khilafnya. Tatapan yang meluluhkan setiap kemarahanku padanya. Tatapan itulah yang meninggalkan jejak begitu kuat hingga sekarang aku pun belum mampu menghapus jejaknya. Tatapan yang kerap menggelitik relung rinduku.

Sosok itu hadir dengan keceriaan yang sama. Memoriku mengais repihan kebersamaan kami. Kebersamaan yang meninggalkan jejak yang disebut dengan kenangan. Seperti membuka buku harian yang berdebu karena hampir tak pernah lagi dibuka dan diisi. Satu persatu kilasan itu terbuka mengais lembar kisah di Februari 2001 sampai Februari 2003. Genap dua tahun kebersamaan itu terangkai. Kebersamaan yang diiringi dengan keceriaan, gelak, canda, perdebatan, dan tentu saja tatapan itu. Keceriaan yang selalu dihadirkan olehnya. Keceriaan yang akhirnya tak kutemui lagi di awal Februari 2003. Berganti dengan tatapan mata sendu, merunduk, dan berkabut.

sebelas tahun kemudian, di awal tahun 2014 sosoknya menemuiku. Sesaat dan begitu tiba-tiba. Hadir dengan keceriaan semula, tatapan semula. Hanya saja kali ini tak banyak bicara. Matanya tak pernah berhenti menatap. Bibirnya pun selalu mengutas senyum. Kehadiran yang membuat raga ini terpaku. Bibir yang terkatup, lidah pun kelu tak bersuara. Desah nafas saja yang berkecamuk membentur-benturkan segala yang ada dalam memori dan rasa yang ada dalam kalbu. Aku tidak mampu mendeskripsi lewat istilah emosi dan rasa.

Sosoknya menumbuhkan kembali renjana. Melumpuhkan imun kesadaranku untuk menghapus tiap jejak rasa yang ditinggalkannya. Kesadaranku hilang, aku terbang dalam bahagia yang tak tersampaikan raga. Jiwaku melayang, ragaku terpaku. Logikaku tak bekerja dan tak menanyakan. Seolah terkunci dalam gembok rasa.

Hadirnya kemudian pergi seiring azan kumandang subuh. Mataku terbuka, mencari sosoknya. Tak kutemukan sosoknya hanya ada sesuatu yang tengiang. Begitu jelas untaian kalimat yang keluar dari bibirnya. Perkataan yang terekam dari suaranya yang jernih.

“Rasaku tetap sama dan tak berubah.  Terima kasih, untuk tetap menjaga rasa itu.”

Perkataan darinya yang sebenarnya ingin kubalas dengan berondongan pertanyaan yang akhirnya tak mampu kusampaikan. Dia sudah lenyap, pergi, meninggalkan jejak silam. Jejak yang sekuat tenaga kuhapus dan perlahan jejak itu mulai tersamar. Namun, hadirnya kali ini mempertegas jejak yang hampir samar itu.

Kehadirannya yang sesaat dan tiba-tiba meninggalkan jejak kebahagiaan. “Aneh,” pikirku. Harusnya aku menangis bukan tersenyum seperti ini. Semestinya aku marah, terluka karena dia meninggalkanku. Pergi dengan yang lain. Tapi, apa yang terjadi? Justru aku menghadirkan sosoknya dalam lelap malamku. Mengusik, ketenangan hati yang begitu lama kurenda. Aku tidak pernah bisa marah terhadapnya walaupun jejak silam pernah ditancapkan dalam hatiku. Jejak luka yang ditinggalkan itu belum hilang. Jejak silam yang anehnya tidak membuatku sakit. Jejak silam justru yang menjadi imun.

Logika, kemana dia bekerja? Aku mencarimu! Membutuhkanmu mengurai semuanya. Tapi logika itu benar-benar terkunci rasa. Kini, aku hanya merasa bahagia. Sangat bahagia, sehingga hujan sepanjang hari seolah nada yang mengiringi tapak kaki ini menari.

Setelah kumandang subuh, kesadaranku seolah hilang. Aku memang terbangun, mengisi rutinitas pagi seperti biasanya. Mandi, sholat subuh, mempersiapkan diri, kemudian berangkat kerja. Seperti biasa pula, aku berangkat saat mentari masih malu-malu menampakkan dirinya. Hanya saja hari ini kurasa begitu istimewa.

Mentari justru enggan tampak, enggan memberikan kehangatannya. Gelapnya cakrawala bersahabat dengan rinai-rinainya belum puas berhenti. Padahal sudah semalaman menemani lelap setiap insan dalam balutan selimut tebal. Rinainya meresap ke bumi mengantarkan hawa dingin.

Hawa dingin yang tak menggentarkanku untuk berangkat bekerja. Jejak silam yang semalam hadir benar-benar menjadi imun. Menguatkanku untuk mau bercengkerama dengan dinginnya cuaca. Meringankan kakiku, berkecipak di genangan air. Hujan pagi ini kurasa begitu indah.

Payung yang kugunakan memang belum mampu melindungi dari guyuran air yang tumpah dari langit. Beberapa bagian tubuhku kuyup. Tetap saja perjalanan kali ini kurasa begitu nikmat. Kemacetan yang begitu panjang akibat luapan sungai. Makian, supir minibus, teriakan kondektur dan suara hujan seolah menjadi irama yang terasa indah. Aku begitu menghayati hari ini dengan bahagia. Logikaku benar-benar terkunci tertutup rasa.

Perjalanan ke tempat kerjaku hari ini memang panjang. Hampir satu jam aku duduk di kursi minibus yang berjalan tersendat. Karena tak sabar, supir memutuskan putar balik. Kuperkirakan perjalanan akan bertambah panjang karena minibus tak berhenti tepat di tempat kerja. Aku harus berjalan sekitar setengah kilometer lagi. Hujan semakin deras.

Aku berjalan ditemani hujan deras, di sepanjang perjalanan air menggenang dengan tinggi sekitar 30 cm tak terhindarkan. Tapi, dengan rasa yang sama ‘kebahagiaan’. Hari ini aku bercengkerama dengan derasnya hujan, kakiku berkecipak diantara genangan air, kerap pula melompat. Aku seperti menari bersama air. Dingin tak terasa.

Tiba di tempat kerja, yang kudapatkan cecaran tanya dari mereka. Setiap perkataan ataupun lontaran tanya dari mereka seolah memberikan sedikit kehangatan. Cecaran yang sempat memantik api di hati. Namun, kembali logika terkunci tertutup rasa. Kehadiran jejak silam justru membuatku menikmati cecaran mereka.

Ah, renjana itu mungkin terlalu kuat. Sehingga aku tak mempedulikan kata mereka. Aku ingin merengkuh bahagia lewat hadirnya yang nampak nyata namun semu. Jejak silam yang kini menjadi senjata melawan gempuran itu.

“Elo, emang gila Mbak!” terlontar dari temanku. Mendengar ucapannya, aku mengangguk. Menyetujui ucapannya. Membiarkan kegilaan hari ini dalam bentuk bahagia. Teman andai kau tahu, aku juga tak mengerti dengan rasa hari ini. Aku tidak sedang jatuh cinta. Kehadirannya pun tak nyata, namun hadirnya membangkitkan rasa yang begitu indah. Melebihi  jatuh cinta. Begitu bahagia. Kebahagiaaan yang melemparkanku pada jejak silam.

“Mbak, kayaknya elu kangen deh sama dia.” Temanku berusaha menganalisis rasaku. Entah analisis dengan logika atau hanya berdasarkan perasaan saja.

“Bisa jadi, entah aku atau dia.” Jawabku diiringi dengan senyum. Jejak silam itu memaksaku merunuti kembali lembar kisah yang tersimpan. Salah satu ruang yang sempat tertutup terkuak. Aku melihat kembali dan masuk ke dimensi lalu.

Jejak silam menuntun awal kisah. Tergambar sosok perempuan mungil di depan kompor minyak. Dia sedang membuat panganan kecil. kembang goyang nama panganan itu.  Perempuan itu terlihat  begitu menikmati pekerjaannya walau tidak cekatan. Wajahnya yang coklat tampak berminyak dengan keringat. Tidak ada yang menarik pada dirinya.

Tanpa disadarinya sosok menjulang berdiri di depan pintu dapur. Seolah menikmati pekerjaan  perempuan mungil itu. Setelah lelah berdiri, sosok itu mendekat dan duduk tepat di sebelahnya. Perempuan mungil itu tetap asik dengan pekerjaan, tak menyadari ada sosok yang menyandingnya.

“Lagi buat apa?” suara lembut itu mengagetkan perempuan mungil. Seraya menoleh ke arah suara itu. Sontak perempuan mungil itu menunjukkan wajah tak ramah. Selalu begitu jika sosok itu datang.

“Pertanyaan aneh, udah jelas ngerti, pake tanya!” jawab perempuan mungil dengan ketus. Sosok itu bukannya menjauh mendapat perlakuan yang tak menyenangkan itu. Ia justru semakin banyak berbicara. Celotehan yang sama sekali tak dianggap oleh perempuan mungil.

Tangannya mulai membantu pekerjaan perempuan mungil. Sosok itu mengiringi pekerjaan perempuan mungil dengan cerita dengan tangan yang tetap sigap membantu. Perempuan mungil tetap tak mengindahkan sosok itu. Tak terasa sudah hampir selesai. Perempuan mungil itu nampak menahan senyum. Namun, pertahanannya jebol juga, akhirnya terkikik mendengar beberapa bagian cerita lucu dari sosok itu.

“Ah, akhirnya kamu tertawa juga. Setelah sekuat tenaga kamu menahannya. Yess!” ujar sosok itu. Perempuan mungil hanya menolehnya sepintas, kemudian membereskan perkakas. Sosok itu memegang panganan yang telah jadi.

“Kue apa ini! Kembang goyangnya enggak cantik. Banyak yang gosong. Pasti rasanya pahit.” Sosok itu nampak serius mengamati panganan kecil. Sontak perempuan mungil itu terlihat kembali geram.

“Bodo, lagian siapa elu komentarin pekerjaan gue. Pergi sana!” tangan perempuan mungil mendorong bahu lelaki yang duduk menyandingnya. Sosok itu tidak pergi, panganan di tangannya dimasukkan ke mulutnya. Dia memakannya, matanya bekerjap.

“hmm, kok enak sih nih kembang goyangnya? Manis dan renyah. Berarti prediksiku salah.” Sambil terus mengunyah, sosok itu pergi meninggalkan perempuan mungil. Ia menuju ruang tamu.

Ada kerjap bahagia dari mata perempuan mungil itu. Kemudian ia menyelesaikan pekerjaannya. Setelah pekerjaannya selesai perempuan mungil itu justru masuk ke kamarnya. Sosok itu tetap tak dipedulikan. Ia lewati ruang tamu seolah di ruangan itu tak ada siapa-siapa.

Perempuan mungil itu aku. Sosok itu memang kerap bertandang ke rumahku. Bukan untuk menemuiku maka bukan kewajibanku untuk menemaninya. Dia sahabat pamanku. Mereka bersahabat sejak remaja. Kehadirannya di rumahku sudah tak asing lagi.

Diantara sahabat pamanku, hanya dia yang tak pernah berbincang denganku. Sejak aku kecil, kami tak pernah berbicara begitu banyak. Kalau dia datang hanya menyapa dengan kata ‘hai’ kemudian masuk ke kamar paman. Kalimat terpanjang pada saat paman tak ditemukan. Dia akan bertanya, “Kemana Masmu?”.

Sempat setahun dia tak nampak, seiring kepergian paman yang bekerja di Kalimantan. Sahabat-sahabat paman tetap datang walau intensitasnya tak sesering saat paman di rumah. Hanya dia yang tak ada kabar, seperti ditelan bumi.

Setahun kemudian, aku pun harus meninggalkan orang tua untuk kuliah di Yogyakarta. Baru satu tahun kuliah, paman mengirimkan surat padaku kalau dia akan kembali ke Jakarta. Sosok itu kembali muncul seiring kedatangan paman. Namun, tetap saja dia menjadi sosok yang terlupakan bahkan tak ada.

Setelah kuliahku menginjak semester lima, dia hadir dengan gaya yang berbeda. Tidak seperti sahabat paman yang kukenal di masa kecilku. Kehadirannya tidak lagi sekadar menyapa dengan kata “hai”. Dia datang dengan begitu banyak cerita. Tanpa canggung dia menemani aku di dapur.

Kedatangannya memang tak mengherankan. Justru yang mengherankan celotehan dan tawanya yang diperuntukkan untukku. Aku bingung dan tak tahu bagaimana menghadapinya. Aku begitu tidak siap. Maka hanya jawaban ketus dan bahasa tubuh yang tak bersahabat yang mampu kutampilkan.

Sejak hari itu, kehadirannya seolah bukan lagi untuk paman. Dia hadir menemani libur semesterku di Jakarta. Setiap hari, setelah bekerja dia pasti datang ke rumah. Sampai aku hapal kebiasaan dan jam kehadirannya. Tepat pukul tiga dia selalu menelpon, pukul lima, dia sudah di rumah, pukul delapan malam dia pulang ke rumahnya. Sabtu malam minggu jadwal menginap. Selalu begitu, dan selalu saja orang yang ditemuinya sepulang kerja aku.

Rutinitas yang seolah menjadi candu. Jika satu hari dia tak menelpon pada pukul tiga, atau datang tepat pukul lima maka resah menggayutiku. Rutinitas yang akhirnya harus kutinggalkan karena aku harus kembali ke Yogyakarta untuk belajar.

Komunikasi kami pun menjadi terputus dalam rentang enam bulan ke depan. Ada sesuatu yang seolah menyesak pada saat itu. Aku meninggalkan Jakarta dengan meninggalkan rasa yang tak mampu diterjemahkan. Berpisah dengannya membuatku ingin menangis, enam bulan terasa begitu lama. Namun, ada bersit bahagia jika aku mengingat mata jenakanya. Sejak saat itu hati ini sudah terisi oleh pemilik mata jenaka itu. Sosoknya seolah menjadi doping, membuatku menyusuri hari di Yogyakarta dengan kebahagiaan. Aku belajar dengan semangat dan bahagia.

Entah sugesti atau bukan, nilai-nilai yang tertera di KHS ku melonjak. Tidak drastis, tapi cukup membuat orang tuaku senang. IPK 3,00 kini selalu menghiasi KHS di setiap semesternya. Sejak saat itu sosoknya menghiasi perjalananku. Dua tahun, kebersamaan, dan diakhiri dengan sesuatu yang menyesakkan. Kami harus berpisah.

Perpisahan yang kami juga tak tahu sebabnya. Perpisahan yang tak diiringi dengan pertengkaran atau kemarahan. Perpisahan yang dibalut tanpa kata. Perpisahan yang hanya membuat mata kami berkabut dalam keheningan malam. Perpisahan yang memang menyakitkan namun tak membuatku membencinya.

Berpisah dengannya justru meninggalkan jejak yang begitu kuat. Perlu waktu yang panjang untuk menghapus jejak itu. Kini, setelah lebih dari satu dasawarsa jejak silam itu seolah tetap tak mau terhapus. Justru hadir kembali dan anehnya bukan rasa sakit namun kebahagiaan yang dihadirkan.

Seperti yang pernah kutuliskan dalam buku harianku saat perpisahan itu terjadi.

“Aku tidak menyesal pernah mengenalmu. Bersamamu adalah bahagia. Walaupun kisah kita telah berakhir kujadikan kebersamaan kita kenangan indah. Tidak peduli apakah pernah ada percikan kisah yang membuatku sempat bersedih, pastinya ini akan selalu menjadi kenangan indah.”




Rabu, 25 Desember 2013

                                                  AKU, KAMU, & LELAKI FILOSOFIS
            Seminggu yang lalu kamu dtg dengan kegamangan terhadap lelaki filosofis itu. Setiap pesan singkatmu menghiasi layar monitor ponsel ini senyum terangkai di bibirku. Jawaban singkat diiringi ledekan selalu menyertai pesan singkat darimu.
            Lelaki filosofis, kami biasa menyebutnya. Entahlah, mengapa dengan mudah kami menyematkan sesuatu yang mungkin terasa begitu agung disematkan pada sosoknya yang masih begitu hijau. Lelaki itu biasa saja. Fisiknya biasa saja, bicaranya biasa saja. Tapi karena biasanya yang membuat kamu begitu memperhatikannya.
            Teringat, seminggu yang lalu kamu datang dengan binar yang berbeda. Seolah mengatakan betapa luar biasanya lelaki yang menurutku masih biasa. Kisah terangkai dariku dan darimu. Membicarakan tentangnya.
            Kamu coba membandingkannya dengan sosok lelaki lain yang luar biasa menurutmu. Namun, kali ini tetap kukatakan dia berbeda dengan lelaki-lelaki yang kamu sebutkan. Entah mengapa pula bibir ini meluncurkan sebuah frasa ‘lelaki filosof’.
            Waktu semakin menggelincir larut, pembicaraan kami pun semakin tak berarah. Aku dan kamu berbincang tentang kegelisahan kita. Berbincang tentang islam, perbedaan, keluarga, mimpi-mimpi kami, kebahagiaan, kesedihan, karya-karya sastra, bahkan hukum dan politik. Di setiap cerita kami selalu saja kamu munculkan sosoknya.  Aku hanya bisa tersenyum. Kepalaku dipenuhi oleh beragam tanya. “Kamu menyukainya atau mengaguminya?”
            Tanya itu tak kulontarkan, hanya sedikit menyimpulkan dari bahasa tubuh dan ekspresinya saja. Kamu juga masih terlalu hijau.  Aku tidak akan melarang rasa yang ada di hatimu. Aku percaya kamu bisa memanajemen hati sehingga rasa yang kau munculkan tak membabi buta.
            Sampai tepat jam sepuluh malam. Kamu harus undur pulang. Ayahmu sudah datang menjemput. Kuantar kamu seperti biasa. Dalam perjalanan kami masih membahas dia, lelaki filosofis itu.
            Setelah kamu pergi, aku pikirkan setiap tanya dan gundahmu. Sayang, kerap tanya dan gundahmu itu hanya mengawang-awang. Aku merasa belum mampu menjawabnya. Aku takut menerjemahkan sesuatu di luar batas kemampuanku.
            Aku sempat memutuskan bertanya pada seseorang. Dia sahabat dunia maya. Terkesan bila menyebutnya sahabat karena dia belum tentu menerima tali persahabatan ini. Setiap aku lihat di sudut kanan layar monitorku ada bulatan kecil berwarna hijau. Di sampingnya tertera namanya, aku merasa ini waktu yang tepat untuk bertanya. Begitu aku siap memainkan jemari pada huruf-huruf yang tertera di keyboard, ketakutan selalu hadir.
            Aku teringat ucapan salah satu temannya. Dia tidak suka perempuan agresif. Kepala dan rasa saat itu sejenak bertolak belakang. Kepalaku berkata aku tidak melakukan apa-apa. Aku tidak merayu atau melakukan apa pun dengan tujuan menggoda. Aku hanya butuh jawaban atas tanyamu yang belum mampu kujawab. Hanya saja rasa berkata lain. Ada ketakutan akan dianggap cari perhatian, alasan agar bisa berbincang dengannya. Bahkan ketakutanku yang terakut adalah jika tanya yang terlontar hanyalah pertanyaan bodoh.
            Setiap akan bertanya dalam hitungan menit aku akan mengurungkan. Hal itu terus berjalan manakala kulihat disudut layar monitorku ada warna hijau dan terpampang namanya. Aku hanya berani melirik dan tak berani memulai. Walau itu hanya sekedar menyapa saja.
            Hari ini, ketika aku sedang membuang segala sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu. Aku temukan selembar kertas berisi rangkaian huruf yang tak rapi. Di sudut kiri tertulis Al Ghasiyah : 21-22. Keberanin untuk bertanya itu muncul.
            Aku tak menduga responnya begitu baik. Dia memberi jawab yang tak pernah kuduga. Begitu jelas dan detail. Aku akhirnya memberanikan untuk bertanya atau berbagi kisah tentang kegelisahan aku dan kamu. Di sela kesibukannya dia mau membaca dan memberi saran. Dia pun memutuskan untuk siap berbagi kisah dan menjawab tanya atau gundah aku dan kamu.
            Aku ingin berteriak di telingamu saat ini. “Hei, aku juga punya teman lelaki filosof!”  Kesadaranku sejenak muncul. Aku putuskan menulisnya di blog ini. Kamu bercerita tentang lelaki filosof, dan kini aku pun bercerita tentang lelaki filosof juga.
            Lelaki filosof yang berkutat dalam background yang sama. “Tahukah kamu?  Ternyata lelaki filosog yang kamu kenal dengan yang kukenal memiliki kesamaan. Latar pendidikan mereka sama. Aku putuskan untuk mengenalkannya padamu. Kamu begitu bersemangat begitu mendengar akan kupertemukan dengannya.
            Aku dan kamu mengurai rencana akhir tahun. Aku, kamu, dan lelaki filosof versimu akan berdiskusi. Di alam terbuka, ditemani gemintang yang bertaburan di hamparan langit malam. Di temani daratan yang menjulang. Ditemani desah angin dan suhu yang dingin.
            Aku, kamu dan lelaki filosof versiku juga akan bertemu untuk berdiskusi. Berjanji bertemu di penghujung tahun. Maka, ketika kamu bertemu dengannya, keluarkan tanya itu, gundahmu. Mungkin dia tak mampu menjawab dengan sempurna. Seperti perkataannya yang saat ini kukutip :
semua orang punya keterbatasan ilmu, hanya pribadi maksum seperti nabi yang ilmu-nya seperti lautan. Karena ilmu tersebut didapat dari zat yang maha luas rahmat dan Kasih-Nya. Oleh karenanya, jawab saja setiap pertanyaan jika sekiranya mengetahui jawabannya. Jika belum tahu, bisa diminta sabar dulu utk mencari literatur terkait persoalan.

            Aku dan kamu punya kisah yang sama terhadap satu sosok yang kita sematkan sebagai lelaki filosofis. Perbedaannya, ketika kamu bercerita tentangnya, ada binar dan ekspresi yang menggambarkan suasana hatimu. Sedangkan aku, mungkin belum berani memakai rasa. Kepalaku berkata kalau aku kagum terhadapnya.
            Aku, kamu, dan lelaki filosofis. Kita berempat dipertemukan dalam ruang dan waktu yang sebenarnya berbeda. Aku dipertemukan dengan lelaki filosofis dalam dimensi maya. Tak bisa saling menyentuh, tapi ditautkan dalam sapa dan rangkai kata. Kamu dengan lelaki filosofis yang lain dipertemukan dalam dimensi sejarah.
            Kali ini aku dan kamu punya cerita di penghujung tahun. Cerita tentang lelaki filosofis. Aku dan kamu tidak dapat memprediksi apa yang terjadi kelak dengan lelaki-lelaki filosofis versi kita. Biar waktu yang menjawabnya.
                                              SENANDUNG LARA PENGHUJUNG TAHUN

 Mentari enggan menampakkan dirinya hari ini. Hal ini justru berbanding terbalik denganku. Hari ini, aku ingin sekali datang ke tempat itu.  Tempat yang selama ini kuhindari. Ada guratan di hati jika aku melihat tempat itu. Tapi kali ini, kekuatan apa yang membuatku memutuskan menuju ke tempat itu.

Aku tahu jika mendatangi tempat itu akan mengoyak luka yang sudah hampir mengering. Hari ini aku seperti menafikkan luka. Bersit yang ada di kepalaku mengatakan “saatnya keluar, menunjukkan keberadaanku kini.” Bersit yang tiba-tiba muncul semakin menguat. Mengajak susunan saraf motoris melangkah berangkat ke tempat itu. Kuhela sejenak nafas, kuambil kemeja merah muda. Kukenakan kemeja itu dan memadankannya dengan celana panjang hitam.

Kemeja merah muda ini kupilih untuk menunjukkan bahwa aku tidak terpuruk. Aku ingin membuktikan aku berani menghadapi mereka.
Sekali lagi kuhela nafas, mematut diri sebelum berangkat. Aku melangkah dengan pasti. Menyusuri jalan yang hampir sebulan ini kujauhi. Bukan bersembunyi, namun sekedar menenangkan rasa. Sejenak menjauh dari tempat ini untuk menghindari bara di hati ini. Berharap bara ini akan meredup bahkan menghilang. Ahh, hari ini bara yang belum redup benar tersebut akan kembali memantik.

Perjalanan menuju tempat itu tidak terlalu jauh. Kutengadahkan kepala, tampak awan hitam memayungi bumi ini. Alam seolah mengerti apa yang berkecamuk di relung ini. Sepanjang perjalanan aku cabuti duri yang berserakan. Duri yang dengan riangnya menancapi telapak kaki. Langkahku kian mendekati tempat itu. Kini luka itu tidak hanya di kaki. Ada tusukan-tusukan pedang yang menghunjam seluruh tubuh. Aku terus melangkah melewati labirin, walau dengan terseok dan berdarah. Siluet tempat itu semakin nampak di mata.

Sesaat aku memandangi siluet tempat itu. Kulihat jalinan besi yang menghubungkan tempatku berpijak dengan tempat itu. Aku akan menyebrang menuju tempat itu dengan seluruh tubuh yang penuh darah. Sejenak aku terpaku, tanganku meraih kain. Kuseka darah di tubuh ini, kemudian membebat setiap luka. Walau terhuyung aku terus melangkah.

Akhirnya aku sampai di tempat itu. Kupandangi pintu gerbang sederhana dan tanah lapangnya. Ada sesuatu yang menghambat rongga pernafasanku. Kelu di bibir ini. Kulafazkan “Bismillahirrahmanirrahim”. Aku utas senyum di bibir.

“Assalamualaikum, Bu!” sapaan itu begitu menenangkan. Kulihat wajah-wajah pemilik sapaan itu. Mereka satu persatu menghampiri dan mencium telapak tanganku. Seperti ada tetesan air es yang menelusup ke dalam setiap organ tubuhku. Begitu sejuk. Kelu itu sejenak menghilang.

“Wa’alaikumsalam,” jawabku. Tubuh-tubuh mungil semakin banyak menghampiriku. “Ibu, kemana aja?” pertanyaan yang hanya mampu kubalas dengan senyuman. Berbagai tanya dari bibir mereka tak mampu kujawab dengan sempurna.

Aku kembali berpijak di tempat ini. Mataku mengarah pada satu ruang. Pintu ruang itu tertutup, menandakan dua kemungkinan. Pertama, ruangan itu kosong. Kedua, ruangan itu terisi orang-orang yang sedang sibuk dan tidak ingin diganggu. Aku dekati ruang itu. Nampak, sesosok lelaki sedang duduk di samping pintu yang tertutup itu.

“Eh, Mbak… cepetan masuk. Lagi rapat tuh!” suara lelaki yang duduk di samping pintu itu membuatku terperangah. “Mbak, kok malah bengong. Udah masuk!”

“Oh, ada rapat ya?” aku hanya mampu berkata seperti itu. Nampaknya aku datang di waktu yang salah. Namun, aku sudah terlanjur datang ke tempat ini. Kembali aku tarik nafas panjang, membuka pintu. Wajah-wajah di dalam ruang itu nampak terperanjat. Hatiku mengumpat, aku tamu yang tak diundang. Bodohnya diriku. Namun, aku berusaha menetralisir keadaan, kubungkukkan badanku, mengucapkan salam dengan menyunggingkan senyuman. Entahlah, apakah mereka tahu, senyum itu palsu.

Selama rapat hatiku tak terkoneksi dengan pimpinan rapat. Di kepalaku saat itu hanya terpikirkan, mungkin inilah saat yang tepat.  Bisa jadi ini merupakan jawaban atas doa-doaku. Pilihan yang kujatuhkan di bulan Juli ternyata belum final. Kala keraguan masih meliputi, Allah menggunakan cara-Nya agar aku menetapkan pilihan ini.

Pilihan yang harus kujalani dengan berbagai konsekuensinya. Semoga bukan pilihan yang didasari oleh emosi belaka. Berharap, Allah menuntunku menetapkan pilihan ini. Aku tak tahu ceritaku ke depan, hanya merencanakan segalanya dari nol.  Semoga tidak menjadikan penyesalan kelak.

“Ya, kebetulan hari ini Ibu datang, mungkin ada yang ingin disampaikan?” suara pimpinan rapat menghentakkan kesadaranku. Aku hanya mengangguk dan melangkah ke depan. Kali ini kutatap wajah-wajah yang hadir dalam rapat itu. Ada beberapa wajah yang tidak kuharapkan untuk kulihat. Wajah-wajah itu membuat luka yang telah kubebat ini seperti tersiram perasan air jeruk. Namun, ada beberapa wajah yang lain. Begitu dekat, begitu kukenal, dan begitu tulus. Mereka semua menundukkan kepalanya.

Ada gemuruh di dada, begitu bertalu. Aku berharap wajah-wajah tulus itu mendongakkan kepalanya. Aku berharap mereka memandangku, sekadar memberi kekuatan. Keberanian justru tidak muncul di diriku. Aku tidak berani menatap wajah-wajah tulus mereka. Aku pun tak mampu menatap wajah-wajah lain yang telah menghunuskan pedang tepat di hati ini. Aku hanya menikmati ruang segi empat yang sebentar lagi akan kutinggalkan. Kunikmati sejenak jendela, pintu, jajaran meja dan kursi. Pandanganku tertumpu pada sepasang meja dan kursi di pojok belakang.

Meja dan kursi yang pernah menemani hari-hariku di tempat ini. Meja yang disesaki oleh buku-buku, tumpukan soal-soal, dan berbagai administrasi pekerjaanku. Meja itu, kini begitu bersih. Folder ungu itu kosong, tak terisi. Kehadiranku rupanya sudah dianggap tak ada. Aku memang sudah tak layak berada di sini.

Kembali kusapu seluruh ruangan ini, sudah tak ada kata yang mampu terucap. Begitu perih, sehingga kerongkonganku tercekat, lidah pun kelu. Aku hanya mampu berkata maaf, selamat tinggal, dan sukses untuk tempat ini. Aku berusaha agar mata ini tidak berair. Namun, semua sia-sia. Aku luruh dalam derai air dari dua mata ini.

Aku mencoba menata rasa, menyalami satu persatu. Namun, kembali mata ini berlinang membasahi pipi saat aku dipertemukan dengan beberapa wajah-wajah tulus. Saat tangan para sahabat terkait erat dalam jabat dan peluk. Tangisku pun buncah. Merekalah yang pernah memberiku kekuatan di saat aku lelah. Memberiku bahagia, menghibur saat aku berduka. Para sahabat yang menemani hariku mengukir makhluk-makhluk bernyawa yang kami sebut ‘peserta didik’.

Hampir tujuh tahun, bukan waktu yang pendek bagiku untuk berproses. Perjalanan dari 2007 hingga 2013 kurasa cukup untuk membangun mimpi menjadi nyata. Namun, asa itu ternyata tidak tepat kubangun di tempat ini.  Aku seperti membangun istana pasir di pinggir pantai. Kapan pun sang ombak bisa melimbur bangunan istana yang kubuat. Tidak hanya berantakan atau menyisakan puing tapi rata, kembali menjadi hamparan pasir.

Saat terakhir aku menjatuhkan pilihan ini kucoba nikmati hembusan udara di tempat ini.  Setiap sisi bangunan yang sempat begitu akrab menemaniku berproses. Sapaan mereka yang setiap tahun silih berganti datang dan pergi. Wajah-wajah lugu terbungkus dalam berbagai pembawaan dan karakteristik, mungkin tak dapat kusentuh lagi.

Aku melangkah keluar dari pintu ruang ini. Ada sedikit rongga yang membuatku dapat bernafas. Walau jujur, tak mampu menutupi luka yang telah kucoba bebat. Salah satu wajah-wajah lugu menghampiriku. Mengenggam erat telapak tanganku.
“Ibu, mau kemana?” aku tak mampu berkata-kata. Kupaksakan untuk tersenyum walau justru semakin membuat luka ini melebar. Beberapa di antara mereka menghampiriku. Aku tak berani menatap mereka.
Aku hanya mampu berkata, “Semua harus rajin belajar, tetap semangat!” Aku mencoba mengais-ngais kekuatan yang kupunya agar tidak menangis.

“Ibu, mau pindah ya? Ibu kenapa pindah?” Pertanyaan yang sudah tak mampu kujawab. Aku berusaha berjalan. Mereka mengikutiku dengan tubian pertanyaan yang sama. Mereka berusaha menahanku. Salah satu siswa merengkuhku, memeluk tubuhku. Dia menangis.
“Ibu jangan pindah! Jangan tinggalin aku!” Aku tak mampu berucap. Satu persatu dari mereka mulai menangis. Aku dekap mereka, lirih berkata, “Kalian harus tetap semangat belajar.”
Aku berusaha melepaskan diri dari kerumunan mereka. Berjalan, dengan mata yang sembab. Berjalan dengan menyisakan lara. Aku tak mampu menatap wajah mereka. Wajah-wajah lugu itu kutinggalkan dengan segudang tanya yang tak mereka temukan jawabnya. Hatiku hanya mampu berkata, “Selamat tinggal anak-anakku. Kita hanya berpisah raga. Setidaknya ada guratan yang kutinggalkan di diri kalian. Sedikitnya aku telah mengukir sesuatu pada kalian.”

Di penghujung tahun 2013 mungkin ujung kisahku di tempat ini. Banyak kenangan, dan entahlah apakah ini akan jadi kenangan indah atau kisah kelabu perjalananku. Hanya sedikit yang menyesakkan. Aku tidak mau pergi dengan cara seperti ini. Pergi dengan membawa guratan luka, kepingan mimpi yang tak mampu kubawa bahkan kugenggam. Pergi dengan meninggalkan rasa yang tak sepantasnya kubawa dan membentuk satu kata ‘TRAUMA’.

Akhir tahun 2013 mungkin menjadi titik balik bagiku untuk melangkahkan kaki, memantapkan langkah. Mimpiku mungkin bukan di sini. Mimpiku mungkin di tempat lain. Aku yakin tidak mudah membangun kembali sesuatu yang pernah dimiliki. Aku tahu sulit membangun kembali dari nol. Mungkin butuh perjuangan berlipat ganda. Namun, aku harus yakin ada Allah yang menemani setiap langkahku. Jadi untuk apa takut membuat keputusan besar ini?

Aku anggap ini saat tersulit dalam perjalanan hidupku. Terperosok atau bahkan aku terjun bebas ke jurang yang begitu dalam. Awal tahun depan, aku harus mempersiapkan diri, melangkah satu demi satu. Naik dari jurang untuk kembali ke atas. Bisa jadi aku akan tergelincir, tapi itulah kehidupan. Mimpi itu masih ada. Aku akan cari, ambil satu persatu untuk kubentuk kembali puing-puing asa. Aku akan tetap bersenandung walau dalam lara. Aku teringat slogan yang kudapat saat kuliah. Slogan yang kudapatkan dari salah satu organisasi ekstra kampus tempat aku pernah bernaung. “Yakin Usaha Sampai”  Insya Allah. Bismillahirrahmanirrahim….

Jumat, 29 November 2013

Merajut Cita



        Mimpiku sejak kecil bersekolah setinggi mungkin. Tidak hanya terhenti di sekolah menengah atas. Cita-cita terbesarku adalah menjadi guru. Tak peduli apa kata orang tentang guru, bagiku cukup menjadi guru, itu saja. Kembali ke masa kanak-kanak, saat itu ketika orang-orang bertanya aku ingin jadi apa jika dewasa kelak, maka dengan keyakinan kukatakan “Aku mau jadi guru!”
Anehnya reaksi yang kudapatkan adalah komentar yang menurutku negatif. Dulu aku tidak pernah mengerti mengapa orang-orang bersikap seperti itu. Sekarang baru aku paham mengapa mereka bereaksi seperti itu.
“Mau jadi guru? ya ampun kenapa gak jadi dokter, sekretaris, direktur, kerja di bank, arsitek, atau yang lain deh, asal jangan guru!” komentar Mak Ujang. Lain lagi komentar Pak Narto, “Gaji guru kan kecil Rin, mbok yang lain aja. Udah gajinya kecil terus kamu bisa ditempatin di daerah transmigrasi, pelosok.”
Semakin tak kupahami maksud mereka semakin besar keinginanku menjadi guru. Namun, semakin besar aku dibentrokan pada realitas kehidupan. Kemiskinan sepertinya melarang tergapainya cita-cita. Bisa sekolah sampai tingkat menengah atas saja merupakan hal yang patut disyukuri.
Owalah, Nduk kamu bisa sekolah aja udah bagus. Kok masih punya keinginan yang aneh-aneh.” Saat ibuku berkata seperti itu, rasanya separuh cita yang kubangun menghilang. Aku dihadapkan pada kenyataan, dan harus tahu diri. Perkataan itu disampaikan ibu saat aku duduk di bangku SMP kelas tiga. Kala aku meminta persetujuan ibu untuk masuk ke SMA favorit. Sontak ibu tidak menyetujuinya, menurut ibu kalau aku melanjutkan ke SMA harus kuliah. Sedangkan jika aku melanjutkan ke sekolah kejuruan pasti aku memiliki keterampilan sehingga peluang bekerja setelah lulus sangat besar.
Aku dihadapkan pada pilihan melanjutkan sekolah tapi tidak aku sukai atau berhenti sampai di sini. Pilihan yang ibu berikan padaku. Sulit tapi dari situlah ibu memperlihatkan makna hidup. Pilihan, hidup adalah sebuah pilihan. Akhirnya dengan berat hati kuputuskan melanjutkan ke SMK, daripada tidak bersekolah. Cita-citaku untuk kuliah menguap bahkan hampir menghilang.
Di kepalaku tidak ada lagi nama-nama universitas, yang ada justru daftar perusahaan yang siap menampung bekerja setelah lulus nanti. Pintu untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi seolah tertutup. Tapi, semangatku tidak bisa dipadamkan begitu saja. Ketika masih ada celah maka aku memberanikan diri untuk mengintipnya. Sekadar mengintip namun tidak berani memasukinya .Keterampilanku pun terolah selama berproses di sekolah menengah kejuruan.
Semangat untuk melanjutkan ke perguruan tinggi kembali membuncah ketika guru BP mengatakan bahwa siswa SMK juga bisa kuliah. Setiap melewati ruang BP selalu saja kulirik ruang itu. Berharap guruku melihat dan memanggil. Berharap kesempatan untuk bertanya bagaimana caranya agar bisa menjadi guru. Tapi kembali aku harus sadar diri. Kakiku terhenti hanya sampai di depan ruang BP, kemudian melangkah mundur. Terngiang ucapan ibuku. Teringat masih ada tiga orang adikku yang masih bersekolah dan butuh biaya juga.
Tuhan tidak tuli, tidak bisu, dan tidak buta. Aku setuju sekali dengan ungkapan itu. Setiap mimpi pasti akan menjadi nyata jika kita berani untuk terus menghidupkannya. Mimpi berbeda dengan khayalan. Mimpi itu nyata, bisa diwujudkan jika kita mau berusaha dan tidak memadamkannya. Sedangkan khayalan itu semu, dia terlihat indah sehingga kita tidak pernah mau bangun bahkan akan marah jika kita disadarkan. Mimpi itu adalah berani bangun, melakukan tindakan, bergerak, dan mau berpindah, sehingga akhirnya dia bisa menjadi nyata. Khayalan itu duduk termangu, terdiam, terpesona pada gambaran semu, dan tetap berdiri di tempat yang sama. Itu terjadi pada diriku.
Mimpi itu bisa kuwujudkan. Allah memberikan jalan-Nya. Pintu itu tidak lagi tertutup bahkan aku bisa memasuki pintu itu. Reformasi 1998 bagi bangsa Indonesia menjadi catatan sejarah runtuhnya sebuah rezim setelah 32 tahun berkuasa. Bagiku tahun 1998 juga menjadi catatan sejarah hidupku. Aku bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Berbekal sedikit informasi dari guru BP, aku ikut Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru.
Berbekal uang sekolah yang kusimpan selama dua tahun, kuberanikan diri membeli formulir UMPTN[1]. Sejak kelas dua aku memang tidak pernah membayar SPP. Jadi uang yang diberikan orang tuaku bisa ditabung. Selama dua tahun aku mendapatkan beasiswa. Semua kebutuhan pendidikanku gratis. Bukan hanya SPP, buku pelajaran, seragam, keperluan praktik semua tidak dibebankan pada orang tuaku. Orang tuaku pun sudah mengetahuinya, namun Bapak tetap merasa bertanggung jawab. Jika memang ada uang lebih maka Bapak memberikan jatah SPP padaku. Kini bekal itulah yang akhirnya mampu mengantarkanku menempuh pendidikan sampai perguruan tinggi.
“Rin, sekarang ibu mau tanya kamu mau pilih perguruan tinggi negeri yang favorit atau yang penting kuliah di negeri?” tanya Bu Widya, guru BP.
“Saya tidak tahu Bu, yang penting saya bisa jadi guru dan kuliah di perguruan tinggi negeri. Ibu kan pernah mengatakan kalau kuliah di perguruan tinggi negeri peluang mendapatkan beasiswanya besar. Ibu tahu kan kondisi keluarga saya?” jawabku.
“Okey, sekarang kamu minatnya di mana? Pelajaran apa yang kamu kuasai? Masalahnya Rin, saingan kamu bukan hanya anak SMK tapi juga anak SMA negeri dan swasta. Bukan cuma di Jakarta sainganmu tapi seluruh Indonesia.”
“Saya mau jadi guru Bu. Katanya kalau mau jadi guru ya kuliah di IKIP. Jadi saya mau ngambil IKIP aja. Saya suka pelajaran Bahasa Inggris dan Alhamdulillah nilai-nilai bahasa Inggris saya bagus Bu. Ya, saya paham saingannya banyak. Terus IKIP mana yang harus saya pilih Bu?”
“Sekali lagi Ibu tanya, yang penting diterima di negeri kan?”
“Ya, Bu!”
“Dengan kemampuanmu, dan saingan yang agak berat kamu ambil luar Jawa aja. Rin.berani gak ambil di Papua atau Kalimantan?”
“Wah, enggak ah Bu, saya takut. Bapak nyuruh ke Yogya aja sih Bu. Kata Bapak biar gak terlalu mikirin biaya hidup.”
“Oh, begitu.Bagaimana kalau ambil Unsoed di Purwokerto. Sepertinya kamu bisa tembus ke sana. Nah, ini kan ada dua pilihan Rin, satu lagi kamu ambil mana?”
“Saya mau ambil IKIP Jakarta dan IKIP Yogya aja deh Bu.”
“Ya, sudah. Sepertinya kamu mampu kok Rin. Tapi di Yogya udah gak IKIP Rin. Tuh liat, di daftarnya gak ada. Tapi memang wacananya IKIP mau berubah jadi universitas sih. Jadi tetep manteb milih Jakarta dan Yogya nih? Ya sudah Ibu doakan kamu berhasil. Belajar, berdoa, tawakal.”
“Iya Bu, Bismillah.” Aku pun pamit pulang. Kucium tangan guruku. Dengan bekal informasi dari Bu Widya maka aku memilih dua perguruan tinggi negeri di Jakarta dan Yogyakarta.
Saat yang dinanti tiba. Pagi itu aku dengan Maya teman satu sekolah berniat ke Senayan untuk melihat pengumuman kelulusan. Namun, entah mengapa di tengah perjalanan Maya membatalkan rencana itu. Akhirnya kami membeli satu surat kabar yang memuat pengumuman kelulusan masuk perguruan tinggi negeri.
“Gue yakin enggak diterima deh Rin, jadi males ke Senayan.” Ujar Maya.
“Ye, kita kan niatnya mau ngelaba, nyari gebetan mahasiswa-mahasiswa yang keren, pinter, and cakep May, gak jadi dong kita cuci mata?”
Sebenarnya bukan hanya Maya yang pesimis dengan hasil seleksi tersebut. Aku juga tidak percaya diri. Jadi aku tidak terlalu memaksa Maya untuk ke Senayan. Kami membeli surat kabar “Suara Karya” dengan bersegera membawanya ke rumahku. Selama perjalanan menuju rumah, kami tidak berani membuka halaman pengumuman tersebut. Kami mungkin merasa khawatir. Jantungku berdebar tak karuan. Semakin mendekat ke rumah debaran itu semakin menguat. Aku dan Maya yang membuka halaman demi halaman pengumuman. Kakakku turut membantu. Mata kami menyapu satu persatu angka-angka dan huruf-huruf yang mencetak nama-nama peserta ujian yang lulus. Dengan harap-harap cemas kami teliti satu persatu deretan angka dan huruf itu.
“Rin, nama elu ada!” teriak kakakku, Mas Aji. “Elo diterima di UI.” Serentak aku dan Maya menghampiri kakakku.
“Gak mungkin Mas gue diterima di UI. Gue kan gak daftar di UI. Berarti bukan gue itu.” Apa yang kukatakan beralasan. Kulihat Maya sudah tidak bersemangat. Dihempaskan tubuhnya ke kursi. Aku pun mengikutinya. Kusandarkan tubuh ini di kursi juga. Mas Aji mengambil pulpen dan penggaris. Dia nampak begitu bersemangat.
“Rin, mana kartu ujian elo? Gue mau liat nomor ujian elo.”
Kuberikan kartu ujian kepada Mas Aji. Kulihat dia mencocokkan nomorku dengan angka-angka yang tertera di surat kabar itu. Kemudian dia menggarisnya.
“Bener, ini elo Rin.ini nama elo. Nomornya juga sama. Sini kalau gak percaya liat sendiri!” Mas Aji melambaikan tangannya memanggilku. Aku pun mendekati meja. Mas Aji mengacak-acak rambutku. Dengan debaran yang semakin menguat aku melihat pengumuman itu. Aku terlonjak, tak percaya, sekali lagi kucocokkan nomor ujianku dengan nomor yang tertera di surat kabar itu. Kucocokkan nama yang ada di kartu ujian dengan nama yang tertera di surat kabar itu. COCOK, tertera nomor ujianku 298-21-20124, namaku Tripamada Kushrini, dan kode jurusan universitas 458846. Benar, aku diterima di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, di Yogyakarta.
Alhamdulillah, May, gue diterima.” Dengan suara bergetar aku berkata pada Maya. Mataku yang semula berkaca-kaca mulai mengeluarkan bulir-bulir air. Kebahagiaan membuncah. Kupeluk Maya, segera kuraih surat kabar ini. Ingin berlari menyampaikan pada Bapak, tapi beliau sedang bekerja. Aku berlari mencari ibuku yang sedang berdagang. Ibuku menangis, dengan mengucap Alhamdulillah, diraihnya tubuhku dipelukannya. Mas Aji dan Maya yang mengikuti dari belakang tersenyum. Hari itu tepat di hari Jumat, 31 Juli 1998 aku tuliskan besar-besar dalam buku harianku sebagai hari yang bersejarah. Menjadi salah satu momen bersejarah dalam hidup, kutorehkan sebagai pencapaian awal asaku menggapai cita-cita.
Yogyakarta, akhirnya aku datang, ucapku dalam hati. Tempat yang tak pernah kubayangkan. Ditemani bapak aku mendaftar ulang. Kulihat kampus yang kelak akan menempaku menjadi sosok yang kuinginkan ‘GURU’. Kini aku berdiri di depan gedung yang besar. Biasa disebut auditorium. Di auditorium itu bertengger spanduk berukuran besar menjulang tinggi menyambut kami. Di depan pintu masuk auditorium itu berjajar meja bertuliskan fakultas dan jurusan. Para panitia penerimaan mahasiswa baru itu nampak sibuk menuliskan dan memberikan seperangkat buku pedoman penerimaan mahasiswa baru. Aku setengah tidak percaya, kucubit lengan, pipi kutampar pelan, memastikan apakah aku sedang tidur atau tidak. Aku akan menjadi mahasiswa. Senyum mengembang dari bibirku.
Perjalanan hidupku akan dimulai dari sini, dari  Yogyakarta. Di kampus inilah aku ditempa .Di kampus inilah aku pernah kecewa, menjadi orang kalah bahkan pecundang. Di kampus ini pula aku belajar bangkit .Di kampus inilah aku berjuang mewujudkan mimpi kecilku. Di kampus inilah aku menjemput hidayah. Akhirnya di kampus inlah aku berhasil menjadi sarjana. Di kampus inilah aku membuat kedua orang tuaku bangga. Terngiang ucapan bapak,”Walaupun Bapak dan Ibumu enggak sekolah, orang bodoh, tapi Bapak mau kalian semua jangan jadi orang bodoh. Kalian harus sekolah. Cukup kamilah yang bodoh, cukup kamilah yang miskin .Kalian harus lebih baik dari kami!”
Perjuangan dimulai di kota ini. Kota yang dikenal dengan sebutan ‘Kota Pelajar’. Dari sinilah titik nol perjuanganku merajut cita. Berpisah dengan orang tua. Belajar menjadi manusia dewasa yang mandiri. Perjuangan yang tak mudah, dan di Yogyalah aku mendapatkan kejutan-kejutan. Kadangkala beberapa kejutan itu seperti bom yang meledak, meninggalkan jejak repihan-repihan cerita yang kini tercatat sebagai sejarah hidupku.
                             (Dikutip dari Novel Repihan Kisah, Satu Mozaik, sub judul : Merajut Cita di Yogyakarta)


[1]Singkatan dari Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Sempat beberapa kali mengalami pergantian istilah. Sebelumnya bernama Sipenmaru, kemudian UMPTN, SPMB, dan sekarang bernama SNMPTN.